Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 121



Di bawah 21+ dilarang baca dan yang gak suka skip aja 🙏


Arselo yang sudah mulai terpejam, seketika membuka matanya saat ia mendengar Safira memanggilnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat siluet tubuh seorang wanita di antara cahaya remang-remang kamar hotel itu. Arselo segera bangkit dan mendudukkan tubuhnya, ia masih tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat saat ini.


Safira, wanita cantik yang kini sudah sah menjadi istrinya, sedang berdiri malu-malu dengan memakai ling*rie seksi warna peach, sangat cocok dengan kulit putihnya. Arselo mengerjap beberapa kali untuk memastikan penglihatannya.


"Sa–sayang?" panggil Arselo yang tiba-tiba gugup sambil melangkah menghampirinya.


Safira semakin menunduk saat Arselo semakin mendekatinya. "Kamu sangat cantik, sayang. Kukira tadi hanya khayalan saja," ucapnya sambil menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya.


"Hmmm, terima kasih, El," jawab Safira malu-malu.


Tanpa menunggu lama lagi, Arselo mulai memeluknya. Dengan perlahan, ia mulai mendekatkan wajahnya untuk menggapai bibir mungil sang istri. Cukup lama mereka berciuman sampai akhirnya tautan itu terlepas karena Safira yang kehabisan nafas.


Setelah cukup mengambil oksigen kembali, mereka pun melanjutkan tautan yang tadi terlepas, Arselo juga segera menggendong Safira untuk ia bawa ke atas tempat tidur tanpa melepaskan tautannya.


Keduanya saling menikmati setiap detiknya, Arselo pun mulai menjalankan tangannya untuk meraih benda kenyal yang menjadi favorit Divya saat ini tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik istrinya itu.


Lama-kelamaan, Safira terbuai, ia menikmati setiap sentuhan yang Arselo berikan padanya. Saat Arselo sudah semakin ber*****, ia pun meminta izin pada Safira.


"Bolehkah aku melakukannya?" tanya Arselo dengan menatap sayu wajah istrinya.


Safira juga dalam keadaan yang sama dengan Arselo saat ini, ia pun hanya mengangguk untuk menyetujuinya.


Arselo tersenyum saat ia sudah mendapat persetujuan dari Safira, tanpa menunggu lama lagi, Arselo segera mulai memimpin permainannya.


Suasana lampu temaram dengan lilin aromaterapi semakin membuat ruangan itu terkesan romantis. Arselo benar-benar bahagia di buatnya, begitupun dengan Safira, yang awalnya malu-malu, kini ia juga menunjukkan sikap agresif.


Mereka melakukan hal itu hingga beberapa kali, sampai akhirnya kedua orang itu kelelahan dan tertidur bersama dengan Safira yang berada di atas Arselo.


***


Pagi menjelang, raut wajah Arselo kini terlihat lebih segar, sedangkan Safira malu-malu meong. Setelah pagi tadi mereka mandi bersama, Arselo pun kembali meminta tambahan jatahnya, padahal tadi malam mereka melakukannya hingga beberapa kali.


Beruntung saat waktu sembahyang tiba, mereka tidak sampai kesiangan.


"Sayang, lebih baik kita sarapan di sini saja, ya?" tanya Arselo yang melihat Safira sedikit kelelahan akibat ulahnya.


"Hmmm, baiklah, El. Terserah kamu saja, aku sangat lelah dan mengantuk," jawab Safira yang sedang berada di pelukannya.


"Baiklah, maaf karena membuatmu kelelahan dan terima kasih. Aku sangat menyukainya," bisik Arselo tepat di telinga Safira.


Wajah Safira kembali memerah saat merasakan hembusan nafas Arselo yang mengenai kulit pipinya. "Hmmm, sama-sama, El. Aku juga menyukainya," jawab Safira pelan karena ia pun merasa malu.


Arselo mengacak kecil rambut Safira dan berkata, "Kamu sangat menggemaskan. Membuatku ingin kembali memakanmu," godanya.


Safira semakin mengeratkan pelukannya di dada Arselo, ia bahagia sekaligus malu di saat yang bersamaan.


"El, kapan kita check out dari sini? Aku sangat merindukan anak-anak," ucap Safira untuk mengalihkan perhatian Arselo dan juga mengungkapkan perasaannya saat ini yang sedang merindukan keempat anaknya.


"Kita akan check out sekitar jam sepuluh pagi ini, jika kamu masih merasa kelelahan dan mengantuk, istirahat saja dulu sekarang, nanti aku akan membangunkan mu," ucap Arselo sambil membenarkan selimut yang sedang mereka pakai.


Tak lama kemudian petugas hotel pun membawa sarapan mereka, Arselo segera bangkit dari tidurnya untuk mengambil makanan pesanannya.


"Silakan, Tuan," ucap waiters itu sambil memberikan troli makanan pada Arselo.


"Terima kasih," jawab Arselo sembari menerima troli makanan itu.


"Sayang, kita sarapan dulu," ajak Arselo.


Safira pun bangkit dari tidurnya dan duduk di sofa untuk menikmati sarapan mereka. Saat mereka masih sedang menikmati sarapannya tiba-tiba ponsel Arselo berdering nyaring.


"Siapa?" tanya Safira saat Arselo sudah mengambil ponsel yang berada di dekat tempat tidur.


"Mama. Mungkin anak-anak sudah merindukan kedatangan kita," jawab Arselo sambil menerima panggilan itu.


Ternyata panggilan itu merupakan video call, dengan segera Safira pun merapikan rambutnya menggunakan jari, sebelum akhirnya ikut bergabung bersama Arselo yang sudah menyapa anak-anak.


"Halo anak-anak Mama dan Papa," sapa Safira.


"Halo, Ma. Mama dan Papa kapan pulang? Kata Oma dan Opa kalian habis bekerja ya?" tanya Dayyan.


Safira menatap Arselo sekilas, ia bertanya melalui tatapan mata, Arselo yang mengerti tatapan tanya istrinya pun segera menggeleng dengan cepat.


"Mama siang ini juga pulang, kalian di sana tidak membuat Oma dan Opa repot, kan?"


Ketiga anak itu pun langsung menggeleng dan menjawab, "Kami sama sekali tidak nakal, Ma."


Safira tersenyum mendengar jawaban dari anak-anaknya. "Iya, sayang. Mama percaya pada kalian."


"Oh, iya. Adik mana, Kak?" tanya Safira yang tidak melihat keberadaan Divya bersama mereka.


"Adik sedang tidur, Ma. Tadi malam dia tidur larut," jawab Qirani.


"Okelah, Mama dan Papa akan pulang sebentar lagi. Kalian tunggu, ya," ucap Safira pada anak-anaknya yang langsung diangguki oleh mereka bertiga.


Setelah itu, Safira dan Arselo pun segara berkemas untuk kemudian check out dari hotel itu.


"Sayang, kenapa jalan mu aneh seperti itu?" tanya Arselo yang terheran karena cara berjalan Safira sedikit berbeda dari biasanya.


"Kamu masih berani bertanya seperti itu, El?" tanya Safira dengan kesal, "Ini semua karena ulah mu," sambungnya sambil berlalu meninggalkan Arselo menuju kamar mandi untuk mengganti baju di sana.


"Apa aku sekasar itu? Seingat ku, aku sudah melakukannya dengan lembut," batin Arselo yang menolak disalahkan oleh Safira.


Tak lama kemudian, Safira pun keluar dari kamar mandi itu masih dengan menekuk wajahnya. Arselo segera menghampirinya untuk meminta maaf. "Sayang, apa masih sakit? Aku minta maaf jika sudah membuat mu tidak nyaman seperti itu," sesal Arselo.


"Hmmm ... Sudahlah, nanti juga akan sembuh sendiri, tapi untuk sementara seminggu kedepan kamu jangan mendekati ku dulu," ucap Safira sambil tertawa puas dalam hatinya, saat melihat Arselo yang terkejut atas ucapannya.


"Sa–sayang, kamu sedang bercanda, kan?" tanya Arselo tidak percaya.


"Aku serius, El," jawab Safira. "Serius mengerjai mu," sambung Safira dalam hatinya. Tidak mungkin dia berkata yang sebenarnya saat ini. "Mudah-mudahan saja aku tidak berdosa, karena sudah jail terhadapnya," batin Safira. Ia hanya ingin beristirahat saja untuk sementara waktu.


Arselo menatap Safira tidak percaya, ia pun segera mengambil ponselnya dan meminta Sofyan membelikan obat untuk Safira.


"El, kamu telpon siapa?" tanya Safira yang melihat Arselo menyimpan kembali ponselnya.


"Tidak ada, aku hanya menelpon Sofyan saja."


"Oh, apakah Sofyan akan menjemput kita di sini?"


Arselo menggeleng dan berkata, "Dia tidak akan menjemput kita, Sayang."


Setelah selesai berkemas, merek pun segera melangkah keluar kamar dengan bergandengan. Lebih tepatnya, Arselo yang menggenggam tangan istrinya.