Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 41



Pagi ini ini Safira sedikit kerepotan pasalnya salah satu anaknya terkena demam dan sedikit rewel, meski begitu tapi Safira sedikit terbantu karena adanya Anisa yang bersedia untuk menjaga Dayyan dan Qirani, anak-anak itu pun tidak keberatan jika Anisa yang membantu menyiapkan semua keperluan sekolahnya.


"Mama, apa Abang Rai akan libur sekolah dulu?" tanya Qirani yang masih melihat Raiyan memakai piyama sedangkan dia dan kakaknya Dayyan sudah berganti dengan seragam sekolah mereka.


"Iya sayang abang Rai kan lagi sakit, jadi abang nggak masuk sekolah dulu, dia akan berobat bersama mama dan beristirahat di rumah. Qiran gak apa-apa kan kalau mama rawat Abang Rai dulu?" tanya Safira.


Qirani pun mengangguk setuju "Iya gak apa-apa mah Qiran sama Abang Dayyan bisa berangkat bersama mbak Anisa" jawab Kirani "Semoga abang cepat sembuh dan bisa bermain lagi bersama kami" ucap Qirani pada Raiyan yang ada di pangkuan mamanya. Raiyan pun mengangguk membenarkan perkataan adiknya.


Hari ini Safira tidak bisa ke restoran dulu dia pun menghubungi Abizar dan memberitahukan keadaan Raiyan yang tengah demam.


"Abang, maaf hari ini aku enggak bisa ke restoran dulu. Karena Raiyan tiba-tiba demam tinggi tadi pagi" ucap Safira setelah sambungan telepon terhubung.


"Raiyan kenapa bisa demam? Apa karena kemarin dia terlalu kelelahan bermain di taman?" tanya Abizar dengan nada khawatir.


"Ya, sepertinya begitu bang. Apa abang tahu letak dokter anak terdekat di daerah sini?" tanya Safira yang belum terlalu mengenal daerah tempat tinggalnya.


"Kamu tunggu dulu di sana, jangan kemana-mana. Biar Abang datang ke sana secepatnya, akan abang antarkan kalian. Lalu bagaimana keadaan Dayyan dan Qirani? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Abizar cemas.


"Alhamdulillah, mereka baik-baik saja bang, hanya Raiyan saja yang demam" jawab Safira.


"Baiklah, aku ke sana sekarang" ucap Abizar sebelum memutuskan sambungan telponnya.


Safira menarik nafas yang dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.


"Fira, kamu kenapa nak?" tanya ni Eti yang datang dari arah dapur membawa mangkuk dan untuk mengganti kompresan milik Raiyan.


"Fira nggak apa-apa ni, hanya saja Abang Abi akan datang ke sini untuk menjemput kami. Padahal Abang bisa memberikan alamat klinik dokter anak terdekat dan tidak perlu mengantar kami agar tidak menghambat pekerjaannya" terang Safira pada ni Eti.


Ni Eti tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan mendengar penjelasan Safira.


"Fira, jika seperti itu tandanya Abizar sangat menyayangi dan menghawatirkan kalian, dia tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada kalian, karena Nini sangat mengenalnya" ucap ni Eti.


Safira tertegun mendengar ucapan ni Eti, dia bukannya tidak peka dengan semua sikap yang Abizar tunjukkan terang-terangan padanya, hanya saja hatinya masih perlu waktu untuk menerima semua perasaan Abizar. Dia merasa insecure dengan keadaanya saat ini, Safira selalu berfikir jika Abizar lebih baik mencari wanita lain yang lebih baik dari dirinya.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, biarkan semua itu mengalir dengan alami, nini juga sangat menghargai keputusan mu, Fira" ucap ni Eti lagi lang melihat raut sendu wajah Safira.


Tok...tok...tok....


Pintu di ketuk dari luar, Safira dan ni Eti merasa heran dan saling pandang.


"Gak mungkin itu Abang kan ni? Perjalanan abang ke sini lumayan jauh lho, dan ini baru lima belas menit yang lalu aku telpon Abang" terang Safira pada ni Eti.


"Nini juga gak tau Fir. Anisa kan sudah berangkat tadi, masa pulang lagi? Apa ada yang ketinggalan ya?" tanya ni Eti.


"Gak tau ni, biar Fira bukakan pintu dulu" ucap Safira seraya menurunkan Raiyan dari pangkuannya, setelah Safira menurunkan Raiyan, ia pun berjalan menuju pintu.


Ceklek


Safira membuka pintu dan dia melihat punggung seorang laki-laki tengah berdiri di luar pintu rumah itu.


"Maaf, cari siapa ya?" tanya Safira pada laki-laki itu.


Arselo mendengar Safira bertanya seperti itu pun segera membalikan badannya.


"Maaf, mengganggu pagi-pagi. Apa anak-anak sudah berangkat ke sekolah?" tanya Arselo.


Mulai hari ini berniat untuk selalu mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, dia tidak mau jika anak-anaknya akan menjauhinya lagi setelah kemarin mereka bisa bermain bersama. Meskipun itu hanya berlaku untuk Raiyan karena Dayyan dan Qirani masih sulit untuk di dekati.


"Aku ingin mengantar anak-anak ke sekolah, apa boleh?" tanya Arselo dengan harap.


Mendengar permintaan Arselo, Safira hanya bisa menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya perlahan.


"Dayyan dan Qirani sudah berangkat bersama Anisa, sedangkan Raiyan dia sedang demam, mungkin karena terlalu kelelahan bermain kemarin" jawab Safira.


Mereka masih di luar rumah, dengan Safira berada di depan pintu dan Arselo di hadapannya, Safira tak berniat untuk menyuruh Arselo masuk ke rumah itu, jadi dia hanya membiarkan laki-laki itu berdiri di hadapannya.


"Maksud mu, apa Raiyan sedang sakit?" tanya Arselo merasa cemas.


Safira mengangguk. Sebelum Safira menjawab pertanyaan Arselo, ni Eti datang dari dalam rumah.


"Nak Elo, ada perlu apa pagi-pagi sudah ke sini?" tanya ni Eti.


"Saya mau menjemput anak-anak ni, saya mau berangkat bareng bersama mereka" jawab Arselo pada ni Eti.


"Silahkan masuk dulu nak El" ucap ni Eti mempersilahkan Arselo untuk masuk ke rumahnya.


Safira mau tak mau akhirnya menyingkirkan tubuhnya dari pintu dan membiarkan Arselo masuk ke rumah mereka.


"Silahkan duduk dulu nak El!" ucap ni Eti saat mereka sudah masuk dan berada di ruang tamu.


Arselo pun duduk di sofa itu, dengan ni Eti sedangkan Safira masuk ke ruangan lain menuju dapur untuk menyuruh bibi membuatkan minuman untuk Arselo.


"Ni, Fira bilang jika Raiyan sedang sakit ya?" tanya Arselo pada ni Eti.


"Iya nak El, Raiyan sedang demam, mungkin karena kemarin terlalu kelelahan" jawab ni Eti.


Tak lama kemudian Safira datang dengan Raiyan di gendongannya.


"Apa Raiyan sudah di bawa berobat?" tanya Arselo.


"Belum, kami sedang menunggu Abizar datang kemari" jawab ni Eti.


"Papa...?" panggil Raiyan di gendongan Safira.


"Mama, mau di gendong papa" pinta Raiyan pada mamanya.


Safira pun menurunkan Raiyan dari gendongannya, dengan perlahan ia melangkah menuju Arselo duduk.


Setelah sampai di hadapannya, Arselo langsung menggendong Raiyan. Arselo bisa merasakan panas dari suhu tubuh Raiyan. Dengan pelan Arselo menimang-nimang tubuh Raiyan hingga anak itu tertidur kembali.


Tak lama kemudian datanglah Abizar dengan langkah tergesa dan raut wajah cemas,


"Abang sudah sampai?" tanya Safira yang melihat kedatangan Abizar.


Abizar pun mengangguk dan tersenyum.


"Dimana Raiyan? Dan mobil milik siapa yang berada di depan?" tanya Abizar.


Sebelum masuk tadi dia sempat melihat satu mobil terparkir di depan gerbang rumah Safira.


"Itu mobil milik Arselo, bang" jawab Safira.