
Saat pulang dari taman Safira terlihat murung dan lebih banyak diam, hal itu membuat Abizar tidak tenang dan tidak nyaman.
"Fir, apa kamu baik-baik saja?" tanya Abizar dengan khawatir.
Safira tidak menjawab pertanyaan Abizar, dia hanya mengangguk kepalanya pelan dan membuang tatapannya keluar jendela mobil.
Kepulangan mereka dari taman itu karena permintaan Safira, padahal anak-anak masih ingin berada di sana akan tetapi Safira sudah merasa tidak nyaman apa lagi dia melihat laki-laki itu berbicara ramah dengan Raiyan.
Terlalu banyak ketakutan yang kini Safira rasak.an, dia takut anak-anaknya kan pergi dengan Arselo saat mereka tahu tentang siapa papahnya.
Katakan saja dia egois karena dia belum mengizinkan Arselo untuk menemui anak-anaknya karena dia tidak ingin anak-anak pergi meninggalkannya, dia juga belum siap jika semua kebenarannya terungkap.
Suasana di mobil sangat lah hening, anak-anak yang tertidur karena lelah setelah berlarian di taman, di tambah Safira yang moodnya down setelah melihat interaksi Arselo dan Raiyan tadi.
Abizar berusaha untuk terus fokus mengendarai dan tidak melamun karena bosan, perjalanan pulang serasa lebih lama karena suasananya berubah. Dia ingin cepat-cepat sampai ke rumah agar bisa bertanya mengenai laki-laki yang tadi berbicara dengan Raiyan.
Setelah menempuh perjalanan yang membosankan mereka pun tiba di rumah Safira, di sana sudah ada ni Eti yang menunggu kedatangan mereka di depan rumah.
Abizar turun terlebih dahulu, setelah itu dia membuka pintu mobil bagian belakang dimana ketiga anak Safira tengah tertidur lelap. Abizar sempat melirik ke arah Safira, ternyata wanita itu masih asyik dengan lamunannya, dia belum menyadari jika mereka sudah sampai di depan rumah, Abizar hanya menggeleng pelan dia pun akhirnya membiarkan Safira dengan lamunannya. Hingga Abizar selesai mengangkat ketiga anak itu, dia pun kembali menghampiri Safira yang masih berada di dalam mobil.
Tuk...tuk...tuk...
Suara jendela mobil yang diketuk dari luar menyadarkan lamunan Safira, Safira sempat beberapa kali mengerjakan matanya sebelum akhirnya dia sadar dan segera membuka pintu mobil untuk turun.
Setelah Safira turun dari mobil dia pun menghampiri ni Eti yang masih menunggu mereka di sana. Abidzar mengikuti langkah Safira masuk ke dalam rumah, Safira tidak mengatakan apa-apa dia hanya diam dan pergi meninggalkan Abizar beserta ni Eti ke dalam kamarnya.
Melihat tingkah Safira yang seperti itu ni Eti pun merasa bingung.
"Bi, apa yang sudah terjadi? Kenapa Safira terlihat sedih begitu?" tanya ni Eti kepada Abizar.
"Abi juga nggak tahu ni. Saat di taman tadi ada laki-laki yang berbicara dengan Raiyan, dan setelah itu Safira pun mulai murung dan banyak diam" jawab Abizar.
Ni Eti pun mengangguk tanda mengerti.
"Apa kamu mau mencoba untuk membujuk Safira?" tanya ni Eti.
Abizar mengangguk antusias.
"Cobalah buat masakan khusus untuk Safira, Nini jamin mood-nya pasti akan kembali membaik setelah makan nanti" perintah ni Eti.
Abizar pun dengan semangat menuruti perintah ni Eti. Setelah dia cukup beristirahat, Abizar melangkahkan kakinya menuju dapur, dia yang akan masak makanan kesukaan Safira.
Tak berselang lama, makanan yang ia masak pun selesai. Anak-anak tidak ia bangunkan karena saat di perjalan pulang dari taman tadi mereka sudah makan, begitu pun dengan ni Eti yang sudah makan terlebih dahulu saat Safira dan anak-anak belum sampai rumah.
Abizar segera menata masakannya di atas meja makan, dengan di hiasi lilin dan bunga di tengah meja itu, dia sengaja mematikan lampu di ruangan itu agar suasananya lebih temaram dan hanya bercahayakan beberapa lilin yang ada di atas meja.
"Semoga Safira menyukai apa yang ku lakukan saat ini" gumam Abizar merasa puas dengan dekorasi makan malam dadakannya. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Abizar pun melangkahkan kakinya menuju kamar Safira berada.
Tok... tok... tok...
Abizar mengetuk pintu kamar Safira beberapa kali, cukup lama menunggu sampai Safira membukakan pintu itu. Safira membukakan pintu itu dengan wajah sembab tanda dia sedang menangis karena sisa-sisa air matanya masih ada di sana.
"Fir, kita makan dulu yu. Kamu tadi sore kan gak ikut makan, aku sudah menyiapkan makanan khusus yang aku sediakan sendiri" ajak Abizar.
"Aku gak ***** makan bang" jawab Safira dengan tertunduk.
Abizar pun mengangkat wajah Safira dan menyeka mata yang masih basah itu dengan ibu jarinya.
"Fira, aku gak tahu alasan kamu menangis saat ini, aku juga gak akan nyuruh kamu untuk berhenti menangis saat ini juga. Tapi aku mohon, jangan siksa diri kamu dengan menahan lapar seperti ini, anggaplah kamu menangis juga butuh tenaga, jadi sekarang kamu harus isi tenaga dulu, Ok?" bujuk Abizar agar Safira bersedia untuk makan.
Safira terdiam, dia tidak menjawab perkataan Abizar. Tapi dia melangkahkan kakinya menuju meja makan yang berada di ruangan lain. Saat melihat lampu ruangan itu mati, Safira menoleh ke arah Abizar dengan tatapan bertanya. Abizar hanya mengangkat bahunya tanpa menjawab. Karena penasaran Safira pun terus melanjutkan langkahnya, bertapa terkejutnya ia saat melihat ruangan itu sudah di sulap seperti meja makan romantis, dengan hanya dua kursi yang ada di sana juga lilin-lilin cantik yang menerangi meja itu.
Safira terharu dengan semua yang sudah Abizar lakukan untuk membuatnya bahagia. Dia pun menutup wajah dengan kedua tangannya, Abizar yang berpikir Safira tidak menyukai makan malam yang sudah ia siapkan pun menghampirinya.
"Fira, Apa kamu tidak menyukainya?" tanya Abizar yang kini berdiri di samping Safira.
Safira menggeleng kepalanya dengan kuat, dia masih tidak menjawab pertanyaan Abizar.
"Lalu kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Abizar yang merasa heran dengan jawaban Safira.
"Aku terharu Abang, terima kasih sudah menyiapkan ini semua, aku merasa sangat senang saat ini" jawab Safira akhirnya.
Abizar pun tersenyum dia merasa senang dengan jawaban yang Safira berikan.
"Aku pikir kamu tidak akan menyukai ini semua" ucap Abizar.
"Tidak, jangan berpikir seperti itu. Sekali lagi terima kasih banyak aku merasa terhibur" jawab Safira.
"kalau memang seperti itu, ayo kita duduk dan mulai untuk makan malamnya" ajak Abizar.
Safira pun mengangguk setuju dan berjalan menuju meja makan itu, tidak ada percakapan lagi setelah mereka berdua duduk dan mulai menyantap makan malamnya.