Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 89



Siang hari Safira tidak merasa terlalu bosan, karena anak-anak dan Nyonya Sita datang untuk menemaninya.


"Fira, bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Nyonya sita saat dia baru saja sampai.


"Alhamdulillah, udah lebih baik, ma" jawab Safira


Sementara itu, ketiga anak kembarnya sudah berebut untuk bisa duduk di sebelah Safira.


"Mama, adik bayinya kenapa?" tanya Qirani dengan khawatir.


"Tidak apa-apa sayang, kami sudah lebih baik" jawab Safira seraya mengelus puncak kepala Qirani.


Mereka pun mengobrol seperti biasa, anak-anak juga menceritakan semua kegiatannya di sekolah.


***


Di tempat lain, seorang wanita sedang berusaha untuk kabur dari para pencuri yang mengejarnya. Setelah kepergiannya ke negara S, Vivi tidak mengikuti arahan dari Axel untuk pergi ke kediamannya. Dia lebih memilih untuk bebas menikmati kehidupannya yang berakhir seperti saat ini, di kejar-kejar oleh pencuri.


"Cepat cari wanita itu dan temukan dia!!!" perintah salah satu pria yang berbadan lebih besar dari yang lainnya.


"Baik bos" ucap para pria yang mengikuti tuannya itu.


"S***, dimana dia berada saat ini? Pintar sekali dia kabur setelah menipuku!!!" garam laki-laki yang berbadan besar tadi.


Sementara itu Vivi yang sedang bersembunyi di antara celah dinding kecil antar bangunan, sudah merasa sangat kelelahan karena berlari dan juga ketakutan.


"Harusnya saat itu aku langsung ke kediaman Axel, bukan malah pergi seperti ini. Dan lagi kenapa Axel tidak bisa di hubungi? Membuat ku semakin kesal saja. Dasar pria tidak berguna!!!" desis Vivi yang kesal.


"Apa orang-orang itu sudah pergi?" gumam Vivi saat tidak melihat bayangan para pria yang sedang mengejarnya tadi.


Dengan sedikit ketakutan, Vivi keluar dari celah dinding tempat persembunyiannya tadi. Dia celingukan untuk melihat situasi, setelah dirasa aman Vivi pun pergi dari sana.


"S***, aku sudah tidak punya uang lagi, alamat rumah yang Axel berikan pun hilang entah dimana. Sekarang kemana ku harus pergi?" tanya Vivi pada dirinya sendiri.


Karena merasa tidak punya tempat untuk singgah, akhirnya Vivi pun hanya bisa menyusuri jalanan kota negara S itu tanpa tujuan.


***


Arselo sedang bekerja di perusahaannya, sebenarnya tadi pagi ia enggan untuk berangkat hanya saja ada beberapa masalah yang tidak bisa hanya di tangani oleh Sofyan, jadilah saat ini dia yang mengerjakannya.


Tok... tok... tok...


"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda, beliau adalah orang suruhan tuan Axel" ucap asisten Arselo itu.


"Suruh dia masuk saja" jawab Arselo dengan tatapan yang masih tertuju pada layar komputer di depannya.


"Baik tuan" ucap asisten itu sebelum ia berlalu dari hadapan Arselo.


Tak lama kemudian, orang yang ingin bertemu Arselo pun datang menghampirinya.


"Jadi bagaimana kelanjutan pencarian Vivi? Apa dia sudah ditemukan?" tanya Arselo dengan tidak sabaran.


"Maaf tuan, kami sudah mencari nona Vivi ke alamat yang di tunjukkan tuan Axel, tapi menurut orang-orang yang berada di sana, nona Vivi belum pernah ada berkunjung ke sana. Setelah kami telusuri lagi, ternyata nona Vivi memilih pergi ke tempat lain" lapor orang itu.


"Tempat lain gimana? Bukankah dia tidak memiliki siapa-siapa di negara S itu?" tanya Arselo yang mulai terlihat kesal.


"Saya fikir dia cukup cerdik, karena takut tuan Axel tertangkap dan membawa namanya, jadi dia memilih kabur dari pengawasan tuan Axel" jelas orang itu.


Arselo menghembuskan nafasnya kasar, dia sudah sangat berharap jika Vivi kali ini akan benar-benar tertangkap, hingga Safira dan anak-anak bisa hidup dengan damai tanpa ada gangguan darinya.


"Lalu bagaimana dengan Devi?" tanya Arselo yang ingin tahu keadaan Devi.


"Nona Devi di nyatakan mengalami gangguan jiwa, tuan. Beliau tidak bisa menerima kenyataan bahwa tuan Deril sudah meninggal, yang saya dengar dari teman-teman terdekatnya dia memiliki perasaan yang lebih pada kakak kandungnya itu" jawab orang itu lagi.


Arselo di buat terkejut dengan kenyataan yang baru ia dengar.


"Untuk alasannya saya tidak tahu apa-apa, dan karena hal itu jugalah nona Devi sampai menjebak Nyonya Safira saat itu" jelasnya lagi.


"Lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya? Apa mereka mengetahui tentang perasaan Devi pada kakaknya?" tanyanya lagi.


"Saya rasa mereka tidak mengetahui hal itu, tuan" jawab orang itu lagi.


Arselo pun tidak mengambil pusing tentang perasaan Devi pada kakaknya, dia sudah cukup tenang karena nyatanya Devi sudah dalam pengawasan ketat pihak rumah sakit jiwa, meskipun demikian ia tidak akan pernah lengah lagi.


Setelah berbincang beberapa saat, Arselo pun membiarkan orang itu pergi dari hadapannya dan ia kembali fokus pada pekerjaannya.


Tring... tring... tring...


Ponsel milik Arselo berdering dengan nyaring saat ia sedang fokus meneliti beberapa berkas penting di hadapannya, dengan kesal Arselo menjawab panggilan itu dan hampir saja mengumpat pada orang yang sudah menghubunginya.


"Apa kau sudah gi–"


"Ya, El? Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Safira di sebrang sana. Ternyata Safira-lah yang sudah menghubunginya.


"Ya tuhan, hampir saja aku mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar padanya" batin Arselo yang sudah panik.


"Tidak ada, ku fikir bukan kamu yang menghubungiku. Apa ada hal yang kamu inginkan?" tanya Arselo.


"Apa tidak apa-apa? Jika kamu sedang sibuk aku tidak akan mengganggu mu"


"Tidak apa-apa Fira, aku sedang tidak sibuk saat ini" jawab Arselo dengan cepat. Meskipun kerjaannya saat ini sedang menumpuk, tapi tidak mungkin ia mengabaikan Safira.


"Baiklah, ada yang aku inginkan"


"Katakanlah, akan ku carikan"


"Aku ingin makan tutut sekarang, bisakah kamu mencarikannya untuk ku?"


"Tutut?"


"Iya, apa kamu tidak mau mencarikannya?"


"Bukan begitu. Baiklah, aku akan carikan secepatnya"


"Benarkah? Terimakasih banyak, El" ucap Safira antusias. Setelah mengatakan keinginannya, Safira pun menutup sambungan teleponnya.


"Aku harus mencari kemana hewan seperti itu?" gumam Arselo kebingungan, hingga ia tak sadar jika Sofyan sudah berdiri di hadapannya.


"Tuan, apa ada yang mengganggu fikiran anda?" tanya Sofyan yang membuat Arselo terkejut seketika.


"Ya tuhan Sofyan, sejak kapan kamu ada disana?"


"Sudah sekitar lima menit yang lalu, tuan" jawab Sofyan.


"Hmmm, baguslah kau ada disini. Tolong carikan tutut untuk Safira"


"Tutut? Makanan jenis apa itu, tuan?"


"Sejenis siput sawah, kau searching saja di google untuk lebih jelasnya. Aku sedang sibuk. Jika sudah dapat, segera berikan padaku"


"Bukankah itu untuk Nyonya Safira? Lalu kenapa di bawa ke sini?"


"Aku yang akan memberikannya. Sudahlah cepat kau carikan"


"Rupanya tuan ingin mendapatkan kesan yang baik dari Nyonya Safira" batin Sofyan mulai mengerti.


"Baik tuan, akan saya carikan"


Sofyan pun berlalu dari hadapan Arselo, sedangkan Arselo sendiri kembali berkutat dengan pekerjaannya sambil menunggu kedatangan Sofyan yang akan membawa pesanan Safira.