Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 77



Pagi ini Arselo tidak datang ke rumah Ni Eti. Setelah salat subuh tadi, ia kembali terlelap, mungkin efek semalam ia baru tidur saat ini hari. Saat ia masih bergumul dengan selimut hangatnya, ponsel yang ia letakkan di atas meja nakas samping tempat tidur berbunyi tanpa ada panggilan yang masuk.


"Halo" sapa Arselo dengan suara khas bangun tidur.


Di seberang sana, anak-anak mengernyitkan kening mereka karena merasa aneh dengan suara papanya.


"Apa papa baik-baik saja?" tanya Raiyan.


"Papa baik-baik saja, Rai. Ada apa?" tanya Arselo setelah berdehem untuk menetralkan kembali suaranya.


"Tidak ada apa-apa pa, tapi kenapa papa baru bangun tidur?" tanya Raiyan lagi


"Semalam papa tidak bisa tidur. Apa ada sesuatu yang kalian inginkan?" tanya Arselo.


"Tidak ada pa, kami hanya ingin mengajak papa untuk makan bersama di rumah Nini" jawab Raiyan.


Mendengar jawaban Raiyan, seketika itu juga Arselo menghempaskan selimut dan segera bangun dari kasurnya.


"Ok, papa ke sana sekarang" ucap Arselo dengan antusias.


"Papa, sebelum kemari tolong belikan dulu bubur ayam untuk mama. Katanya dia sangat menginginkan itu" ucap Raiyan sebelum Arselo sempat mematikan sambungan teleponnya.


"Baiklah, akan papa carikan. Apa ada hal yang lain lagi?" bukanya Arselo.


"Tidak ada, pa" jawab Raiyan sambil menggelengkan kepalanya seakan Arselo bisa melihat hal itu.


"Ya sudah kalau begitu, papa akan ke sana sebentar lagi" ucap Arselo sambil memutuskan sambungan teleponnya.


Dengan hati yang gembira, ia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tak membutuhkan waktu lama untuknya bersiap, ia pun segera masuk ke dalam mobilnya untuk mencarikan bubur ayam pesanan Safira. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Arselo segera menjalankan kembali mobilnya menuju rumah Ni Eti.


Sesampai di sana, ternyata anak-anak sudah menunggu kedatangannya.


"Assalamualaikum... Halo anak-anak, kalian sedang apa?" tanya Arselo pada ketiga anaknya yang sedang duduk bersama di bangku depan rumah itu.


"Waalaikum salam, pa... Kami sedang menunggu papa, kenapa papa datangnya lama?" tanya Qirani sedikit merajuk.


Arselo tersenyum saat melihat Qirani yang sedang merajuk padanya, ia mendekati Qirani dan berjongkok di depannya untuk menyamakan tinggi badannya dengan gadis kecil itu.


"Papa minta maaf karena sudah membuat kalian menunggu lama, sebab tadi papa harus mencari bubur pesanan mama mu dulu" jawab Arselo.


Qirani pun mengerti dan menganggukkan kepalanya pelan, dengan tersenyum Arselo mengusap pucuk kepala anak gadisnya itu.


"Sekarang mama mu berada di mana?" tanya Arselo yang tidak melihat ke hadiran Safira disana.


"Mama sedang berada di dapur persamaan Nini, mereka sedang memasak tutut yang diambil kemarin" jawab Dayyan.


Arselo pun mengangguk paham, dan segera melangkah menuju pintu belakang di mana dapur itu berada.


"Assalamualaikum" sapa Arselo pada Ni Eti dan Safira yang sedang duduk di depan tungku api yang sedang menyala.


"Waalaikum salam, Nak El. Kapan datang?" tanya Ni Eti yang menyadari kehadiran Arselo.


"Saya baru saja datang, Ni" jawab Arselo. Ia melihat sekeliling dapur, tapi tidak menemukan keberadaan Safira.


"Oh, iya. Kalau begitu silakan masuk ke dalam, tapi lewat pintu depan saja, di sini agak sempit soalnya" ucap Ni Eti yang menyuruh Arselo untuk masuk.


"Terima kasih Ni. Oh, iya, saya juga membawa pesanan Safira. Kira-kira Safira-nya ada di mana?" tanya Arselo.


"Safira ada di WC, dari tadi dia terus menerus mual. Padahal Nini sudah membuatkan air jahe seperti yang kamu buat kemarin, tapi tidak berpengaruh" jawab Ni Eti.


"Kamu sudah datang, El?" tanya Safira.


"Iya, ini aku bawakan pesanan mu" jawab Arselo sambil menyerahkan bubur ayam yang ia bawa.


"Terimakasih El, tapi kenapa banyak sekali?" tanya Safira saat ia melihat ada beberapa bungkus lainnya.


"Itu untuk anak-anak dan Nini juga" jawab Arselo.


"Ya sudah. Ayo kita makan sama-sama" ajak Safira.


Arselo menganggukkan kepalanya, dan berjalan ke arah depan rumah itu.


"Anak-anak, ayo kita makan dulu" ajak Arselo pada ketiga anaknya yang masih duduk di bangku depan seperti tadi.


"Iya pa" jawab ketiga anak-anak itu bersama-sama.


Mereka pun masuk ke dalam rumah beriringan, Safira sudah menata bubur yang ia bawa tadi untuk dimakan bersama. Safira memakan bubur itu dengan lahap, ia sama sekali tidak merasa mual saat makan bubur.


"Fira, apa kamu masih mau menambah? Jika kamu mau, kamu boleh memakan bagian ku" tanya Arselo yang melihat bubur milik Safira sudah tandas.


Safira menengadahkan kepalanya melihat Arselo, sebenarnya ia menginginkan bubur itu, tapi ia merasa tidak enak hati jika harus mengambil bagian milik Arselo.


"Tidak apa-apa, El. Kamu makan saja, aku sudah cukup kenyang" tolak Safira.


"Sungguh? Apa kamu benar-benar tidak menginginkannya?" tanya Arselo lagi.k


Shafira menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Iya. Kamu saja yang makan, lagipula aku sudah cukup kenyang" tolak Safira lagi.


"Baiklah jika kamu tidak mau, aku akan memakannya" ucap Arselo sembari mulai menyuapkan bubur itu.


Safira hanya bisa melihat bubur milik Arselo yang mulai tandas.


"Ya Tuhan, dia sama sekali tidak peka. Padahal aku masih ingin memakannya" batin Safira sedih.


Arselo menyadari tatapan sedih Safira terhadapnya, tapi ia tidak mengetahui alasan tatapan itu.


"Fira, apa kamu baik-baik saja?" tanya Arselo.


Anak-anak yang mendengar pertanyaan sang papa terhadap mamanya, mereka pun serentak memandang Safira.


"Mama kenapa bersedih?" tanya Dayyan.


"Apa mama mengingat papa Abi?" tanya Qirani.


"Aku juga kangen makan bersama dengan papa Abi" ujar Raiyan.


Safira di buat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh anak-anaknya, mereka sudah salah paham dengan ekspresinya.


"Mama tidak apa-apa, mama juga baik-baik saja" jawab Safira segera.


"Sabar ya sayang, mama juga kangen papa Abi" ucap Safira pada ke tiga anak-anaknya.


Arselo tidak ikut bertanya lagi, ia merasa kehadirannya sama sekali tidak membantu untuk Safira dan anak-anak.


"Memang sulit melupakan kebaikan seseorang yang sudah sangat berarti dalam kehidupan mereka. Aku yang ada disini, tapi dia yang ada dihati mereka".