
Acara piknik mereka pun tidak berjalan lancar karena Safira yang masih kesal dengan Arselo.
"Ternyata membujuk wanita hamil itu sulit juga" ucap Arselo.
Zian dan Frans menertawakan kegagalan Arselo yang tidak bisa membujuk Safira.
Sepulang mengantar si kembar tiga tadi, Arselo tidak kembali ke perusahaannya, ia memilih untuk bertemu dengan kedua sahabatnya dan berharap mereka bisa membantunya.
"Hahaha, apa sekarang loe udah nyerah?" tanya Zian.
"P*y*h loe, ngebujuk cewek aja sekarang udah gak bisa" timpal Frans.
Bukannya mendapat pencerahan, Arselo malah di ledek oleh kedua sahabatnya itu.
"G*** loe pada, gue minta ketemu itu biar kalian bisa bantu. Kenapa sekarang malah ngeledek kayak gini?" tanya Arselo dengan kesal.
Sedangkan Frans dan Zian, tidak menanggapi ucapan Arselo. Mereka masih terus menertawakan Arselo.
***
Di tempat lain, Safira masih mengurung dirinya di kamar. entah kenapa dia masih merasa kesal saat Arselo menyalakannya karena sudah salah paham terhadapnya.
"Dasar lelaki tidak peka" ucap Safira dengan memukuli bantalnya.
"Seharusnya tanpa diminta dia sudah menjelaskan semuanya, bukan malah menyalahkan ku karena tidak bertanya padanya" sambungnya lagi.
***
Sedangkan Dayyan, Raiyan, dan Qirani mereka merasa heran dengan mamanya yang masih bersembunyi di kamar semenjak kepulangan mereka dari taman tadi.
"Nini, sebenarnya Mama kenapa?" tanya Qirani karena ia tidak bisa menebak perasaan sang mama.
"Nini juga tidak mengerti, padahal dulu waktu hamil kalian mama mu tidak bersikap seperti ini" jawab Ni Eti.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Ni?" tanya Dayyan.
"Lebih baik kita diamkan saja dulu, mungkin mama butuh waktu untuk memaafkan papa kalian" jawab Ni Eti.
"Aku akan temani mama dulu" ucap Raiyan bangkit dari duduknya dan menuju kamar Safira.
"Kami ikut bang" susul Qirani dan Dayyan meninggalkan Ni Eti yang masih duduk di ruang tengah rumah itu, sedangkan Caca sudah kembali lagi ke restoran saat mereka pulang dari taman tadi.
Ceklek...
Pintu kamar Safira terbuka begitu saja menampilkan tiga anak lucu dan imut, dua anak laki-lakinya dan satu anak perempuan dengan warna mata silver yang mengagumkan. Terkadang Safira masih tidak percaya bahwa mereka adalah anak-anaknya, ia juga berfikir bagaimana bisa dia yang dulu hanya gadis pinggiran kota dengan penampilan kumal di bandingkan Sarah dan Devi yang dulu pernah menjadi sahabat baiknya, kini memiliki tiga orang anak yang begitu menawan.
"Mama melamun lagi?" tanya Dayyan yang melihat reaksi mamanya tadi yang sempat terkejut lalu tiba-tiba diam sembari menatap mereka bertiga.
"Tidak, mama tidak melamun. Mama hanya berfikir, bagaimana bisa mama kalian begitu mirip dengan papa tanpa ada hal lain yang mirip dengan mama" jawab Safira dengan terus memperhatikan anak-anak yang kini sedang duduk bersamanya di atas kasur.
"Apa kami begitu mirip dengan papa, ma?" tanya Raiyan yang langsung di angguki oleh Safira.
"Ya, kalian semua sangat mirip dengannya, hanya rambut kalian saja yang mirip dengan mama" jawab Safira tersenyum pada anak-anaknya itu.
"Apa mama dulu begitu membenci papa sehingga kami bisa begitu mirip dengannya?" tanya Qirani
Sejenak Safira tertegun dengan pertanyaan Qirani, memang benar jika dulu Safira sangat membenci Arselo, tapi ia tidak berpikir benar atau tidaknya jika ia membenci seseorang maka anaknya akan mirip dengan orang itu.
"Kenapa kakak bisa bertanya seperti itu?" tanya Safira pada Qirani.
"Teman ku ada yang berkata seperti itu ma, dia bercerita bahwa dulu mamanya sangat benci pada papanya waktu sedang mengandung adiknya, dan saat adiknya itu lahir, ia sangat mirip dengan papanya" cerita Qirani
"Apa benar begitu? Bagaimana jika itu adalah kenyataan? Bagaimana jika anakku dan mas Abi mirip dengan Arselo? Tidak, itu tidak boleh terjadi. Biar bagaimanapun bayi ini harus mirip dengan mas Abi" gumam batin Safira yang ketakutan jika perkataan Qirani itu benar.
"Mungkin itu karena memang bayi milik papanya saja kak, makanya mereka bisa begitu mirip" jawab Safira.
"Tapi, ma. Bagaimana kalau hal itu benar terjadi?" tanya Dayyan, karena ia juga merasa penasaran dengan cerita Qirani.
"Akh, kalian ini ada-ada saja. Mana ada hal yang seperti itu?" tolak Safira, tentu saja ia tidak rela jika anaknya Abizar lebih mirip dengan Arselo.
"Tapikan itu bisa saja, ma" timpal Raiyan yang ikut-ikutan dengan kedua saudaranya yang lain.
"Sudahlah, kalian tidak perlu berfikiran seperti itu. Hal yang seperti itu hanya tuhan yang tahu" jawab Safira menyudahi pertanyaan anak-anaknya yang menurutnya tidak masuk akal dan menjadi ketakutan tersendiri untuknya.
"Sepertinya aku harus meminta maaf padanya, karena sudah berkata benci tadi. Aku takut jika benar apa yang di katakan anak-anak itu terjadi" gumam hati Safira.
Akhirnya Safira dan anak-anak pun bercerita tentang hal lain yang membuat mereka tertawa bahagia bersama. Di balik pintu, Ni Eti memperhatikan interaksi ibu hamil dan ketiga anaknya yang sedang bercengkrama dengan riang, ia merasa lega karena Safira sudah tidak terlalu bersedih lagi.
"Abi, seandainya kamu masih ada di sini bersama kami, kamu pasti akan menjadi orang pertama yang begitu bahagia melihat Safira dan anak-anak yang sedang bercanda seperi itu. Sekarang kamu bisa lebih tenang disana, nak. Safira dan anak-anak di sini, mereka semua baik-baik saja" gumam hati Ni Eti sambil tersenyum menatap empat orang yang sedang bercengkrama ria di atas kasur.