Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 96



Pagi telah menyapa, Arselo segera bangkit dari tidurnya karena hari ini yang memiliki janji bersama dengan ketiga anaknya yang akan menemani mereka untuk ikut berlomba kekompakan dengan keluarga. Untung saja tadi malam Sofyan sempat datang ke rumahnya dan mengambil berkas untuk kepentingan meeting pagi ini, Arselo meminta Sofyan untuk mewakilkan dirinya lagi.


"Tuan, kenapa hari ini anda tidak memakai setelan ke kantor?" tanya bibi yang bekerja di rumah Arselo. Ia sedikit heran karena tidak biasanya melihat sang majikan memakai setelan kasual di hari kerja.


"Hari ini saya akan pergi bersama anak-anak untuk menghadiri acara di sekolahan mereka" jawab Arselo.


Bibi itu sejenak tampak mengerutkan keningnya, ia adalah pekerja baru di rumah Arselo. Ia juga belum mengetahui tentang kedua orang tua majikannya itu dan hanya tahu jika majikannya mempunyai seorang saudara perempuan yang berprofesi sebagai dokter.


"Anak-anak? Maaf sebelumnya apa anda benar-benar sudah memiliki anak?" tanya bibi itu dengan penasaran.


Arselo menjawabnya hanya dengan anggukan, sejenak ia juga mengingat jika dirinya belum pernah membawa Safira ataupun anak-anak ke rumah pribadinya.


"Mungkin dalam waktu dekat aku akan membawa mereka ke rumah ini" batin Arselo.


Ia pun segera menyelesaikan acara sarapannya dan segera berlalu menuju rumah Safira untuk menjemput mereka.


Sepanjang perjalanan Arselo tidak henti-hentinya melempar senyuman, hari ini ia merasa sangat bahagia karena anak-anaknya bisa mengenalkan dirinya sebagai orang tua di depan teman-teman mereka.


Tampak di depan rumah Safira, anak-anak sudah bersiap untuk berangkat. Arselo segera menepikan mobilnya untuk parkir dan menjemput mereka.


"Halo anak-anak papa" sapa Arselo pada ketiga anaknya.


"Halo juga papa" jawab ketiga anak kembar itu bersamaan.


"Hai, Fir. Apa kamu juga akan ikut bersama kami?" tanya Arselo pada Safira.


"Tentu saja aku ikut, aku ingin melihat pertandingan kalian nanti" jawab Safira dengan antusias, Arselo menarik sudut bibirnya samar, ia merasa lucu terhadap ekspresi yang Safira tunjukkan.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Arselo lagi.


"Iya, pa. Kami sudah siap. Ayo kita berangkat" seru Raiyan dengan semangat.


Arselo tersenyum melihat tingkah ketiga anaknya yang sedang berebut untuk menaiki mobilnya.


"Anak-anak, berhati-hatilah, jangan berebut" seru Safira pada ketiga anaknya.


"Tapi ma, Abang mau duduk di depan" ucap Dayyan yang ingin duduk di kursi samping kemudi, dan ternyata saudaranya pun sama halnya ingin duduk di samping kemudi di sebelah Arselo.


"Kalian duduk di kursi belakang seperti biasa, biar adik bayi bersama mama yang duduk di depan bersama papa" usul Arselo.


"Tapikan pa–"


"Kakak anak papa yang cantik, nurut ya, sayang" bujuk Arselo yang melihat anak perempuannya mulai merajuk.


"Baiklah" ucap ketiga anak kembar itu mengalah dan mengikuti perintah Arselo yang menyuruh mereka untuk duduk du kursi belakang.


Setelah drama berebut kursi itu selesai, akhirnya ketiga anak itupun duduk terdiam meskipun dengan wajah yang ditekuk.


Arselo dan Safira tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalau mereka marah seperti itu terlihat lucu ya?" tanya Arselo pada Safira.


"Benarkah? Aku fikir mereka akan tetap terlihat lucu dan menggemaskan di mata ku" ucap Arselo.


Safira tersenyum tipis mendengar ucapan Arselo.


"Sudahlah, ayo cepat kita berangkat sebelum terlambat" ajak Safira seraya berlalu meninggalkan Arselo yang masih berdiri di depan rumahnya, Arselo pun mengikuti langkah Safira menuju mobil dan mulai menjalankannya menuju sekolahan anak-anak.


Sepanjang perjalanan anak-anak diam tak ada yang mulai berbicara, mereka masih kesal satu sama lain karena sudah berebut duduk sehingga diantara mereka tidak ada yang bisa duduk disebelah Arselo.


"Kalian kenapa?" tanya arselo yang melihat ketiga anaknya hanya diam melalui kaca spion yang ada di depannya.


"Aku ingin duduk bersama papa" jawab Raiyan dengan segera.


"Aku juga mau, pa" jawab Dayyan


"Aku juga mau duduk bersama papa" timpal Qirani.


Arselo menarik nafasnya perlahan, ternyata benar apa yang di katakan Safira tadi. Tiga anaknya jika sedang kumat tidak ada yang mau mengalah.


"Kalian boleh duduk dekat papa, tapi secara bergantian. Kalau kalian tidak ingin bergantian, maka tetaplah duduk bersama di barisan belakang" ucap Arselo.


"Iya, pa. Kami mengerti" jawab ketiga anak-anak itu bersamaan.


Arselo dan Safira tersenyum puas mendengar jawaban anak-anaknya.


Tak lama kemudian, mobil yang Arselo kemudikan sudah sampai di depan gerbang sekolah anak-anak. Dengan teratur ketiga anak itu pun mulai keluar dari mobil itu. Ternyata disana sudah banyak orang tua siswa dan guru-guru berkumpul.


Bisik-bisik orang tua murid mulai terdengar saat Arselo, Safira dan anak-anak ikut dalam kumpulan itu.


"Jeng, tau gak, itu mamanya si kembar tiga kan baru di tinggalin suaminya, masa sekarang udah ada laki-laki lain yang antar jemput dia. Gak malu tuh sama perut buncitnya?" ucap salah seorang ibu yang badannya paling besar pada temannya yang berpenampilan menor.


"Iya ya, kasian mendiang suaminya. Baru ninggalin beberapa bulan, malah udah dapat pengganti" jawab ibu itu.


Safira mendengar ucapan mereka dengan jelas, tapi ia mencoba untuk menahan diri agar tidak terjadi keributan di sana.


"Sabar, Fira. Mereka tidak tahu apa yang kamu rasakan dan kamu alami" batin Safira untuk menenangkan hatinya. Arselo tidak bisa mendengar perkataan ibu-ibu itu karena ia sudah mulai turun ke lapangan bersama ketiga anaknya.


"Sabar ya mama kembar, ibu-ibu itu memang selalu saja begitu" ucap salah seorang ibu yang duduk dekat bersama dengan Safira, rupanya ibu itu mendengar pembicaraan mereka.


"Terimakasih, bu. Insyaallah saya sabar" jawab Safira dengan menampilkan senyum ramahnya.


Perlombaan yang diselenggarakan oleh sekolahan itu cukup banyak, anak-anak sangat antusias bersama Arselo mengikuti semua permainan itu, ada beberapa permainan yang tidak bisa di menangkan oleh mereka, tapi tetap saja tim merekalah yang paling banyak mengumpulkan poin.


Saat perlombaan itu hampir selesai, tiba-tiba ada salah seorang murid yang menangis dan menyalahkan si kembar tiga.


"Lihat ma, si mata aneh itu yang melakukan semua ini" tuduh anak itu seraya menunjuk ke arah Qirani.


"Heh, anak kecil, apa kamu tidak di ajarkan sopan santun oleh orang tua mu? Apakah mama mu terlalu sibuk mencari papa baru untuk kalian, sehingga tidak mempunyai waktu untuk mendidik anak-anaknya" ucap salah satu orang tua murid itu