
Arselo menemui Zian di kafe tempat mereka janjian. Arselo memasuki kafe yang memiliki ruang private yang sebelumnya sudah ia pesan terlebih dahulu, ternyata Zian dan Frans juga sudah berada di sana. Mereka pun memesan minuman dan camilan untuk menemani obrolan mereka.
"El, bisa loe jelasin gak apa yang udah terjadi saat ini?" tanya Frans terlebih dahulu.
"Mau gue jelasin dari mana dulu?" tanya balik Arselo.
"Dari awal, dan semuanya" jawab Zian.
"Ok. Jadi dulu gue pernah buat kesalahan sama cwe yang namanya Safira. Gue ngebantuin Devi dan Sarah yang saat itu masih memendam kesal sama Safira, sebelumnya gue nggak tahu di antara mereka ada masalah apa. Gue cuma di minta Devi dan Sarah buat m****** Safira yang saat itu dikasih obat perangsang sama Devi, dan pernah nikah siri sama dia gara-gara kepergok warga. Tapi saat gue pulang lagi ke sini, gue langsung ceraikan dia hari itu juga-" ucap Arselo menjeda kalimat selanjutnya.
"Dan tanpa gue ketahui ternyata hasil dari perbuatan bejat gue saat itu bikin Safira hamil, sampai melahirkan tiga orang anak yang baru gue tahu dua bulan yang lalu" sambung Arselo lagi.
Frans dan Zian dibuat terkejut oleh pengakuan sahabatnya itu, mereka memang tahu u jika Arselo sudah terbiasa dengan **** bebas sejak zaman kuliah dulu, tapi mereka tidak menyangka jika Arselo juga sampai bisa menghancurkan masa depan orang yang bahkan tidak kenal dengannya.
"Wah, gila loe, El. Gue gak nyangka loe bisa berbuat hal yang lebih memalukan lagi, ckckck" ucap Zian yang tidak menyangka perbuatan Arselo.
"Jadi cerita om Ardan yang bilang kalau dia punya cucu kembar tiga itu beneran, El?" tanya Frans yang mendapat anggukan dari Arselo sebagai jawaban.
"Terus gimana masalah Vivi?" tanya Zian.
"Gue gak pernah punya anak sama dia, anak yang dia lahirin bukan anak gue. Gue di jebak sama dia. Dia sengaja bikin tes DNA palsu biar gue nikahin dia, bahkan gue pernah nemuin beberapa surat hasil tes DNA sama cwo lain dan hasilnya negatif semua" jelas Arselo pada kedua sahabatnya.
Frans dan Zian di buat terkejut dua kali oleh pengakuan Arselo hari ini.
"Seriusan loe?" tanya dua pria itu bersamaan.
"Serius, nih gue kasih liat buktinya" ucap Arselo sambil menyerahkan ponselnya pada Zian dan Frans untuk melihat galerinya.
"Gila, ini bener-bener gila. Karma loe tuh yang udah ngancurin masa depan anak orang lain dan gak tanggung jawab sama anak sendiri" ucap Zian dengan kesalnya.
"Iya, gue sadar, gue udah berbuat salah selama ini" jawab Arselo sambil menundukkan kepalanya.
Zian dan Frans berhenti membully sikap Arselo, Meskipun mereka kesal terhadap sikapnya tapi mereka juga kasihan atas nasib yang menimpa Arselo.
"Oh iya gue hampir lupa, beberapa hari yang lalu gue lihat Devi dan Vivi keluar dari salah satu rumah sakit yang ada di pinggir kota. Gue nggak sempat buat nyamperin mereka, karena keburu pergi naik mobil" terang Frans.
"Serius loe?" tanya Arselo.
"Iya gue serius, tapi yang gue liat Devi jalannya pakai tongkat dan sebelah kakinya juga diperban, kayak yang habis kecelakaan gitu" jelas Frans lagi.
"Kira-kira sekarang Vivi ada dimana? Dia belum nemuin anaknya yang masih dirawat di rumah sakit" tanya Arselo pada kedua temannya.
"Apa lagi ini? Masa dia belum nemuin anaknya sendiri padahal gue liat Vivi udah sehat kayak biasa lagi?" tanya Zian.
kedua orang pria yang duduk di depan Arselo sama-sama menarik nafas dalam. Selesai Arselo berkata seperti itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ia melihat jika itu adalah telepon dari pihak rumah sakit yang ia minta untuk memantau perkembangan kesehatan anaknya Vivi.
"Gue mau jawab telepon dulu, kayaknya da hal penting soalnya dari rumah sakit tempat bayi itu dirawat" ucap Arselo seraya bangkit dari kursi tempatnya duduk.
Setelah beberapa menit kemudian Arselo kembali hanya untuk berpamitan kepada kedua temannya.
"Sorry, gue harus cabut duluan kondisi bayinya Vivi makin kritis" ucap Arselo pada kedua temannya dengan raut wajah yang cemas
Mendengar penuturan Arselo, Zian dan Frans pun ikut bangkit dari duduknya.
"Kita ikut loe El!" ucap Frans yang di angguki oleh Zian.
Mereka pun melangkahkan kakinya keluar dari kafe itu dengan tergesa-gesa. Arselo menaiki mobilnya sendiri, sedangkan Frans dan Zian mengikuti dengan mobilnya masing-masing.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam, mereka pun sampai ke rumah sakit itu dan bergegas menuju ruangan di mana bayi merah tanpa nama itu berada.
"Tuan Arselo, maaf jika kami mendadak menghubungi anda. Tapi keadaan bayi itu semakin kritis" jelas dokter yang menangani bayi milik Vivi itu.
"Boleh saya menggendongnya dokter?" tanya Arselo.
"Tentu tuan, mari masuk" jawab dokter itu.
Arselo pun memasuki ruangan itu setelah memakai pakaian steril yang sudah di sediakan di sana, dengan perlahan Arselo mulai menggendong bayi merah yang rapuh itu.
"Nak, aku tidak akan memaksa mu untuk terus bertahan bersama kami, jika kamu sudah tidak kuat lagi, aku akan mengikhlaskan mu, agar kamu tidak tersiksa seperti ini lagi. Maafkan mama mu ya, semoga setelah kepergian mu, mama mu akan sadar dan segera kembali ke jalan yang benar" ucap Arselo pada bayi itu yang tidak di respon apa-apa olehnya.
Setelah mengatakan itu, Arselo dangan berat hati menyuruh dokter untuk melepas semua alat bantu yang selama hampir dua minggu ini menempel pada tubuh kecil itu.
"Dokter, dengan berat hati saya minta tolong untuk melepaskan semua kabel ini, saya tidak mau terus menyiksanya dengan rasa sakit yang ia alami saat ini, insya allah kami ikhlas melepas kepergiannya" ucap Arselo pada dokter itu.
"Apa anda yakin tuan?" tanya dokter yang mendampingi Arselo.
"Saya yakin dokter" jawab Arselo.
Dokter itu tidak bertanya apa-apa lagi dan langsung melepas semua alat bantu itu, benar saja di menit ke tiga, bayi itu menghembus nafas untuk terakhir kalinya, perawat yang selama ini menjaga bayi itu juga ikut menangisi kepergiannya.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un" ucap Arselo dengan pelan.
Zian dan Frans yang melihat pemandangan itu dari luar ruangan pun ikut menitikkan air mata mereka.
"Selama ini gue gak pernah berfikir tentang kematian, Tapi saat lihat semua ini gue bertanya, Apa gue udah punya bekal buat nanti di bawa mati?" ungkap Zian yang masih memandangi Arselo yang menggendong jenazah bayi Vivi.