
Sesuai dengan janji Abizar kepada anak-anak sore ini mereka akan berjalan-jalan menikmati waktu sore di taman, mereka semua sudah rapi dan sudah bersiap untuk pergi. Karena letaknya yang cukup jauh jika berjalan kaki, maka Abizar pun menyuruh anak-anak untuk naik mobil agar mereka lebih cepat sampai di sana.
"Ayo anak-anak, kalian masuklah ke mobil dan duduk dengan rapi" seru Safira kepada anak-anaknya.
"Baik mama" jawab anak-anak itu serempak.
Setelah memastikan anak-anaknya duduk dengan tertib di dalam, mobil Safira pun mengambil tas yang berisikan cemilan untuk bekal mereka di taman nanti.
"Ni, nini beneran gak mau ikut kami?" tanya Safira pada ni Eti yang kini sedang duduk di kursi halaman depan rumah.
"Tidak Fira, kamu dan anak-anak saja yang pergi" jawab ni Eti sambil tersenyum hangat.
"Baiklah kami pergi dulu ni" ucap Safira pada ni Eti.
"Bibi tolong temani Nini selama saya pergi, jika ada apa-apa tolong segera hubungi kami" ucap Safira pada Bi Idah sebelum pergi meninggalkan Ni Eti.
"Baik bu" jawab bi Idah.
Setelah mendapatkan jawaban Safira pun melangkahkan kakinya menuju mobil yang kini sudah berada di luar halaman, Abizar dan Safira pun berpamitan pada ni Eti dan bi Idah sebelum pergi.
Tidak berapa lama kemudian mobil itu pun melaju di jalan raya menuju taman kota, selama di perjalanan anak-anak tidak berhentinya untuk bernyanyi, mereka selalu senang dan bahagia saat Abizar mengajak mereka bermain seperti saat ini.
Abizar juga terlihat sangat bahagia saat melihat anak-anak Safira tertawa karenanya. "Mungkinkah seperti ini rasanya jika seandainya aku memiliki anak nanti?" batin Abizar bertanya.
Safira yang melihat Abizar tersenyum-senyum sendiri merasa heran, pasalnya saat ini dia tidak melihat hal yang lucu. Dengan penasaran Safira menyentuh kening Abizar dengan punggung tangannya untuk mengukur suhu panas dalam tubuh pria yang sedang duduk dan mengemudi disisinya itu.
"Gak panas" gumam Safira saat menyentuh kening Abizar
Abizar yang merasakan keningnya disentuh oleh Safira diapun menengok ke arahnya.
"Kenapa Fir?" tanya Abizar.
"Bukan Fira yang kenapa. Tapi abang yang kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya Safira yang merasa heran dengan Abizar.
Abizar tidak menjawab pertanyaan Safira dia malah terbengong dengan memikirkan pertanyaan Safira.
"Ditanya malah ngelamun? Abang sehat?" tanya Safira.
"Abang sehat Fir" jawab Abizar dengan cepat.
"Terus kenapa Abang tadi senyum-senyum sendiri perasaan aku tidak melihat hal yang lucu?" tanya Safira lagi.
"Tidak ada. Aku hanya merasa bahagia saat sedang menikmati waktu bersama kamu dan juga anak-anak. aku seperti merasa menjadi seorang ayah bagi anak-anak mu" jawab Abizar seraya menatap Safira dengan hangat.
Safira pun tersenyum mendengar jawaban Abizar. Dalam hatinya ia merasa sangat beruntung karena sudah bertemu dan mengenal dengan sosok pria ini.
"Aku juga senang karena bisa membuat bahagia anak-anak seperti saat ini, tapi aku juga merasa bersalah karena aku hanya bisa merepotkan Abang seperti ini" ucap Safira seraya menundukkan kepalanya.
Abizar tersenyum mendengar kata-kata Safira dia pun mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Safira dengan sayang.
"Tenanglah aku tidak pernah merasa direpotkan oleh mu dan anak-anak, aku tulus melakukan ini semua untuk kebahagiaan kalian. Karena kebahagiaan kalian adalah sebagian kebahagiaanku juga, jadi jangan pernah merasa bersalah karena merepotkan ku" ucap Abizar dengan tulus.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, mereka pun akhirnya tiba di taman kota itu ternyata disana banyak juga orang-orang yang menikmati sore hari mereka dengan bersantai di taman.
Abizar turun terlebih dahulu dia membukakan pintu mobil untuk Safira dan juga anak-anak. Safira segera menuntun anak-anak untuk berjalan bersama, sedangkan Abizar mengikuti langkah mereka di belakang dengan tas yang berisikan cemilan dan juga di sebelah tangannya menggenggam tangan kecil milik Dayyan.
Sedangkan Abizar dan anak-anak tengah berlarian saling mengejar satu sama lain, jika sedang seperti itu mereka lebih terlihat seperti keluarga bahagia.
Arselo tersenyum miris melihat pemandangan di depannya "Sebuah keluarga yang bahagia" gumamnya.
Arselo terus mengawasi kegiatan anak-anak dan juga pria yang kini tengah ditindih oleh anak-anaknya itu.
dalam hatinya ia kembali panas melihat pemandangan itu, berjuta sesal yang ada dalam hatinya sangatlah menyesakkan dan membuat dadanya sakit.
"Maafkan aku, karena sudah menyia-nyiakan kalian selama ini" ucapnya pelan sebelum akhirnya ia memilih berlalu dari taman itu.
Pada awalnya ia datang ke taman itu untuk menenangkan pikiran setelah pulang kerja tadi, tanpa sengaja ia melihat Safira dan anak-anak sedang berada di sana bersama pria yang dia lihat tadi pagi.
Saat Arselo baru beberapa melangkah kan kakinya tiba-tiba ada seorang anak kecil yang mengejar dan memanggil namanya.
"Om El!!! Tunggu" teriak anak itu.
Seketika itu juga Arselo berbalik dan melihat seorang anak kecil yang kini tengah berada tepat di depannya.
"Om masih ingat sama aku nggak? aku Raiyan yang waktu itu nggak sengaja om tabrak dan menjatuhkan makananku" ucap Raiyan yang sudah berhasil mengejar Arselo.
Arselo terdiam dia belum menjawab pertanyaan Raiyan, dia tidak menyangka jika anak itu akan melihat bahkan mengejarnya.
Arselo pun menundukkan badan untuk menyetarakan tinggi badannya dengan anak itu.
"Tentu saja om mengingat mu anak tampan" ucap Arselo, matanya menatap haru Raiyan yang mau menghampirinya, sedangkan dua anaknya yang lain hanya menatap takut, Safira pun hanya menatap dingin bersama seorang pria yang ia lihat tadi pagi.
"Om? bolehkah aku berharap di panggil papa oleh anak-anakku?" batin Abizar sedih.
"Om disini sama siapa?" tanya Raiyan sambil menengok sekitar mencari seseorang.
"Om disini sendiri saja. Apa Rai kesini sama mama papa?" tanya Arselo.
"Iya sama mama dan om Abi" jawab Raiyan seraya menunjuk ke arah anggota keluarganya berada.
"Oh, itu bukan papanya Rai?" tanya Arselo.
"Bukan om, mama bilang papanya Rai masih kerja cari uang" jawab Raiyan dengan wajah polosnya.
"Apa yang sebenarnya di katakan Safira pada anak-anak?" tanyanya dalam hati.
"Oh, jadi papa Rai belum pulang?" tanya Arselo mencoba mencari tahu jawabannya sendiri.
Raiyan menggeleng pelan, ia terlihat murung saat Arselo menanyakan tentang papanya
Arselo pun mencoba mengalihkan pembicaraannya agar Raiyan tak murung lagi.
"Rai suka piknik sore?" tanya Arselo.
"Suka om, di sini banyak orang, Rai senang berada di sini" jawab Raiyan antusias.
Setelah melihat senyum Raiyan lagi, Arselo merasa lega, dia pun segera menyuruh Raiyan kembali ke arah Safira. Meskipun hatinya sedih, tapi dia juga cukup bahagia bisa mengobrol dengan salah satu anaknya meskipun sebentar.