
Waktu berlalu, tak terasa usia kehamilan Safira sudah menginjak enam bulan. Kini Safira pun sudah mulai bangkit dari keterpurukannya, berkat orang-orang yang selalu mendukungnya dan juga kehadiran Arselo yang tidak pernah absen setiap pagi untuk datang ke rumahnya.
Begitu pun dengan anak-anak yang sudah jauh lebih dekat dengannya, mereka juga sudah tidak segan untuk meminta apapun dari Arselo.
Kedekatan Arselo dan Safira tidak lebih dari sekedar orang tua untuk anak-anaknya, di antara mereka belum ada yang berani mengungkapkan perasaannya masing-masing. Safira masih berfikir untuk menata hatinya kembali, sedangkan Arselo lebih mengutamakan perasaan Safira.
Ia cukup tahu diri untuk tidak berharap lebih pada wanita yang menjadi ibu untuk ketiga anaknya itu, terlepas dari semua perhatian yang selama ini Arselo tunjukkan, semata-mata hanya untuk membuat Safira mengalihkan fikirannya agar tidak selalu fokus dengan masa lalunya. Walau bagaimanapun, Safira harus hidup bahagia tanpa suatu kecemasan.
"Mama, dua hari lagi di sekolahan akan mengadakan kompetisi kekompakan keluarga. Apa mama bisa ikut?" tanya Qirani.
Saat ini mereka sedang duduk bersama di depan TV di temani dengan cemilan buatan Safira.
"Mama mu sedang mengandung adik bayi, kakak. Bagaimana jika kalian bicarakan ini dengan papa El? Siapa tahu beliau bisa menemani kalian" usul Ni Eti.
Tidak mungkin jika harus Safira yang menemani anak-anaknya untuk ikut lomba.
"Tapi kira-kira papa sibuk atau ngga ya ma?" tanya Raiyan.
"Coba tanyakan aja dulu, mudah-mudahan papa bisa temani kalian" usul Safira seraya memberikan ponselnya kepada anak-anak untuk menghubungi Arselo.
Cukup lama hingga panggilan itu di jawabnya, dan anak-anak yang sudah merasa kesal, akhirnya meninggalkan Safira di kamarnya bersama ponsel itu.
"Halo Fir?" tanya Arselo saat ia mengetahui jika Safira-lah yang menghubunginya.
"El, apa kamu sedang sibuk?"
"Tidak, aku baru saja selesai meeting dengan klain. Ada apa?"
"Oh, aku ingin mengetahui jadwal mu akhir minggu ini, sibuk tidak?"
"Entahlah, aku belum melihat jadwal ku dua hari kedepan. Memangnya kenapa?"
"Hmmm, anak-anak tadi bilang jika dua hari kedepan akan ada pertandingan kekompakan bersama orang tua. Aku tidak bisa menemani mereka, apa kamu bisa"
Arselo tidak langsung menjawab, ia juga sangat ingin bisa menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak dan juga Safira, tapi ia belum tahu dengan jadwalnya sendiri.
"Akan aku usahakan, Fira. Kamu tidak perlu khawatir" jawab Arselo
"Benarkah? Kamu tidak perlu memaksakan diri jika memang mempunyai jadwal yang sibuk, kami pasti akan mengerti"
"Tidak apa-apa Fira, aku malah senang jika bisa menghabiskan waktu bersama kalian"
"Baiklah. Terima kasih banyak, El"
"Kamu tidak perlu berterima kasih, Aku akan dengan senang hati melakukannya"
"Baiklah, baiklah. Terserah kamu saja"
"Hmmm, iya. Apa kamu sudah makan siang?"
"Sudah, tadi aku makan bersama dengan anak-anak. Bagaimana dengan mu?"
"Entahlah, aku tidak berselera makan. Saat ini aku sedang menginginkan hal lain. Ngomong-ngomong kapan jadwal mu cek kandungan?"
"Sekitar tiga hari lagi, kenapa?"
"Bolehkah jika kali ini aku yang mengantar mu?"
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengunjungi kalian nanti sore saat pulang kerja"
"Ya, El"
Setelah itu Safira pun menutup panggilan teleponnya, dia kembali menuju ruang keluarga untuk berkumpul bersama ketika anaknya dan juga Ni Eti.
"Bagaimana ma?" tanya Dayyan dengan tidak sabaran.
"Sore ini papa kan datang kemari, jadi kalian tanyakan saja pada papa nanti" jawab Safira. Dia juga tidak bisa memberikan jawaban kepastian pada anak-anaknya.
Dayyan pun mengangguk kepalanya tanda mengerti. Mereka pun kembali melanjutkan tontonan yang tadi sempat terhenti.
***
Di sebuah rumah tua di pinggir jalan, seorang wanita jangan mengalami pendarahan yang sangat hebat. Dia hanya sendirian di tempat itu, sedangkan tuannya tidak ada di sana.
Vivi memang berhasil kabur dari kejaran para pencuri itu saat di negara S, sudah sekitar empat bulan yang lalu dia berhasil kembali pulang ke negara ini. Dia mengikuti seorang pria tambun dengan kepala plontos yang sekarang jadi tuannya.
Nasib Vivi benar-benar sudah tidak bisa diharapkan, dia bisa pulang dari negara itu dengan menjadi budak ***** pria tambun yang menolongnya saat di negara S.
"Aaakkkhhh...!!! Tolong...!!! Aku sudah tidak tahan lagi, ini sakit sekali" ucap Vivi meracau sendirian karena di rumah itu memang tidak ada orang lain selain dirinya. Sedangkan pria yang menjadi tuan nya itu tidak pernah hadir di siang hari dan selalu kembali saat malam hari itu pun datangnya selalu larut malam dan akan kembali saat matahari belum terbit
"Tolong...!!!" Vivi yang lemah karena menahan rasa sakit yang ia derita.
Saat kesadarannya hampir hilang, dia seperti melihat seseorang yang mendobrak pintu kamar itu. Belum sempat Vivi melihat orang itu, kesadarannya sudah tidak bisa ia tahan akhirnya Vivi pun jatuh pingsan.
Vivi tersadar saat ia sudah berada di rumah sakit kepolisian, bajunya pun sudah berganti dengan baju khusus tahanan.
"S***, kenapa aku bisa sampai tertangkap l,agi seperti ini" desis Vivi dengan pelan. Ia tidak menyangka jika hari ini dia kembali masuk ke sel tahanan yang dulu sempat ia tinggali.
"Kamu sudah sadar?" tanya seseorang yang begitu Vivi kenal.
"El? Apakah itu kamu?" tanya Vivi pada laki-laki yang baru saja menegurnya.
Laki-laki itu pun mulai menampakan badannya.
"Kenapa? Terkejut?" tanya Arselo dengan nada dinginnya.
"Double ****... Kenapa harus di temuin Arselo, sih? Aaakkkhhh!!!" gumam kesal hati Vivi.
"Akh, mmmh, a–aku tidak menyangka jika kamu yang sudah menyelamatkan ku. Terimakasih sudah menolong ku. Ba–bagaimana dengan kandungan ku? Apa janinnya baik-baik saja?" ucap Vivi gugup karena ia merasa ketakutan.
Arselo mendengus sebal saat mendengar ucapan Vivi.
"Dokter sudah mengangkat rahim mu" jawab Arselo tanpa basa-basi.
Vivi terlihat terkejut mendengar jawaban Arselo.
"A–apa? Ti–tidak mungkin, El. Tidak mungkin kalian melakukan ini padaku!!! Kenapa kalian tega melakukan itu tanpa persetujuan ku?" amuk Vivi. Ia sama sekali tidak menyangka jika rahimnya akan benar-benar diangkat.
"Sudahlah, dokter hanya ingin menyelamatkan nyawamu saja. harusnya kamu bersyukur karena nyawamu masih bisa tertolong, sekarang kamu hanya perlu mempertanggungjawabkan semua kejahatan yang sudah kamu lakukan" ucap Arselo tanpa mengindahkan ucapan terima kasih Vivi.
"Tapi El, aku tidak bersalah. Yang melakukan penembakan itu Axel, bukan aku. Aku juga sudah menjadi korbannya Axel, aku mohon jangan penjarakan aku" mohon Vivi dengan wajah memelas.
Arselo membuang pandangannya, dia sudah begitu muak dengan semua yang Vivi lakukan selama ini. Setelah memastikan Vivi benar-benar aman di sana, tidak bisa kabur lagi, Arselo pun berlalu pergi meninggalkannya.