Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 68



Arselo dibuat geram oleh tindakan Devi terhadap Safira dan anak-anaknya yang secara terang-terangan menunjukan ketidaksukaannya.


"Sofyan, tolong kamu urus Vivi dan Devi. Sepertinya mereka tidak bisa lagi di kasihani" ucap Arselo pada Sofyan, asistennya.


"Apa anda ada akan menjebloskan mereka berdua ke dalam penjara?" tanya Sofyan memastikan.


"Ya, hukum mereka dengan seberat-beratnya. Sudah terlalu banyak kejahatan yang mereka perbuat" jawab Arselo.


"Baik tuan, akan saya laksanakan" ucap Sofyan.


Saat ini Arselo sedang berada di kantornya lagi, setelah sebelumnya ia menjemput anak-anak dan membawanya ke rumah orang tuanya.


Sepeninggalan Sofyan, Arselo pun menghubungi Frans dan Zian untuk membantunya mengurus masalah Devi dan Vivi.


"Zi, bantu gue buat urusin Vivi. Ternyata dia yang sudah mencelakai Safira dan anak-anak waktu itu" ucap Arselo pada Zian.


"Seriusan loe?" tanya Frans yang juga ada di sana.


"Iya, tadi Safira yang bilang, kalau kejadian tabrak lari yang menimpanya beberapa bulan lalu itu adalah perbuatan Devi dan Vivi yang gak suka atas kehadiran anak-anakku. Devi juga menyalahkan Safira atas perceraian ku dan Vivi" jelas Arselo.


Kedua teman Arselo itu begitu terkejut, mereka tidak menyangka jika Vivi dan Devi bisa sekejam itu terhadap orang lain, menurut mereka meskipun Devi orang yang cukup kasar dan paling bar-bar antara Sarah dan Vivi, tapi mereka tidak berpikir jika Devi bisa menjadi orang yang kejam, hingga ingin melenyapkan nyawa seseorang.


"Gue beneran gak nyangka kalo Devi bisa berbuat hal yang seperti itu" ujar Zian yang pernah mempunyai rasa terhadap Devi.


"Kenapa bisa nggak nyangka? Sedangkan Vivi saja bisa seperti itu terhadap anaknya sendiri?" tanya Frans yang kesal sendiri jika pengingat kejahatan Vivi terhadap anaknya.


"Iya, maka dari itu gue meminta kalian buat bantuin gue supaya Devi dan Vivi bisa menjauh dari Safira Dan anak-anak. Gue nggak tenang kalau Vivi dan Devi masih berkeliaran bebas, bisa saja mereka akan berbuat hal serupa di lain hari" ujar Arselo.


"Ok, gue ngerti apa yang harus dilakuin sekarang" ucap Frans.


"Kalau masalah perceraian kalian, loe tenang aja bakal gue bantuin" ucap Zian sambil menepuk bahu Arselo.


"Ok, thank bro" jawab Arselo pada kedua sahabatnya.


Mereka bertiga mengobrol ke sana kemari dan membahas semua hal yang menyangkut masalah Vivi.


"El, gimana hubungan loe sama anak-anak? Apa mereka udah mau manggil loe papa? Seingat gue anak gadis loe dan abangnya itu manggil loe dengan sebutan Om?" tanya Frans


"Wah hebat ya dia, bisa naklukin Safira sama dapetin hati anak-anak loe" ucap Frans yang mana membuat Arselo merasa sedih lagi.


"Aku harus bisa tunjukkin ke mereka kalau aku juga bisa lebih baik dari Abizar" batin Arselo yang tidak terima dirinya masih di banding-bandingkan dengan orang lain.


***


Di sebuah rumah sederhana, Vivi dan Devi tengah bertengkar hebat.


"Kenapa loe mesti nyamperin cewek s****n itu sih? Gue kan udah ngomong, kalau loe gak perlu ikut campur urusan gue lagi" ujar Vivi dengan nada tinggi. ia di buat geram oleh tindakan Devi yang menurutnya membahayakan diri mereka.


"Gue cuma kesel aja vi, gue gak bermaksud buat nyelakain diri kita. Biasanya tuh cewek bakal nurut dan patuh kalau gue suruh" jawab Devi yang tidak mau di salahkan.


"Ya tapi gak gitu juga Dev, dia itu terus-terusan di pantau sama Arselo sekarang. Apalagi ada anak-anak yang sekarang Arselo perhatikan. Gue makin gak akan pernah bisa bersatu lagi sama Arselo, Dev" ujar Vivi dengan menangis histeris.


Inilah alasan Devi menemui Safira, ia tidak tega melihat sepupunya yang menangis meraung-raung, kadang marah-marah, dan sampai melukai dirinya sendiri.


Jika sudah seperti ini, Devi hanya bisa menyuntikkan obat penenang agar Vivi kembali tenang dan tidak menangis histeris lagi.


Sebenarnya dokter psikiater yang di kunjungi oleh Vivi dan Devi sudah menyarankannya untuk membawa Vivi ke rumah sakit jiwa agar ditangani dengan benar, tapi karena merasa kasihan jika Vivi dirawat di sana, akhirnya Devi pun tidak menuruti saran dari dokter itu dan memilih untuk tetap merawat Vivi sendiri. Karena menurut Devi, Vivi hanyalah sedang merasa terpuruk saja dan akan kembali membaik jika pernikahan mereka terselamatkan.


"Vi, gue harus gimana lagi? Gue bener-bener nggak tega lihat loe kayak gini" ucap Devi sambil membelai rambut Vivi yang sudah mulai tertidur akibat obat penenang yang baru saja di suntikan olehnya.


"Ini semua gara-gara Safira dan anak-anaknya yang tiba-tiba muncul di kehidupan Arselo! Harusnya dulu gue lenyapin aja dia biar tahu rasa" gumam Devi dengan amarahnya.


Sebenarnya Devi bukan tanpa alasan kesal dan benci terhadap Safira, dulu dia sengaja mendekati Sarah yang berteman dengan Safira agar membantunya untuk membalaskan dendam yang sudah dia rencanakan sejak dulu.


Devi masih sangat mengingat saat kakak laki-lakinya mengatakan jika dia sedang jatuh hati pada seorang gadis, gadis itu begitu spesial di hati kakak laki-lakinya hingga suatu kejadian yang tidak terduga.


Kakak laki-lakinya tewas tertabrak sebuah mobil gara-gara menyelamatkan gadis yang ia sukai. Dan Devi baru tahu jika gadis itu adalah Safira, Safira lah yang menyebabkan kakak laki-lakinya itu meninggal dunia.


Dari sejak itulah Devi mulai membenci Safira hingga ia merencanakan pemerkosaan Safira yang di bantu oleh Arselo.


Dan kini ia juga harus terima, jika sepupu yang sangat dekat dengannya harus mengalami hal sulit gara-gara Safira dan anak-anaknya.


"Akkkhhh... Safira lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu dan anak-anak mu nanti" geram Devi sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.