Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 83



Pagi ini Arselo datang ke rumah Safira, selain dia merindukan ketiga anaknya, dia juga mempunyai hal yang harus disampaikan pada Safira terkait orang yang sudah membuat Abizar meninggal.


"Pagi anak-anak papa yang cantik dan tampan-tampan" sapa Arselo pada ketiga anaknya yang sedang menikmati sarapan mereka.


"Pagi juga pa" jawab anak-anak itu bersamaan.


Arselo mengusap pucuk kepala ketiga anaknya dan bersalaman dengan Ni Eti yang sama halnya sedang menikmati sarapan.


"Fira gak ikut sarapan, Ni?" tanya Arselo yang tidak melihat keberadaan Safira di ruang makan.


"Fira masih di kamar, dari tadi dia terus-menerus merasa mual" jawab Ni Eti.


Arselo pun menganggukkan kepalanya, ia berlalu menuju dapur untuk membuatkan air jahe hangat dan akan membawanya ke kamar Safira.


Simbok yang berada di sana ikut membantu Arselo menyiapkan makanan untuk Safira, sementara dirinya yang akan membuat air jahe.


"Mbok, tolong siapkan sarapan untuk Safira. Biar nanti saya yang akan membawanya" ucap Arselo.


"Baik tuan" jawab simbok.


Setelah selesai merebus air jahe, Arselo pun membawanya beserta sarapan yang sudah disiapkan di atas nampan oleh simbok.


Tok... tok... tok...


Dengan bersusah payah, arselo mengetuk pintu kamar Safira.


Ceklek...


Pintu kamar itu pun terbuka dan menampilkan suster Mia yang membukakannya.


"Silakan masuk tuan, biar saya yang akan menyimpan sarapan Nyonya Safira" ucap suster Mia seraya mengambil nampan yang Arselo bawa.


"Dimana Safira?" tanya arselo saat ia tidak melihat Safira di atas tempat tidur.


"Nyonya sedang berada di kamar mandi, tuan. Dari tadi beliau terus menerus muntah" jawab suster Mia setelah ia menyimpan sarapan milik Safira.


Arselo pun melangkah menuju kamar mandi yang masih tertutup, samar-samar ia mendengar Safira yang masih berusaha untuk membuang cairan bening dan pahit itu.


"Fira, apa kamu baik-baik saja di dalam?" tanya Arselo sambil mengetuk pintu kamar mandi itu.


Tak ada jawaban dari Safira.


"Maaf jika aku lancang masuk" ucap Arselo sambil membuka perlahan pintu kamar mandi.


Tanpa rasa jijik, Arselo membantu memijit tengkuk Safira menggunakan minyak angin yang yang bawa, sampai Safira berhenti memuntahkan cairan itu.


"Sudah cukup, El. Terimakasih sudah membantu" ucap Safira saat ia sudah merasa lebih baik.


"Tidak apa-apa, Aku senang bisa membantumu" jawab Arselo.


Setelah memastikan Safira baik-baik saja, Arselo pun keluar dari kamar mandi itu dan membiarkan Safira menyelesaikan urusannya. Tak lama kemudian Safira pun keluar dari kamar mandi, ia melangkah menuju tempat pembaringannya.


"Minumlah air jahe ini supaya kamu merasa lebih baik" ucap Arselo sambil memberikan gelas air jahe yang ia bawa tadi.


Safira pun menerima gelas yang Arselo berikan padanya untuk diminum.


"Terimakasih" ucap Safira lagi.


Arselo tidak menanggapi ucapan Safira dan hanya tersenyum hangat. Arselo juga menyodorkan sepiring nasi untuk sarapan Safira.


"Aku belum mau makan, El" tolak Safira.


"Makanlah meskipun sedikit, setidaknya itu akan membuatmu lebih bertenaga" ucap Arselo lagi seraya mengulurkan sendok untuk menyuapi Safira.


"Ayolah Fira, kasihan anakmu jika ia kelaparan" bujuk Arselo


"Baiklah, aku bisa sendiri" jawab Safira seraya mengambil piring dan sendok dari pangkuan Arselo.


Dengan terpaksa Safira pun memakan sarapannya, Arselo terus mengawasi Safira hingga makanan Safira pun tandas. Setelah memakan sarapan, Safira merasa heran karena ia tidak merasakan mual seperti biasanya.


"Kenapa kamu terdiam seperti itu? Apa kamu merasa mual lagi?" tanya Arselo khawatir.


"Tidak. Aku hanya heran, biasanya setiap kali selesai makan aku akan merasa mual, tapi saat ini sepertinya tidak mual sama sekali" jawab Safira.


Arselo menghela nafas lega.


"Syukurlah, ku fikir kamu mual lagi" ucap Arselo.


Suster Mia membantu Safira untuk membereskan piring bekas ia makan dan meninggalkan Safira bersama Arselo.


"Fira, aku punya suatu kabar yang harus kamu ketahui, tapi aku mohon kamu jangan sampai histeris lagi. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu maupun janin yang sedang kamu kandung" ucap Arselo sebelum memulai pembicaraannya.


Safira mengernyitkan keningnya karena merasa heran.


"Ada apa, El? Katakan saja, aku akan siap mendengar apapun yang kamu ucapkan" jawab Safira dengan tenang.


Arselo pun mulai bercerita tentang Axel di masa lalunya, dan tentang Vivi yang sudah dibebaskan oleh Axel.


"A–apa? Ja–jadi maksud kamu teman mu itu sudah termakan oleh ucapan Vivi dan berniat balas dendam untuk melenyapkan salah satu anak kita?" tanya Safira dengan tidak percaya.


"Iya, aku juga tidak menyangka jika Axel akan menuruti wanita ular itu" jawab Arselo.


"Lalu di mana sekarang pria itu?" tanya Safira mulai emosi.


Arselo merasa khawatir saat melihat Safira yang sudah terbakar amarah.


"Fira, tenangkan dirimu dulu. Ingatlah saat ini kamu sedang mengandung" ucap Arselo sambil memberikan segelas air minum untuk meredakan amarah Safira. Tanpa menunggu lama, gelas yang berisi air itupun tandas diminum habis oleh Safira.


"Aku janji akan mempertemukanmu dengan Axel, setelah Arsela memeriksa keadaanmu dan menyatakan jika kamu baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, saat ini Axel sudah ditangani Sofyan dengan baik. Aku belum bisa menyerahkannya ke kantor polisi, karena aku akan memancing Vivi untuk kembali ke negara ini. Setelah Vivi tertangkap, Axel juga akan mendapatkan ganjarannya" terang Arselo.


Safira diam mendengarkan perkataan Arselo, sungguh dia merasa lega karena pelakunya sudah diketahui, dan dia juga merasa marah karena alasan pelaku itu bersangkutan dengan dendam Vivi pada Arselo. Dia dan anak-anak beserta Abizar tidak mengetahui masalah mereka, tapi malah terkena imbas oleh perbuatan mereka.


"El, aku ingin bertemu dengan laki-laki itu" pinta Safira dengan nada memohon. Dia ingin melampiaskan semua amarah yang ada di hatinya pada laki-laki yang bernama Axel itu.


"Baiklah, aku akan mempertemukan kalian. Tapi setelah keadaanmu baik-baik saja" jawab Arselo.


Safira pun hanya bisa menganggukan kepalanya, ia akui saat ini kondisinya sangatlah tidak memungkinkan untuk bisa keluar rumah.


Setelah mereka membicarakan masalah itu, anak-anak datang menghampiri mereka untuk berpamitan pergi ke sekolah bersama dengan Anisa.


"Papa, aku ingin diantarkan ke sekolah" mohon Raiyan.


Arselo menganggukkan kepalanya tanda persetujuan.


"Ye... diantar papa" ucap anak itu dengan riang gembira. Arselo dan Safira tersenyum saat melihat tingkah Raiyan.


"Baiklah Fira, kami pergi dulu. Kamu istirahat saja, nanti Arsela akan ku suruh kemari untuk memeriksa kamu lagi" ucap Arselo sebelum ia pergi.


"Iya, aku akan menunggunya" jawab Safira.


Arselo pun berlalu keluar dari kamar bersama dengan ketiga anaknya dan menghampiri Ni Eti untuk berpamitan.


Arselo mengantarkan ketiga anaknya dan Anisa sampai di gerbang sekolah mereka, setelah itu ia melanjutkan kembali perjalanannya menuju kantor untuk bekerja.