Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 114



Hari ini Arselo akan memboyong Safira beserta anak-anak dan Ni Eti pulang ke desa. Ya, desa yang menjadi saksi perjuangan Safira membesarkan anak-anaknya dulu, di desa itu juga Safira kenal dengan orang-orang terdekatnya saat ini. Arselo ingin pergi ke sana karena ia merasa perlu untuk meminta izin seseorang yang sudah sangat berjasa untuknya dan juga anak-anaknya.


Perjalanan yang mereka tempuh sangat jauh, beruntung Divya sama sekali tidak rewel saat itu. Mereka berangkat saat malam hari dan baru sampai saat pagi menjelang.


Arselo membawa mereka ke tempat di mana cottage-nya berada, setelah beristirahat beberapa jam, barulah mereka menuju rumah Bu Resti dan Pak Bambang.


"Assalamualaikum," sapa Safira dan Arselo saat mereka sudah sampai di depan rumah itu.


Selama hampir dua tahun ia tidak datang berkunjung ke desa itu dan kini suasana di sana sudah sangat berbeda dengan saat terakhir kali ia datang. Ya, terakhir kali itu ketika mengantar kepergian sang suami untuk selamanya.


"Wa'alaikum salam." Bu Resti menjawab sapaan mereka, "Kapan datang?" tanya Bu Resti saat sudah berdiri di hadapan Arselo, Safira dan anak-anak.


"Tadi pagi, Bu. Tapi kami istirahat dulu di cottage sebelum kemari," jawab Arselo.


"Oh, ya sudah. Ayo masuk," ajak Bu Resti pada mereka, "Sini Divya sama Nin. Nin kangen banget, lho." Bu Resti mengambil alih Divya dari Safira.


Mereka pun masuk ke rumah Bu Resti bersama-sama, anak-anak segera masuk ke kamar bekas Abizar dulu, merek sudah sangat merindukan tempat itu. Bu Resti juga tidak melarang mereka dan hanya membiarkannya.


Setelah Safira dan Arselo duduk, datanglah seorang pemuda yang membawakan minuman untuk mereka.


"Silakan," ucap pemuda itu.


"Terima kasih," jawab Arselo dan Safira.


Pemuda itupun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Sama-sama, Aa, Teteh. Kalau begitu saya permisi ke belakang dulu," ucap pemuda itu sebelum ia kembali ke dapur.


"Bu, saya dan Safira ingin berziarah ke makam dulu," ucap Arselo mengutarakan niat awalnya.


Bu Resti mengangguk menyetujui niat Arselo dan Safira itu, "Alhamdulillah, kapan kalian akan ke makam?"


"Kalau bisa secepatnya, Bu. Soalnya kami belum mempersiapkan hal lainnya," jawab Arselo.


"Baiklah. Kalau begitu, kita berangkat sekarang saja, mumpung belum terlalu siang," usul Bu Resti yang langsung di setujui oleh Safira dan Arselo.


Saat mereka masih mengobrol, anak-anak datang dari dalam kamar Abizar dengan membawa secarik foto lama.


"Mama, lihat! Aku menemukan foto ini di lipatan baju Papa Abi," ucap Dayyan sambil mengulurkan foto yang tengah dipegangnya.


Safira menerima uluran foto itu dan melihatnya, begitupun dengan Arselo yang ikut penasaran dengan foto itu.


Ternyata itu adalah foto Abizar dan dirinya saat sedang mengandung delapan bulan si kembar tiga. Di sana ia melihat Abizar yang tersenyum bahagia ke arah kamera, begitu juga dengan Safira yang sedang memamerkan perut buncitnya.


"Ternyata Mas Abi masih menyimpan foto ini," gumam Safira pelan. Ia tersenyum sambil mengusap ujung matanya yang basah.


Arselo melihat itu semua, ia melihat air mata Safira saat menatap foto lama itu, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sudahlah, Fira. Mau sampai kapan kamu akan menangis setiap kali melihat fotonya?" tanya Bu Resti. Ia menyadari tatapan Arselo pada Safira.


"Emmmh, maaf, El, Bu. Aku tidak bermaksud apa-apa, tolong ibu simpan foto ini untuk kenang-kenangan anak-anak, ya, Bu," ucap Safira pada Bu Resti.


Bu Resti menerima foto yang diulurkan padanya, "Iya, biar Ibu saja yang simpan."


"Anak-anak, Mama dan Papa mau ke makam dulu, kalian mau ikut atau tidak?" tanya Arselo.


Ketiga anak itupun mengangguk, "Ayo, Pa. Kami ikut," ucap Dayyan mewakili dua saudaranya yang lain.


Setelah itu, merek pun berjalan menuju area pemakaman umum yang ada di sana. Bu Resti melarang Safira dan Arselo untuk membawa Divya bersama mereka, jadilah hanya Arselo, Safira, Dayyan, Raiyan dan Qirani saja yang pergi ke sana.


Sesampai di sana, Arselo mulai memimpin doa diikuti oleh Safira dan anak-anak, mereka melakukan acara doa itu dengan khusuk.


Setelah selesai dengan acara doa, barulah Arselo mulai berbicara di sana.


"Abi, aku datang kemari untuk meminta doa restu darimu. Aku akan menikahi Safira kurang dari tiga minggu lagi, sekarang aku mencintainya. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya lagi. Terima kasih karena sudah menjaga mereka hingga akhir hayatmu dan aku juga berjanji akan menemani mereka semua sampai waktuku habis," ucap Arselo.


Safira dan anak-anak tidak bisa lagi membendung air matanya, mereka menangis dengan memeluk Safira. Setelah Arselo selesai, kini giliran Safira yang berbicara.


"Mas, sekarang aku sudah bahagia di sini, kamu juga pasti tahu, kan? Anak kita juga sangat cantik, Mas, dia bernama Divya Janitra sangat cocok dengannya–" Safira menjeda perkataannya untuk menghalau rasa sesak yang ada di dalam dadanya. "Dia lebih mirip denganku hanya mata dan hidungnya saja yang mirip denganmu. Ya, pokoknya dia sangat cantik. Dia juga sangat dekat dengan Arselo, bahkan lebih manja daripada kakak-kakaknya yang lain. Sekarang kamu bisa benar-benar tenang karena anak-anak sudah ada yang menjaganya," sambung Safira.


Anak-anak menatap Safira dengan pandangan yang sedih, entah apa yang mereka bertiga pikirkan karena mereka hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa.


"Bang Day, Bang Rai, Kak Qiran, apakah kalian tidak mau menyapa Papa Abi?" tanya Safira pada anak-anaknya.


Ketiga anak itu pun ikut berjongkok di sebelah Safira dan Arselo, "Papa, apa kabar? Kami sangat merindukanmu, kami harap Papa Abi merindukan kami juga," ucap Dayyan diiringi dengan aliran air mata di wajahnya.


"Papa, kenapa Papa tidak pernah datang dalam mimpi kami? Bukankah Papa pernah berjanji akan mengunjungi kami jika kami berbuat baik?" tanya Qirani.


Safira dan Arselo saling menatap, mereka sama merasakan kesedihan, seperti apa yang dirasakan oleh ketiga anak-anak itu.


"Sayang, kamu harus kuat. Jangan membuat Papa Abi di sana sedih karena melihatmu yang sedih seperti ini." Arselo berucap sambil memeluk Qirani yang berada disampingnya.


Qirani semakin terisak di pelukan Papanya, begitupun Dayyan dan Raiyan yang sudah sama-sama menangis dipelukan Safira.


"Sayang, kita semua sangat sedih dan merasa kehilangan, tapi Papa Abi akan merasa lebih sedih saat melihat kalian menangis seperti ini. Jadi seharusnya kalian tidak boleh menangis lagi jika tidak ingin membuat Papa Abi sedih," ucap Safira.


Setelah Safira mengatakan hal itu, anak-anak pun mulai tenang. "Jadi kami tidak boleh menangisi Papa Abi lagi, Ma?" tanya Raiyan.


"Tentu saja sayang, sekarang biarkan Papa Abi tenang di alam sana," jawab Safira.


Setelah melihat anak-anaknya tenang dan tidak menangis lagi, barulah Safira dan Arselo pamit untuk pulang.


"Mas, kami pamit pulang dulu. Insyaallah jika ada kesempatan lagi, kami akan mengunjungimu," ucap Safira sebelum mereka berlima pergi dari area pemakaman itu.


Tanpa mereka ketahui, ada sosok lain yang melihat kedatangan dan kepergian mereka dengan wajah yang bahagia.


"Ya, kamu benar, Fira. Sekarang aku sudah bisa tenang. Semoga kalian selalu bahagia, aku akan selalu mendoakan kalian semua dari sini."


Perlahan-lahan bayangan itu pun memudar diikuti dengan embusan angin dingin dan dedaunan kering yang berjatuhan. Safira sempat menengok kebelakang dan melihat bayangan itu sekilas, sebelum akhirnya bayangan itu benar-benar menghilang.


Terima Kasih :)


.


.


.


.


.


.


Tamatin atau lanjut?


Di tunggu like, vote dan komentar'y ya...


Jangan lupa mampir ke karya novelku yg lain, Terima Kasih 🙏🙏❤️❤️❤️