Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 93



Siang harinya Arselo beserta ke tiga anaknya akan membuat kejutan untuk Safira, anak-anak kompak membantu Arselo. Mereka semua pergi ke taman kota, tempat dulu Safira sering datang ke sana bersama Abizar.


Arselo menyiapkan acara piknik keluarga mereka dengan di bantu Caca dan Ni Eti. Sedangkan Safira sendiri tak mengetahui apa-apa, dari sejak Arselo datang ke rumahnya, ia mendiamkan Arselo bahkan seakan-akan tak melihat keberadaannya.


Arselo yang masih tidak mengerti dengan sikap Safira hanya bisa menarik nafasnya dalam, baru kali ini ia tidak mampu membujuk wanita, dan wanita itu adalah Safira.


"Nak El, apa persiapannya sudah selesai?" tanya Ni Eti yang datang dari arah dapur.


"Sudah, Ni. Caca juga sudah menyiapkan tempatnya, sekarang hanya tinggal kita yang membawa Safira ke taman itu" jawab Arselo menuntun tangan anak-anak.


"Ya sudah, sekarang kita pergi duluan. Nanti mama akan menyusul bersama Nini dan aunty Caca" ajak Arselo pada ketiga anaknya.


Setelah mendapat persetujuan dari Ni Eti, Arselo pun berlalu pergi bersama anak-anak, sedangkan Ni Eti akan menyusul bersama Caca dan Safira.


"Kalian sudah menyiapkan kejutan untuk mama nanti?" tanya Arselo pada anak-anaknya.


"Sudah, pa. Kami juga membuat gambar untuk mama" jawab Raiyan seraya menunjukkan kertas yang bergambar mereka lengkap dengan Abizar yang berdiri di samping Safira.


Arselo tersenyum miris.


"Ternyata keberadaan Abizar sangat membekas di hati mereka" gumam hati Arselo.


"Ya sudah, kalian rapihkan lagi, nanti kita pasangkan di sana" ucap Arselo yang di angguki oleh anak-anak.


Setelah kepergian anak-anak dan Arselo, Ni Eti meminta Caca untuk membujuk Safira.


"Ca, sekarang kamu bantu Nini untuk membujuk Safira ya. Dari tadi dia belum keluar kamar lagi" titah Ni Eti pada Caca.


"Kalau boleh tahu memangnya teh Fira kenapa, Ni?" tanya Caca karena belum mengetahui kejadian yang sebenarnya.


Ni Eti pun menceritakan semua kesalahpahaman yang terjadi pada Safira dan Arselo, Caca pun mendengarkannya dengan seksama.


"Oh, lagian bang Arselo juga yang salah. Kenapa dia tidak menceritakannya secara lebih detail pada teh Fira, ditambah lagi hormon ibu hamil yang sangat sensitif, jadilah kesalahpahaman itu semakin berlanjut" ucap Caca yang di angguki oleh Ni Eti.


"Ya, maka dari itu nak Arselo meminta supaya kita turut membantunya untuk membujuk Safira" jawab Ni Eti.


Setelah paham, Caca pun mulai melangkah menuju kamar Safira.


Tok... tok... tok...


Caca mulai mengetuk pintu kamar Safira yang terkunci dari dalam.


Ceklek...


pintu kamar itu dibuka oleh Safira, dan menampilkan Safira dengan mata yang sembab.


"Teteh habis nangis?" tanya Caca dengan khawatir karena melihat mata Safira yang masih basah bekas air mata.


"Ngga, teteh gak apa-apa, Ca. Cuma lagi sedih aja, ingat mas Abi" jawab Safira seraya mengusap air matanya yang kembali menetes.


Caca pun merengkuh tubuh Safira untuk dipeluknya.


"Sabar teh, aku juga tahu posisi teteh saat ini. Aku juga ngerti, nggak mudah berada di posisi yang sama untuk kedua kalinya. Teteh harus lebih sabar, aku yakin teteh akan bisa ngelewatin semua ujian ini dengan tegar" ucap Caca di sela-sela pelukan mereka.


Safira pun menganggukkan kepalanya.


"Sekarang teteh bersihkan diri dulu, kita akan jalan-jalan supaya teteh nggak terlalu sumpek karena di rumah terus" ucap Caca seraya melepaskan pelukannya.


"Emang kita mau kemana, Ca? Dan lagi anak-anak pada kemana kenapa di rumah sepi banget?" tanya Safira sambil menatap ke sekitar ruangan itu yang sangat terasa sunyi.


"Anak-anak sedang dibawa bang Arselo main keluar" jawab Caca.


"Oh gitu, kenapa mereka tidak izin dulu pada aku?"


"Teteh dari tadi terus berdiam di kamar, dan tidak akan ganggu teteh karena pintu kamarnya juga dikunci"


"Ya udah, sekarang teteh siap-siap dulu. Aku dan Nini akan tunggu di ruang keluarga"


Safira pun menganggukkan kepalanya dan membiarkan Caca pergi dari hadapannya. Ia pun kembali masuk ke kamarnya untuk segera bersiap-siap.


Safira mengikuti kemana Ni Eti dan Caca membawanya pergi tanpa protes, ia memang sedikit penasaran, tapi ia urungkan untuk bertanya. Mereka pun tiba di taman itu, Safira merasa heran karena taman tampak sepi pengunjung, ia hanya melihat satu tenda kecil di sana dan tikar yang cukup besar lengkap dengan banyak cemilan.


"Ca, kenapa tamannya lebih sepi dari biasanya ya?" tanya Safira


"Entahlah, Teh. Aku juga tidak tahu" jawab Caca. Tanpa sepengetahuan Safira, Ni Eti sudah pergi dari sana meninggalkannya bersama Caca.


Tepat saat Safira masih kebingungan, tiba-tiba dari arah belakangnya di kejutkan.


"SURPRISE..." ucap orang-orang itu.


Di sana hadir Nyonya Sita, Tuan Ardan, Bu Resti serta pak Bambang, dan tidak lupa juga ketiga anaknya ada di sana bersama dengan Arselo.


Safira dibuat terkejut sekaligus terharu dengan acara yang sudah mereka buat untuknya. Arselo pun maju selangkah lebih dekat dengan Safira.


"Fira, aku tidak tahu dimana letak kesalahan ku, dan kamu juga tidak memberi tahukan kesalahan ku. Tapi apapun itu, aku minta maaf yang sebesar-besarnya" ucap Arselo dengan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.


Safira yang masih kesal dengan Arselo tidak menanggapi ucapannya, dia malah berlalu pergi dari sana dan meninggalkan orang-orang dengan tatapan yang bingung.


Tanpa berpikir panjang, Arselo pun segera menyusul Safira.


"Fira, sebenarnya kamu kenapa? Aku mohon jangan diamkan aku seperti ini"


Safira menatap Arselo dengan tatapan yang menghunus tajam.


"Harusnya kamu tidak perlu memperlakukan kami dengan baik, jika pada akhirnya kamu akan tetap pergi meninggalkan kami"


Arselo semakin tidak mengerti dengan perkataan Safira.


"Aku tidak mengerti dengan semua ucapanmu, siapa yang akan pergi meninggalkan kalian?"


"Tentu saja kamu. Jika kamu sudah berbaikan dengan Vivi, kamu pasti akan meninggalkan kami"


"Vivi?"


Arselo semakin tidak mengerti dengan tuduhan Safira.


"Kenapa aku harus kembali dengan Vivi?" tanya Arselo.


"Bukankah waktu itu kamu sendiri yang berkata jika kamu sudah menemuinya? Bahkan kamu juga melupakan janji untuk menemui kami sore itu" jawab Safira dengan lirih, air matanya pun sudah mulai menggenang.


Kini Arselo mengerti dengan alasan kenapa Safira bisa berubah sikap padanya.


"Kamu sudah salah paham, Fira. Waktu itu aku memang menemui Vivi untuk kembali menangkapnya, dia sudah ditemukan di sebuah rumah tua dengan keadaan yang cukup mengenaskan, dia di jadikan budak s** oleh seseorang, bahkan saat itu dia juga sedang mengalami pendarahan hebat saat itu hingga membuatnya keguguran dan dengan terpaksa para dokter juga mengangkat rahimnya" jelas Arselo.


"Jadi semua itu salah paham?" tanya Safira lagi.


Arselo menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


"Tetap saja kamu bersalah! Kenapa tidak menjelaskan semuanya dari awal?" tanya Safira masih kesal.


"Terus kenapa kamu tidak bertanya padaku saat itu?" tanya Arselo.


"JADI KAMU MENYALAHKANKU–?" tanya Safira lagi dengan nada tinggi.


"–AKU BENCI KAMU" sambung Safira dengan langsung segera pergi meninggalkan Arselo tatapan heran.


"Apa semua ibu hamil seperti itu?"