Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 126



Setelah Divya menceritakan semuanya kepada Arselo tadi pagi, saat siang setelah semua anak-anaknya pulang sekolah, ia meminta semuanya untuk berkumpul di ruang tamu.


"Abang Day, Abang Rai, Kak Qiran, kalian sudah selesai makan siangnya?" tanya Safira yang melihat ketiga anak anaknya sedang duduk di sofa.


"Iya, Ma. Kami sudah melakukan semuanya," jawab Dayyan yang diangguki oleh kedua adiknya yang lain.


"Ma, ada apa Papa memanggil kami semua seperti ini?" tanya Qirani yang merasa heran, lantaran sang papa jarang sekali meminta ketiga anak-anaknya berkumpul saat siang hari, kecuali jika malam hari, setelah makan malam barulah mereka akan mengadakan family time.


Safira tersenyum dan menggeleng pelan, ia tahu jika anak anaknya sedang khawatir saat ini. Lagipula semua itu terjadi atas dasar ketidaksengajaan, jadi mereka para orang tua hanya perlu meluruskan hal itu saja.


Tak berapa lama kemudian, Arselo pun datang dengan menuntun Divya ditangan kanannya. "Kalian sudah berkumpul?" tanya Arselo dengan mengembangkan senyumnya.


"Papa ...!" sapa ketiga anak itu saat melihat papanya turun bersama sang adik dan langsung menghampiri untuk memeluknya. Mereka berlima pun berjalan beriringan menuju sofa ruang keluarga.


"Papa punya berita bahagia," ucap Arselo saat ia sudah ikut duduk bersama anak-anaknya.


"Berita bahagia? Berita apa itu, Pa?" tanya Qirani dengan penasaran.


Arselo tersenyum sebelum menjawabnya, "Sebentar lagi kalian akan mempunyai adik baru."


Seketika itu juga ruangan menjadi senyap sunyi, tak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun, entah apa yang ada dipikiran mereka masing-masing.


Safira dan Arselo sudah harap-harap cemas saat melihat reaksi semua anak-anaknya yang terdiam.


"Ehemm." Arselo berdehem untuk mengurangi kesunyian yang ada di ruangan itu.


"Apa kalian tidak senang mendengarnya?" tanyanya.


Seperti tersadar dari lamunan, ketiga anak itu pun langsung berdiri dan memeluk Safira.


"Selamat, Mama ...!" seru anak-anak itu dengan riang.


Safira dan Arselo menghembuskan nafasnya lega, mereka sudah cemas saat anak-anak tadi terdiam dan khawatir jika tidak menginginkan seorang adik lagi.


"Kalian nanti harus akur dan saling menyayangi, kalian semua adalah anak-anak Mama dan Papa yang pintar. Mama dan Papa sayang kalian semua, kami tidak akan pernah membedakan kalian satu sama lain, jadi Papa harap kalian tidak saudara-saudari kalian nanti," ucap Arselo memberi petuah pada keempat anaknya yang sedang duduk di sofa. Tepat saat Arselo sudah selesai berbicara, tiba-tiba Dayyan tertunduk dalam.


"Sayang kenapa?" tanya Safira pada anak sulungnya.


"Abang ... Abang gak sengaja kasih tahu foto Papa Abi pada Divya," akunya sambil mengusap sebelah ujung matanya yang mulai berair.


"Maaf, aku ... aku benar-benar gak sengaja mengatakan itu," sesal Dayyan sambil membalas pelukan mamanya.


Safira mengusap air mata yang ada di wajah anak sulungnya, ia tidak bisa menyalahkannya karena hal itu. Meskipun waktunya belum tepat, tapi cepat atau lambat Divya memang akan mengetahui itu semua.


"Sudah, tidak apa-apa. Papa juga tidak marah karena hal itu, Papa tetap menyayangi kalian semua apapun keadaannya," ucap Arselo sambil memeluk keempat anak-anaknya, mereka semua berpelukan haru dan bahagia.


Ya, Arselo sudah menceritakan semuanya tentang Abizar pada Divya, beruntung Divya anak yang pintar dan bisa memahami dengan perkataan Arselo tentang papanya, jadi dia tidak sulit untuk dibujuk dan juga bisa menerima semua kenyataan bahwa dia berbeda Ayah dengan kakaknya ataupun calon adiknya.


Setelah acara mengharukan itu berakhir, mereka pun melanjutkannya dengan berbincang tentang banyak hal dan tentang keseharian mereka yang terjadi di sekolah tadi pagi. Semuanya tampak harmonis, Divya pun sudah kembali ceria seperti biasanya.


***


Malam hari, tepatnya tengah malam, Arselo tiba-tiba terbangun dari tidurnya, ia benar-benar seperti orang yang sedang ngidam dan saat ini dirinya menginginkan mangga muda dengan sambal ulek.


Ya Tuhan, di mana aku harus mencari mangga muda saat ini? batin Arselo sambil menatap jam dinding yang menunjukkan tepat pukul setengah satu malam. Ia perlahan turun dari kasurnya, bagaimanapun caranya saat ini ia harus menemukan mangga muda itu.


Dengan segera, Arselo menyambar jaket dan kunci mobil yang berada di atas meja tanpa mengganti baju tidurnya terlebih dulu, ia pun mengendap-endap keluar dari kamarnya supaya tidak membangunkan Safira. Setelah berhasil keluar kamar, Arselo pun bergegas turun menuju garasi dan menjalankan mobilnya.


Satpam yang jaga di rumah itu sempat heran karena melihat tuan rumahnya keluar saat malam hari.


"Maaf, Tuan. Anda mau pergi kemana malam-malam begini?" tanya Pak Tono, satpam yang jaga malam hari di kediaman Arselo.


"Saya mau cari mangga muda, Pak."


Pak Tono mengerutkan keningnya, ia tidak mengetahui jika tuan rumahnya kini sedang mengidam.


"Mangga muda? Untuk apa? Bukan, maksud saya untuk siapa?" tanya Pak Tono yang meralat pertanyaannya.


"Untuk saya, Pak. Kira-kira di mana saya bisa mendapatkan mangga muda malam-malam begini, ya?"


Pak Tono mencoba sedikit berfikir, ia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu sebelum akhirnya menjawab, "Tuan tunggu saja di sini, biar saya yang mencarikannya."


Kini giliran Arselo yang merasa bingung dengan ucapan Pak Tono, ia pun keluar dari mobilnya untuk menghampiri Pak Tono yang sedang berdiri di depan pos satpam. "Maksudnya, Pak?"


"Saya ingat, Tuan. Pohon mangga yang berada di halaman rumah saya sedang berbuah. Jika Tuan berkenan, saya akan mengambilkan nya terlebih dahulu," ucap Pak Tono.


Kini Arselo mengembangkan senyumnya, ia senang karena tidak perlu bingung lagi untuk mencari makanan yang sedang diinginkannya.