Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 39



Arselo, Arsela dan mamanya pergi ke restoran milik Safira siang itu. Dengan penuh rasa gelisah, Arselo memberanikan diri untuk kembali berbicara dengan Safira, dia berharap Safira dan anak-anaknya mau memaafkan dirinya yang sudah banyak melakukan kesalahan pada mereka.


"Mama, apa mama yakin mau ikut dengan El?" tanya Arselo yang masih dalam mobil di area parkir restoran.


"Mama juga mau minta maaf pada Safira, El" jawab nyonya Sita yang sibuk dengan tisu untuk mengeringkan matanya yang terus menerus menangis. Nyonya Sita merasa sangat bersalah pada Safira hingga ia pun ikut pergi untuk menemui wanita yang sudah Arselo sakiti itu.


"Ma, lebih baik mama tenangkan diri dulu, nanti kalau mama sudah benar-benar tenang, kita turun berdua" bujuk Arsela.


"Baiklah Sel, mama juga berfikir seperti itu" ucap nyonya Sita.


Akhirnya hanya Arselo lah yang turun dari mobil itu, dengan hati was-was akan penolakan Safira lagi, ia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam restoran. Arselo menanyakan pada seorang pelayan untuk bisa menemui Safira.


Pagi ini Abizar tengah membantu Safira untuk mengevaluasi restoran yang mereka kelola, saat mereka baru selesai dengan pekerjaan nya, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.


Tok...tok...tok...


"Masuk" ucap Safira dari dalam, dan saat pintu itu terbuka Santi pun masuk ke dalam ruang kerja Safira.


"Maaf bu, di luar ada yang cari ibu" beritahu Santi.


"Siapa San?" tanya safira, karena dia tidak terlalu mengenal para pengunjung restoran itu.


"Saya gak tahu bu, orang itu hanya berkata kalau dia ingin bertemu ibu saat ini, beliau menunggu di meja nomor delapan belas yang berada di dekat kaca" terang Santi.


"Siapa kira-kira yang cari kamu, Fir?"tanah Abizar yang berada di sana.


"Aku juga nggak tahu bang" jawab Safira


"Lebih baik kamu segera temui orang itu dulu nanti aku nyusul kalau sudah membereskan berkas yang belum rapih, siapa tahu dia punya hal penting yang mau disampaikan" ucap Abizar yang menyuruh Safira untuk menemui orang itu.


"Hmmm, baiklah. Aku keluar dulu bang" izin Safira yang mendapat anggukan dari Abizar tanda menyetujuinya.


Setelah mendapat jawaban dari Abizar, Safira dan Sinta pun keluar dari ruangan itu bersama menuju meja yang berada dekat kaca.


Safira melihat ada seorang laki-laki yang berdiri menungganginya, dia pun bertanya pada Santi.


"San, Apakah dia yang sedang menungguku?" tanya Safira pada Santi.


"Iya bu orang itu yang tadi meminta untuk bertemu" jawab Santi sambil menganggukkan kepalanya cepat.


"Baiklah, saya akan menghampirinya. Silakan kamu kembali melanjutkan pekerjaanmu" perintah Safira pada Santi.


Safira pun melangkahkan kakinya menuju meja itu, dia masih belum bisa memastikan siapa kira-kira orang yang ingin bertemu dengannya.


Arselo mendengar suara Safira yang berada di belakangnya pun segera membalikkan tubuhnya.


Degh....


"Kamu lagi? Ada perlu apa kamu menemui ku lagi?" tanya Saphira dengan marah saat mengetahui laki-laki itu adalah Arselo.


Arselo tidak menanggapi kemarahan Safira, justru dia menjatuhkan dirinya dengan lutut sebagai tumpuan badannya, kepalanya pun menunduk kebawah dia tidak menatap mata Safira.


"Aku menyesal Fira, aku menyesal sudah membantu teman-teman yang menjebak mu dulu, aku menyesal karena dengan mudahnya aku langsung menceraikan mu, aku menyesal karena menelantarkan mu dan anak kita di saat aku mengetahui aku punya anak tapi aku tidak mencari kalian. Maaf, maafkan aku karena sudah menghancurkan masa depan mu, maaf aku baru sadar dan menyesalinya sekang" ucap Arselo dengan nada merendah, dia sangat menyesali perbuatannya dulu.


Andai dulu dia tidak ikut teman-temannya untuk menjebak Safira, andai dia dulu mau bertanggung jawab dengan benar, atau telatnya saat ia mengetahui tespek itu, mungkinkah saat ini Safira sudah memaafkannya, mungkinkah saat ini anak-anaknya akan menyayanginya dan bisa ia peluk sampai puas?


Terlalu besar dan banyak luka yang ia torehkan pada Safira. Mungkin jika itu wanita lain, belum tentu wanita itu akan membiarkan anak-anaknya hidup, bahkan mungkin akan di terlantarkan begitu saja.


Safira masih bergeming di depan Arselo yang masih berlutut dan memohon maafnya, bahkan Safira tidak menyadari orang-orang yang mengunjungi restoran itu pergi satu persatu atas permintaan Abizar. Abizar sengaja mengosongkan tempat itu agar menjaga privasi masalah Safira yang tidak boleh di ketahui oleh orang banyak. Bahkan para pelayan pun di suruh untuk pergi dulu ke belang dan hanya menyisakan Arsela, nyonya Sita, ni Eti, Anisa, anak-anak dan dirinya.


"Aku tahu kesalahanku sangat besar Fira. Aku mohon, maafkan aku, tolong ijinkan aku memperbaiki kesalahan yang sudah ku perbuat" ucap Arselo lagi karena Safira masih tetap tidak mengatakan apa-apa.


Safira melamun, hingga ia tersadar saat ada tangan yang menggenggam erat tangannya, Abizar melangkahkan kakinya dan mendekati Safira.


"Fira, aku rasa dia sudah menyesali semua perbuatannya terhadap mu dulu, bagaimana menurut mu?" tanya Abizar menyadarkan lamunan Safira.


Safira menatap dalam mata Abizar, Abizar sendiri melihat kesakitan, amarah dan kecewa yang menjadi satu dalam mata Safira.


"Beri aku waktu untuk semua ini" ucap Safir pada Arselo sebelum ia berbalik dan meninggalkan semua orang yang ada di sana termasuk anak-anak yang menyaksikan papa kandung mereka bertekuk minta maaf pada mamanya pun di tinggalkan begitu saja. Saat ini ia membutuhkan waktu untuk dirinya dan menata kembali perasaannya.


Arselo juga tidak bisa mencegah kepergian Safira yang tiba-tiba. Sedangkan Abizar menghampiri anak-anak yang kini wajahnya muram dan siap untuk menangis.


"Day, Rai, Qiran, sekarang kalian salim dulu sama oma Sita dan aunty Arsela? Mereka adalah nenek dan Aunty kalian juga" perintah Abizar pada anak-anak.


"Tapi om? Mama?" tanya Dayyan.


"Om yang akan menyusul mama, sekarang kalian salim juga sama om El ya? Dia adalah papa kandung kalian!" ucap Abizar lagi.


Anak-anak itu tampak terkejut mengetahui om El'nya itu adalah papa mereka. Raiyan yang paling antusias karena dia mudah dekat dengan Arselo, sedangkan Dayyan dan Qirani hanya terdiam saat mengetahui itu, tidak ada raut marah, senang atau pun kesal, mereka berdua menatap Arselo dengan tidak minat.


Tapi saat Abizar menyuruh mereka lagi, barulah mereka beranjak mendekati Arselo, nyonya Sita dan Arsela untuk salim, setelah melakukannya kedua anak itu pun kembali ke sisi tubuh ni Eti dan Anisa


Arselo yang melihat reaksi dan tatapan kedua anaknya merasa sangat sakit hati tapi tidak bisa marah.