
siang ini Arselo mengajak Safira untuk makan siang bersama anak-anak di restoran yang Safira kelola, Arselo datang bersama anak-anak yang tadi ia jemput dari sekolahnya bersama Sofyan.
"Mama..."
"Mama..."
"Mama..."
Teriak ketiga anak itu saat melihat Safira tengah membantu para pelayannya untuk mencatat pesanan pelanggan mereka.
"Lho, kok kalian ke sini? Kenapa nggak pulang ke rumah? Mbak Nisa mana?" tanya Safira pada ketiga anaknya.
"Om El ngajakin kita buat makan siang bareng di sini, gak apa-apa kan ma?" tanya Qirani.
"Om El? Sekarang mana om-nya?" tanya Safira saat tidak melihat Arselo bersama anak-anaknya.
"Om masih di depan ma, tadi kami duluan masuk ke sini" jawab Dayyan.
"Itu papa, ma" tunjuk Raiyan saat melihat Arselo dari jendela restoran itu.
Arselo melangkahkan kakinya untuk menghampiri Safira dan anak-anaknya.
"Hay Fir, Maaf ya aku ajak anak-anak kemari untuk makan siang bersama" ucap Arselo saat ia sudah berdiri di depan Safira.
"Gak apa-apa, kalian duduklah dulu aku akan meminta pelayan buat siapkan makanan kita" ucap Safira pada Arselo dan anak-anak.
Arselo mengangguk mengerti dia pun segera membawa ketiga anak-anak itu untuk mencari meja keluarga yang kosong.
"Ayo anak-anak kita cari meja kosong dulu" ucap Arselo sambil menggiring ketiga anak itu.
Setelah Arselo menemukan meja yang pas untuk mereka makan siang, anak-anak pun dengan tertib duduk di sana.
Tak lama kemudian, Safira datang bersama seorang pelayan yang membawakan troli makanan untuk mereka, Safira sudah memilihkan beberapa menu makanan yang biasa dimakan oleh anak-anak saat mereka sedang berkunjung ke sana.
"El, aku tidak tahu apa makanan kesukaan mu, aku membawa ini karena biasanya anak-anak akan memakannya, jika masih ada yang kamu inginkan silakan katakan saja" ucap Safira sambil menyimpan satu persatu makanan yang sudah ia bawa ke atas meja.
"Tidak perlu Fira, aku bukan orang yang pemilih dalam makanan" jawab Arselo sambil membantu pekerjaan Safira.
"Baiklah jika seperti itu, silakan kalian menikmati hidangannya" ucap Safira hendak berlalu.
"Mama, ayo ikut makan bersama kami" ajak Raiyan pada Safira.
Safira tidak langsung menuruti keinginan Raiyan, dia sejenak melirik Arselo.
"Tidak apa-apa Fira, sebaiknya kita makan bersama" ucap Arselo saat mengerti tatapan mata Safira.
Meskipun merasa canggung, akhirnya Safira mengalah dan ikut duduk bersama Arselo dan anak-anak.
Anak-anak sendiri terlihat sangat bahagia, mereka makan sambil diselingi dengan candaan dari ketiga anak itu. Safira sendiri merasa bahagia karena anak-anak terlihat sangat senang saat mereka sedang makan bersama Arselo dan dirinya.
Tanpa mereka ketahui jika ada sosok lain yang tengah memperhatikan kebersamaan mereka dari luar jendela restorannya.
"Mereka terlihat seperti keluarga bahagia, Safira dan Arselo pun terlihat sangat cocok. sepertinya tidak akan baik jika aku mengganggu kebersamaan mereka" batin Abizar masih memperhatikan orang-orang itu.
Dengan berat hati Abizar pun pergi dari sana dan kembali menaiki kendaraannya.
"Aku harus mengalah meskipun berat dan sakit, aku tidak bisa membiarkan anak-anak kehilangan kebahagiaannya seperti saat ini karena keegoisanku yang memaksa mereka untuk tetap bersamaku" gumam Abizar sambil meletakkan kepalanya di atas setir mobil.
Setelah hatinya tenang kembali, Abizar pun pergi dari pelataran restoran itu untuk kembali ke restoran yang ia kelola.
***
Malam hari, biasanya Abizar selalu datang ke kediamannya untuk menemui anak-anak dan dirinya, tapi berbeda dengan malam ini hingga waktu malam kian larut, Abizar tidak datang ke rumahnya. Bahkan saat ditelepon pun ia hanya mengatakan sedang sibuk.
"Ma, apa Om Abi tidak akan datang malam ini?" tanya Dayyan yang sudah sangat merindukan Abizar.
"Sepertinya Om Abi sedang sangat sibuk hari ini, lebih baik Abang segera tidur karena hari sudah malam" ucap Safira pada anaknya itu sambil mengelus kepalanya pelan.
"Tapi ma, Abang kangen banget sama Om Abi" jawab Dayyan sambil menundukkan kepalanya dengan mata yang sudah hampir menumpahkan airnya.
Safira sendiri merasa heran karena Ini pertama kalinya Abizar menolak panggilan darinya, bahkan saat ia menjawab teleponnya pun sangat singkat dan tidak berbasa-basi seperti biasa.
"Sabar ya sayang, besok kita telepon Om Abi lagi" ucap Safira sambil memeluk Dayyan yang sudah menangis.
Qirani dan Raiyan sudah terlelap terlebih dahulu, mungkin mereka kelelahan karena sepulang dari restoran tadi Arselo mengajak anak-anaknya untuk bermain di taman bermain.
Dayyan menangis di pelukan Safira hingga ia tertidur, baru kali ini Safira melihat Dayyan yang menangisi Abizar sampai seperti ini.
"Sebenarnya ada apa dengan Bang Abi tidak biasanya dia seperti ini?
Mungkinkah dia sudah mulai bosan dan hendak menjauhi kami secara perlahan?" fikir Safira dengan semua prasangka-nya.
***
Abizar sendiri sedang menahan dirinya untuk tidak menghubungi Safira lagi, dia akan belajar untuk menjauh perlahan-lahan meninggalkan Safira dan anak-anaknya.
Meskipun sudah berkali-kali Safira menghubunginya, tapi berusaha diacuhkan, dia tidak ingin Safira merasa bimbang dengan perasaannya karena merasa bersalah terhadapnya, jadilah Abizar yang akan mulai menjauhinya.
"Abang kenapa? Dari tadi aku perhatikan seperti sedang tertekan. Apa ada masalah serius yang terjadi di restoran tadi siang?" tanya Caca ingin tahu karena melihat Abizar yang uring-uringan sendiri.
"Nggak ada apa-apa Ca, Abang baik-baik aja" jawab Abizar.
"Oh baiklah, tumben abang enggak ke tempat teh Fira?" tanya Caca lagi.
''Nggak apa-apa, tadi siang sudah ketemu. Abang akan tidur duluan" ucap Abizar sambil bangun dari duduknya dan melangkahkan kaki ke dalam kamarnya.
"Abang kenapa sih aneh banget hari ini" tanya Caca dalam hatinya karena merasa heran dengan sikap Abizar.
"Ternyata berat melepaskan apa yang sudah ku perjuangkan selama ini, aku memang ikhlas untuk membantu mereka dan aku juga tidak mengharapkan imbalan apa-apa dari mereka, tapi kenapa rasanya sangat sakit saat mengetahui jika aku tidak ada apa-apanya di banding dengan dia yang orang tuanya" gumam Abizar saat sudah berada di kamarnya.
Abizar pun memaksakan untuk tertidur, meskipun hati dan fikirannya sedang tidak tenang.