
Waktu terus berjalan, tanpa terasa detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti dengan hari, begitupun hari yang berganti dengan bulan
Tepat satu tahun usia Divya, bayi kecil itu kini semakin lengket pada Arselo, bahkan Arselo juga tidak segan-segan untuk membawanya ke kantor bersama dengan ke tiga anaknya yang lain.
Mungkin untuk orang lain itu terlihat berlebihan, tapi menurutnya itu sangat menyenangkan dan membuatnya kembali bersemangat disaat ia sedang penat.
Sedangkan selama itu hubungan Arselo dan Safira masih berjalan di tempat, dan rencananya hari ini ia dan anak-anaknya akan membuat kejutan untuk Safira. Sangat kebetulan hari lahir Safira dan Divya berada di tanggal dan bulan yang sama.
Sudah tiga hari ini Arselo tidak menemui Safira, bahkan menghubunginya pun tidak, jika Arselo ingin bertemu dengan Divya, maka dia akan menyuruh Sofyan untuk menjemputnya di rumah Safira.
"Apa Arselo menyuruh mu untuk kembali menjemput Divya?" tanya Safira yang sudah kembali kesal karena hanya Sofyan yang mendatanginya.
"Benar, Nyonya. Bolehkah sekarang saya membawa Nona Divya?" tanya Sofyan.
Saat ini Safira hanya berdua dengan Baby Divya di rumah, Ni Eti sedang pamit keluar bersama Caca, sedangkan tiga anaknya yang lain belum pulang sekolah.
"Tapi kalau Divya dibawa, maka aku akan sendirian di rumah. Aku akan ikut bersama mu," ucap Safira, ia pun kembali masuk ke rumah untuk mengambil beberapa keperluan Divya.
"Ayo, sekalian aku juga ingin tahu seberapa sibuknya dia sampai-sampai tidak sempat menemui ku," geram Safira kesal saat mengingat Arselo sudah beberapa hari ini tidak menemuinya dengan alasan sibuk.
"Baik, Nyonya. Silahkan," ucap Sofyan sembari membukakan pintu mobil untuk Safira.
"Harusnya dia mengingat jika hari ini adalah ulang tahunnya Divya, kenapa malah meminta Sofyan untuk menjemputnya? Kenapa dia mulai kembali bersikap dingin padaku? Apa dia sudah mulai bosan dengan ku? Kenapa dia menjauhi ku seperti ini? Jika memang dia sudah memiliki kekasih, kenapa tidak mengatakannya secara langsung padaku?" batin Safira dengan banyak lagi fikirannya yang lain tentang sikap Arselo padanya. Tanpa terasa air matanya lolos begitu saja.
Sofyan yang melihat Safira mengusap sudut matanya merasa sedikit kasihan, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena itu semua adalah perintah dari Arselo, tuannya.
Safira terlalu sibuk dengan semua prasangkanya hingga ia tidak menyadari jika arah yang mereka lalui bukanlah jalan menuju kantor. Dan kini mereka sudah sampai di tempat tujuan, Sofyan sudah turun terlebih dulu dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Silahkan, Nyonya," ucap Sofyan setelah ia membukakan pintu mobil untuknya.
"Akh, hmmm, iya." Safira turun dari mobil tanpa melihat sekeliling.
"Lho, ini? Kenapa kita ada di sini?" tanya Safira yang baru sadar jika mereka tidak berada di area parkir kantor Arselo.
"Mari masuk Nyonya." Sofyan mempersilahkan Safira untuk mengikutinya.
Dengan langkah yang bingung, Safira pun mulai mengikuti Sofyan. Dia memasuki rumah Arselo dengan bingung lantaran suasana di sana sangatlah sepi, jendelanya di tutup rapat sehingga menambah kesan suram rumah itu.
"Tuan Sofyan, kenapa anda membawa ku ke sini?" tanya Safira pada Sofyan yang berada di belakangnya.
Sofyan tidak menjawab karena sebenarnya dia sudah tidak ada lagi dibelakang Safira.
"Tuan, kenap anda tidak menjawab ku?" tanya Safira saat Sofyan tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Safira mulai sedikit was-was, ia mengencangkan pelukannya pada Divya.
Blam...
Safira begitu terkejut saat pintu di belakangnya tiba-tiba tertutup sendiri, Divya juga menangis karena kaget.
"Hei, ini tidak lucu!" pekik Safira terkejut.
Tak lama kemudian, tiba-tiba lampu di ruangan itu pun menyala, bunyi confetti dan terompet berbunyi nyaring.
Happy birthday!
Secara bersamaan, ada spanduk yang menggantung di lantai dua rumah Arselo.
"Selamat ulang tahun, Mama, Adek!" seru anak-anak Safira memeluknya.
Setelah itu, mulailah berdatangan orang-orang yang sebelumnya sudah berada di sana, Safira begitu terkejut saat mengetahui jika Nyonya Sita, Tuan Ardan, Ibu Resti Pak Bambang, Ni Eti, Arsela, Caca juga Sofyan sudah berada di sana, tapi dia tidak melihat keberadaan Arselo.
"Kalian mengerjai ku?"
"Kami hanya ingin memberikan kejutan untuk mu," jawab Arsela.
"Terimakasih banyak, aku sangat terkejut," ucap Safira.
"Maksud mu?" Safira bertanya pada Arsela, tapi ia tidak mendapatkan jawabannya.
Setelah semua orang itu mengucapkan selamat ulang tahun pada Safira dan Divya, anak-anak pun menyanyikan lagu ulang tahun untuk mama dan juga adiknya.
Nyonya Sita dan Bu Resti mengambil alih Divya dari tangan Safira saat waktunya meniup lilin ulang tahun, sebelum acara potong kue terdengar suara alunan musik yang cukup Safira kenali.
The day we met,
Frozen I held my breath
Right from the start
I knew that I'd found a home for my heart How to be brave?
Beats fast
Colors and promises
How can I love when I'm afraid to fall But watching you stand alone?
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years I'll love you for a thousand more
Time stands still
Beauty in all she is I will be brave
I will not let anything take away What's standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer
I have died everyday waiting for you Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you Time has brought your heart to me I have loved you for a thousand years I'll love you for a thousand more
***
Arselo datang dengan menyanyikan sebuah lagu romantis dan hal itu membuat Safira terharu, ia menutup mulutnya saking tak percaya jika Arselo bisa bernyanyi dengan merdu.
Bahkan anak-anak juga tidak menyangka jika papa mereka ternyata bisa seromantis itu terhadap mamanya.
Perlahan arselo menghampiri Safira yang masih dengan ekspresi terkejutnya, orang-orang yang berkumpul di sana turut memperhatikan drama yang sedang Arselo mainkan untuk Safira.
"Safira, aku tahu. Aku bukan orang yang baik untukmu, bahkan aku pernah menggoreskan luka yang sangat dalam terhadapmu dan luka itu masih ada sampai sekarang hingga mungkin tidak akan pernah menghilang–" Arselo menjeda kata-katanya, "Jika kamu berkenan, bolehkah aku memperbaiki semua kesalahan yang sudah ku lakukan dulu padamu. Aku berjanji akan selalu menjagamu, melindungimu dan aku juga ingin membesarkan anak-anak bersamamu. Kalian adalah hal terindah dan terpenting dalam hidup ku–"
"Ayolah Pah. Bukankah kita sudah latihan sebelumnya?" tanya Dayyan yang merasa papanya terlalu lama berbicara.
"Abang, gak boleh gitu!" tegur Arsela.
"Ups, maaf Aunty."
"Baiklah, mungkin aku terlalu banyak berbicara–" Arselo menarik nafasnya untuk menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba mendera, "Safira Almaya, maukah kamu menikah denganku? Menghabiskan sisa umurmu denganku? Dan menua bersamaku?"