
Tidak terasa tujuh hari telah berlalu, Safira dan anak-anak hari ini akan kembali ke kota. Mereka akan berangkat bersama Arselo dan Ni Eti.
Ni Eti memutuskan untuk kembali ke kota bersama Safira, ia khawatir terjadi sesuatu pada calon cicitnya jika berjauhan dengannya.
"Ni, sebelum kita pergi, bolehkah aku berkunjung ke pemakaman mas Abi dulu?" tanya Safira pada Ni Eti yamg saat itu masih menyiapkan beberapa keperluan miliknya.
"Tunggulah sebentar ya, Nini akan bereskan keperluan kita terlebih dahulu. Kita pergi ke sana bersama-sama" jawab Ni Eti.
"Baiklah Ni. Aku akan tunggu diluar bersama anak-anak" ucap Safira.
Ni Eti pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Safira pun pergi dari kamar Ni Eti dan menghampiri anak-anak yang sedang menunggu kedatangan Arselo di depan rumah mereka.
"Anak-anak, kalian sedang apa?" tanya Safira saat melihat anak-anaknya sedang menatap kearah jalanan.
"Pa El, lama ya ma?" tanya Raiyan yang tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan sepi itu.
"Mungkin sebentar lagi akan tiba" jawab Safira, anak-anak itu pun mengangguk paham.
Safira ikut duduk diantara mereka, ia merasa sedih karena harus pergi dari desa itu hari ini, tepat tujuh hari setelah kepergian Abizar.
"Mas, maafkan kami karena akan meninggalkan mu hari ini. Aku janji akan menjaga diriku dan anak-anak baik baik sesuai dengan permintaan terakhir mu. Aku juga yakin kamu pasti akan selalu menjaga kami dari sana. Aku selalu merindukan mu, mas" gumam hati Safira. Seperti biasa, ia kembali dengan kebiasaannya yang dulu, melamun hingga tidak sadar jika Arselo sudah berada di depannya.
"Fira, apa kamu baik-baik saja?" tanya Arselo sembari melambaikan tangannya didepan wajah Safira.
Safira sendiri masih asyik dengan lamunannya, dia sama sekali tidak mendengar ucapan Arselo, ataupun melihat lambaian tangannya itu. Hingga beberapa saat kemudian, Arselo menepuk pundaknya pelan, dan hal itu berhasil mengembalikan kesadaran Safira.
"El, kapan kamu datang? Dan kemana anak-anak?" tanya Safira sambil mengedarkan pandangannya karena tidak menemukan keberadaan anak-anak.
"Aku berdiri di sini sudah hampir tujuh menit tiga puluh detik, dan kamu tidak menyadari keberadaanku selama itu, padahal aku sudah berdiri tepat di hadapanmu" jawab Arselo.
Sebenarnya Arselo merasa khawatir terhadap keadaan Safira yang lebih sering terdiam dengan lamunannya, ia tahu jika keadaannya saat ini sangat membuat mental Safira down. Meskipun dulu dia pernah hamil tanpa kehadiran seorang suami, tapi saat itu dia tidak menggantungkan hatinya pada siapapun, berbeda dengan saat ini, dia yang baru saja merasakan kebahagiaan bersama seseorang yang sangat dicintainya dan kini harus kehilangan dengan cara yang mendadak.
"Maafkan aku, El. Aku tidak bermaksud untuk mendiamkan mu" ucap Safira sambil menundukkan kepalanya.
Arselo hanya menarik nafasnya dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Sudahlah, aku mengerti dengan keadaan mu. Apa kalian berencana untuk pergi ke makam dulu?" tanya Arselo saat ia melihat penampilan Safira yang memakai pakaian tertutup dan sudah menyiapkan Quran kecil yang ada di pangkuannya.
Safira menganggukkan kepalanya.
"Iya. Sebelum kita pergi, aku ingin berziarah dahulu. Apa boleh?" tanya balik Safira.
Mereka pun berjalan menuju pemakaman itu bersama dengan Ni Eti dan anak-anak. Sepanjang perjalan anak-anak terus menggenggam tangan Safira dan Arselo, ini pertama kalinya anak-anak mengunjungi makam Abizar, karena saat itu mereka tidak diizinkan untuk mengikuti proses pemakaman.
"Papa gak di makamkan di tempat yang sama dengan adik bayi ya ma?" tanya Qirani.
"Ngga sayang, papa Abi di makamkan disini" jawab Safira saat mereka sampai di area pemakaman itu.
Arselo memimpin doa, meskipun dulu dia adalah orang yang bebas tapi semenjak ia menikah dengan Vivi dulu, ia pun mulai meninggalkan kebiasaan buruknya dan sedikit memperdalam ilmu agamanya.
Setelah selesai berdo'a, barulah Safira dan anak-anak mulai berpamitan.
"Papa, kami rindu. Kenapa papa tinggalin kami? Pa, mama bilang kita akan punya adik bayi, pasti papa seneng banget-kan? Kami janji akan selalu jagain adik bayinya dan akan selalu sayang. Papa tunggu kami disana ya..." ucap Raiyan sambil mengusap batu nisan yang tertera nama Abizar.
Kini giliran Dayyan yang berpamitan.
"Papa, maafin aku. Gara-gara papa lindungi aku, jadi papa yang harus pergi. Maaf karena waktu itu aku gak hati-hati dan terima kasih karena papa sudah melindungi ku. Papa adalah papa terbaik bagi kami, kami akan selalu sayang dan mengingat semua kebaikan papa. Semoga suatu saat nanti kita akan kembali berkumpul bersama-sama" ucap Dayyan disertai dengan air matanya yang sudah mengalir deras.
Sungguh, Dayyan masih merasa jika ia adalah penyebab dari kematian Abizar.
"Sayang, papa Abi melakukan itu karena ia sangat menyayangi mu, nak" ujar Safira yang tidak ingin Dayyan terus menyalahkan dirinya.
"Tapi ma—"
"Kalau kamu terus-menerus seperti itu, papa akan semakin sedih disana, sayang" ucap Safira memotong perkataan Dayyan.
Dayyan pun tidak lagi menjawab ucapan Safira, dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan air mata yang terus-menerus mengalir.
Arselo dengan sigap segera memeluk anak sulungnya itu.
"Sayang, apa yang dikatakan mamamu itu benar. semua itu bukan salahmu, jadi kamu jangan terus menyalahkan diri sendiri. Sekarang tugasmu hanyalah menjadi anak baik dan selalu menjaga mama dan semua adik-adik mu" ucap Arselo sambil mengusap punggung Dayyan.
Qirani tidak mengatakan apa-apa, dia hanya bisa terdiam sambil menggenggam erat tangan Safira. Begitupun dengan Ni Eti, beliau hanya terdiam saat Dayyan mengatakan hal itu. Beliau merasa sedih dengan ungkapan yang di ucapkan anak itu.
Setelah Dayyan lebih tenang, Arselo menyuruh Safira untuk duduk di salah satu bangku yang berada disana bersama dengan anak-anak. Dan menunggu Arselo yang kembali mengaji.
"Abi, aku minta maaf karena tidak bisa menjaga anak-anak ku sendiri, sehingga membuat mu kembali berkorban untuk mereka. Terimakasih sudah melindungi Dayyan, aku berjanji akan menjaga mereka juga anak mu kelak. Aku juga akan mencari dalang dari insiden yang menimpa kalian, aku tidak akan membiarkan orang itu hidup dengan tenang, setelah apa yang dia lakukan terhadap kalian" ujar Arselo pelan setelah ia selesai mengaji.
"Terimakasih karena sudah memberiku kesempatan untuk menjaga mereka, orang-orang yang kamu sayangi. Aku akan memberikan kebahagiaan untuk mereka, meskipun aku tidak bisa menggantikan posisi mu dalam hatinya" gumam Arselo sambil mengusap batu nisan itu.
Setelah selesai berziarah, barulah mereka kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang yang akan mereka bawa.