
Pagi harinya anak-anak dan Caca beserta ni Eti datang ke rumah sakit tempat dimana Safira dirawat.
"Teh gimana keadaan Teteh sekarang?" tanya Caca saat mereka sedang berkumpul.
"Alhamdulillah Ca, sepertinya sudah lebih membaik dari pada kemarin" jawab Safira.
"Maaf ya teh, gara-gara aku menyuruh ke restoran teteh jadi terkena musibah seperti ini" ucap Caca dengan wajah murung.
"Tidak apa-apa Caca, lagi pula sekarang aku masih berada di tengah-tengah kalian, dan maaf ya Ca aku jadi merepotkan mu untuk menemani anak-anak" ujar Safira.
"Tidak apa-apa teh. Aku senang bisa membantu dan aku juga sangat menyayangi anak-anak jadi itu tidak masalah bagiku" jawab Caca
"Terima kasih Ca" ucap Safira mendengar jawaban Caca.
"Sama-sama teh, teteh tidak perlu mengkhawatirkan anak-anak. Teteh bisa mengandalkan ku" jawab Caca lagi.
Safira dan Caca pun saling berpelukan.
"Mama kapan pulang" tanya Qirani
"Mudah-mudahan secepatnya ya sayang" jawab Safira seraya mengusap sayang kepala Qirani.
"Abang Day, Abang Rai kemarin gak apa-apa kan?" tanya Safira merasa cemas kepada kedua anaknya itu.
"Abang cuma luka sedikit ma, kemarin sudah diobati sama om El" jawab Dayyan.
"Kalau abang Rai nggak apa-apa ma" jawab Raiyan.
"Syukurlah kalau begitu, Mama tenang mendengarnya" ujar Safira mengusap kedua kepala anak laki-lakinya itu dan memeluk ketiganya.
"Fira, mungkin untuk sementara kita akan membutuhkan seseorang untuk menjaga anak-anak, saat kamu beristirahat di rumah" ucapnya ni Eti.
"Tidak apa-apa ni, aku pasti bisa cepat sembuh, lagi pula aku masih bisa berjalan, hanya saja harus menggunakan alat bantu sebelum kembali normal" jawab Safira.
"Apa kamu yakin?" tanya ni Eti lagi.
"Tentu saja ni" ujar Safira tersenyum.
Setelah jam besuk selesai, Caca, anak-anak beserta ni Eti pamit pulang, meninggalkan Safira dan Abizar.
Selama Safira di rawat, Abizar senantiasa membantu Safira dan menemaninya di sana, Abizar tidak pernah sedikitpun menjauhi Safira, bahkan para perawat yang ada di sana mengira jika Abizar adalah suaminya. Seperti saat ini, saat perawat akan kembali memeriksa keadaan Safira.
"Permisi pak, saya akan memeriksa istrinya dulu" ucap perawat itu.
"Istri? siapa?" tanya Abizar dengan bingung.
"Maksud saya ibu Fira, pa" jawab suster itu meralat ucapannya.
"Oh ya silahkan" ucap Abizar mempersilahkan suster itu untuk memeriksa Safira yang sedang tertidur, namun Safira terbangun karena mendengar suara orang mengobrol.
"Maaf mengganggu istirahatnya ya bu" ucap suster itu.
"Iya gak apa-apa sus" jawab Safira.
Setelah mendapat persetujuan Safira, suster itu pun mulai melakukan pemeriksaan untuk memantau perkembangan kesehatan Safira sampai selesai
Bertepatan dengan suster yang akan keluar dari ruangan, Arselo datang sendirian ke sana.
"Hai Bi, hai Fir! Gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Arselo.
Abizar tidak menjawab sapaan Arselo, dia hanya menganggukkan kepalanya samar.
"Hai juga El, kabar ku sudah lebih baik dari kemarin, mungkin besok aku sudah bisa pulang" jawab Safira
"Oh Syukurlah, bagus kalau seperti itu" ucap Arselo.
"El, terima kasih kemarin karena sudah menolong membawa ku ke sini, dan juga sudah menenangkan anak-anak" ujar Safira.
"Tidak apa-apa, aku hanya melakukan hal yang seharusnya ku lakukan" jawab Arselo tersenyum simpul.
"Apa yang sedang kamu lakukan di rumah sakit ini?" tanya Safira.
"Emmm, kebetulan aku akan melihat perkembangan anaknya Vivi" jawab Arselo pelan.
Arselo tidak menyukai pertanyaan Safira, karena bagaimana pun bayi itu bukan miliknya.
"Bayi itu masih dalam ke adaan kritis, dokter juga sudah menyarankan ku untuk melepas semua alat bantu yang berada di tubuhnya, tapi aku tidak tega" jawab Arselo.
"Bolehkah aku melihatnya?" tanya Safira
"Tentu, apa kamu mau melihatnya sekarang? Biar sekalian aku juga mau ke sana" tanya Arselo.
Sebelum Safira menjawabnya, Abizar menyela terlebih dahulu.
"Fir, lebih baik kamu istirahat saja, jangan kemana-mana dulu biar kamu cepat sembuh" ujar Abizar memperingatkan.
"Gak apa-apa bang, aku kuat kok" jawab Safira.
xn
Abizar hanya menarik nafasnya dalam.
"Tunggu sebentar, biar aku ambil kursi roda dulu" ucap Arselo sambil pergi keluar untuk mengambil kursi roda.
"Fir" panggil Abizar.
"Iya bang? Kenapa?" tanya Safira menatap Abizar.
"Emmmh, gak ada. Gak jadi" ujar Abizar yang tidak berani untuk mengutarakan pendapatnya supaya Safira tidak jadi melihat bayi milik Arselo.
"Abang kenapa?" tanya Safira lebih lembut.
"Gak apa-apa Fir, Abang cuma mau ngingetin kamu supaya gak terlalu kelelahan biar cepat sembuh" jawab Abizar.
"Iya bang, aku tahu. Terima kasih udah ngingetin" ujar Safira.
Tak lama kemudian Arselo datang dengan membawa kursi roda.
"Apa kamu bisa turun sendiri?" tanya Arselo, dia sebenarnya ingin membantu, hanya saja ia merasa sungkan terhadap Safira.
"Biar ku coba" jawab Safira.
Dengan perlahan ia bangkit dari ranjangnya dan menurunkan kakinya pelan-pelan, sebelah tangannya berpegangan pada Abizar, namun sebelum sempat duduk dengan benar, ia oleng dan hampir terjatuh tapi dengan sigap Arselo segera menopang tubuh Safira, begitu pun dengan Abizar yang reflek ikut menopang tubuh Safira sebagiannya.
"Maaf, aku kurang berhati-hati" ujar Safira pada ke dua pria di depannya.
"Apa kamu tidak baik-baik saja?" tanya Arselo.
"Apa kaki mu sakit lagi Fir?" tanya Abizar cemas.
Safira menggelengkan kepalanya "Aku baik-baik saja tidak apa-apa, terima kasih sudah menopang ku" jawab Safira kepada ke dua pria di depannya.
"Apa abang mau ikut?" tanya Safira pada Abizar.
"Baiklah, aku akan ikut dengan mu" jawab Abizar dan langsung mengambil alih kursi roda Safira dari tangan Arselo. Meskipun sedikit kesal, tapi Arselo tidak bisa berkata apa-apa.
"Tolong tunjukan jalannya" perintah Abizar pada Arselo.
"Baiklah, ikuti aku" jawab Arselo sambil melangkahkan kakinya berjalan lebih dulu di ikuti Abizar yang mendorong kursi roda Safira.
Mereka berjalan bersama melewati beberapa ruangan lain sebelum akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan khusus yang merawat bayi merah milik Vivi.
Safira menatap kasihan bayi merah kecil yang banyak di pasangi kabel pada tubuhnya itu.
"Apa Vivi sudah melihat bayinya?" tanya Safira pada Arselo.
"Belum, dia bahkan memaksakan dirinya pergi saat dua jam setelah sadar" jawab Arselo tanpa menengok ke arah Safira.
"Aku kira, di dunia ini tidak ada ibu yang seperti itu. Tapi ternyata aku menemukannya langsung" celetuk Abizar.
"Ya mungkin memang dari awal dia tidak menginginkan bayi itu" jawab Arselo.
"Bayi yang malang" ucap Safira menatap bayi itu di luar kaca khusus