Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 120



Acara yang berlangsung meriah itu pun selesai hingga sore menjelang malam hari. Setelah selesai, mereka pun kembali ke hotel tempatnya menginap. Namun, saat Safira dan Arselo beserta anak-anak hendak masuk ke kamar pengantin yang sudah disiapkan, tiba-tiba Nyonya Sita meminta izin Safira untuk membawa anak-anak bersama mereka.


"Tidak perlu, Ma. Lagipula itu akan merepotkan Mama dan Papa di rumah," tolak Safira saat Nyonya Sita mengutarakan niatnya.


"Ayolah, Fira. Anak-anak sudah lama tidak menginap di rumah Mama dan Papa," pinta Nyonya Sita.


Anak-anak pun mulai memohon pada mamanya. "Ma, Pa, boleh, ya, kami menginap di rumah Oma," mohon anak Dayyan yang mewakili adik-adiknya.


Safira menatap Arselo, ia merasa tidak enak jika harus merepotkan mertuanya.


"Sudahlah, Fira. Izinkan saja mereka untuk ikut bersama Mama," ucap Arselo yang menyetujui permintaan mamanya.


Safira pun mengalah dan mengangguk. "Baiklah, Ma. Mereka boleh ikut bersama Mama."


"Terima kasih, Fira," ucap Nyonya Sita dengan gembira. Bahkan ia juga merebut pelan Divya yang sedang berada di gendongan Safira.


"Divya juga, Ma?" tanya Safira yang langsung mendapat anggukan dari Nyonya Sita.


"Tentu saja, dia kan cucu Mama yang paling kecil. Jadi Mama harus membawanya."


"Lho, tapi, Ma–"


"Sudahlah, sekarang kamu tidak perlu memikirkan anak-anak, mereka aman bersama Mama dan Papa," ucap Nyonya Sita menghentikan perkataan Safira.


"Tapi, kan, Ma, Divya masih kecil dan masih membutuhkan ASI-ku."


"Tenang saja, untuk inilah Mama tadi pagi memintamu menyetok ASI tambahan untuk Divya."


Setelah mengatakan itu, Nyonya Sita pun berlalu sambil membawa divya dan anak-anak menuju lobby, di sana sudah ada suaminya yang menunggu kedatangan istri beserta cucunya.


"El?" panggil Safira saat menyadari Arselo tidak mencegah mamanya untuk membawa anak-anak.


"Ada apa, sayang?" tanya Arselo sambil memeluk pinggang Safira dari samping.


Perlakuan Arselo membuat Safira terkejut. "El?" tanya Safira yang merasa was-was dengan sikap Arselo.


"Aku tidak tahu apa-apa, sayang. Mungkin Mama melakukan itu semua untuk memberikan kita waktu bersama," jawab Arselo dengan jujur, karena ia memang tidak mengetahui apa-apa tentang rencana mamanya.


"Benarkah?" tanya Safira tidak yakin.


"Hmmm, memangnya tadi pagi Mama menyuruhmu menyetok ASI lebih?" tanya Arselo


Safira menjawabnya dengan anggukan kecil. Setelah Nyonya Sita dan anak-anak tidak terlihat lagi dari sana, Arselo pun mengajak Safira untuk masuk ke dalam kamar mereka.


"Sebaiknya kita segera istirahat, pasti kamu sudah sangat lelah setelah tadi menerima banyak tamu," ajak Arselo.


Safira pun mengangguk dan menerima ajakan suaminya itu. "Ya, El."


Keduanya masuk dengan gugup, mereka memang tidak terbiasa hanya berdua di sebuah ruangan, bahkan saat di mobil pun mereka selalu gugup, apalagi saat ini mereka sudah ada di kamar pengantin yang dikhususkan untuk mereka berdua.


Saat Arselo sudah menutup pintu kamarnya, degup jantung Safira makin bertambah. "Ya Tuhan, mudah-mudahan Arselo tidak menyadari kegugupanku ini," gumam Safira.


Tanpa disangka-sangka, Arselo tiba-tiba memeluk Safira dari belakang. "Kamu gugup, hmmm?" tanyanya sambil sesekali mengecup bahu Safira.


Safira yang diperlakukan seperti itu merasa sangat malu, bahkan pipinya kini sudah memerah, dengan bibir yang ia gigiti untuk menghalau rasa gugup yang menderanya.


Sejujurnya ia sendiri pun merasa gugup dengan keadaan seperti ini, tapi dia tidak ingin menunjukkannya, apalagi jika didepan Safira.


Safira tersenyum saat mendengar penuturan Arselo, tentu saja ia mengetahui kewajibannya sebagai seorang istri dan tidak mungkin jika ia menolak Arselo yang menginginkannya.


"Sebaiknya kamu segera mandi dulu, El." Safira berucap sambil sedikit mendorong tubuh Arselo dari hadapannya.


Arselo tersenyum miris, ia kira setidaknya Safira akan mau jika hanya berciuman dengannya, tapi malah menyuruhnya untuk mandi.


"Baiklah. Apa kamu tidak berniat untuk mandi bersama-sama?" goda Arselo sebelum ia benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.


Pertanyaan Arselo membuat Safira salah tingkah, ia membuang pandangannya agar Arselo tidak lagi melihat wajahnya yang sudah memerah.


Tak lama kemudian setelah Arselo selesai membersihkan dirinya, kini giliran Safira yang masuk ke dalam kamar mandi itu. Saat Safira sedang di kamar mandi, petugas Hotel membawakan makan malam untuk mereka, yang dengan segera Arselo menerima makanan itu.


Menunggu beberapa menit kemudian, Safira pun keluar dari kamar mandi dengan baju yang lengkap. Arselo tidak ambil pusing dengan hal itu karena ia mencoba untuk mengertikannya.


"El, apa makan malam sudah siap?" tanya Safira yang sudah merasa lapar sejak tadi sore.


"Sudah. Sekarang ayo kita makan dulu," ajak Arselo.


Safira pun mengangguk dan berjalan untuk menghampiri suaminya, mereka pun makan malam tanpa banyak bicara. Setelah selesai makan malam, Safira pun mengajak Arselo untuk menunaikan kewajibannya sebelum mereka beristirahat.


"El, ayo kita sembahyang dulu, kamu pasti ingin segera beristirahat, kan?" ajak Safira.


"Iya, ayo kita lakukan sekarang," jawab Arselo.


Mereka pun menyelesaikan kewajibannya dengan Arselo yang menjadi imamnya, setelah selesai Safira pun mencium tangan Arselo, tapi setelah melaksanakan kewajiban itu, Safira juga mengajaknya untuk melakukan shalat sunnah dua rakaat.


"Apa maksud Safira dengan mengajaknya melakukan shalat sunnah itu?" gumam hati Arselo.


Tanpa banyak bicara, Arselo pun mengangguk dan mulai kembali melaksanakan shalat sunnah itu.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka sudah selesai, setelah berbincang sebentar, Safira pun pamit ke kamar mandi dulu, sedangkan Arselo sudah mulai membaringkan tubuhnya yang terasa sedikit lelah.


Arselo menunggu Safira yang tidak kunjung keluar dari kamar mandi, ia pun merasa khawatir dan segera menghampiri pintu kamar mandi itu untuk mengetuknya.


TOK ... TOK ... TOK ...


"Fira, apa kamu baik-baik saja di dalam sana?" tanya Arselo saat ia sudah sampai di depan pintu kamar mandi itu.


"Ya, El. Aku, aku baik-baik saja," jawab Safira dengan cepat.


"Benarkah? Aku khawatir terjadi sesuatu padamu," ucap Arselo.


"Aku benar-benar tidak apa-apa, El. Kamu duluan saja," jawab Safira.


Dengan langkah gontai, iapun memaksakan diri untuk kembali ke atas tempat tidurnya.


Sebenarnya Safira saat ini sedang gugup, berkali-kali ia melihat cermin yang memantulkan dirinya. Apalagi ia memiliki luka bekas tusukan dan operasi sesar saat melahirkan Divya, meskipun lukanya telah samar karena Arsela juga memberikan salep penghilang bekas luka, tetap saja itu mengurangi sara percaya dirinya. Setelah mengambil nafas panjang beberapa kali, Safira pun merasa lebih tenang.


Safira juga memastikan jika Arselo sudah ke tempat tidur, barulah ia keluar dari kamar mandi itu.


"El."