Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 95



Malam kian larut, tapi Arselo masih belum bisa memejamkan matanya, ia terus memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan maaf Safira kembali. Setelah pertemuan dengan Frans dan Zian, ia sama sekali tidak mendapatkan pencerahan dari mereka berdua.


"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Arselo seraya bangkit dari tempat tidurnya. Ia merasa sangat tidak tenang sekali, niat hati ingin memberikan kejutan sekaligus minta maaf, malah gagal karena ia salah bicara. Minta pendapat Arsela pun, tetap saja ia yang di salahkan.


Flashback on


SORE TADI.


"Sel, menurut kamu, Abang salah di mana? Kenapa Safira semakin marah?" tanya Arselo pada saudara kembarnya.


"Jelas Abang yang salah. Ibu hamil itu punya perasaan yang sangat sensitif, dia akan menjadi orang yang keras kepala dan menjadi lembut dalam waktu yang bersamaan. Kalau seandainya saja tadi Abang gak nyalahin Safira, mungkin sekarang kalian udah baikan" jawab Arsela.


"Emang semua ibu hamil seperti itu?"


"Tergantung, bang. Perasaan yang sensitif selama trimester pertama umumnya disebabkan oleh perubahan sekresi hormon. Kadar estrogen dan progesteron yang lebih tinggi bertanggung jawab atas perubahan suasana hati, sehingga ibu hamil cenderung lekas marah dan mudah merasa sedih. Pergeseran hormon berlanjut ke trimester kedua dan ketiga" jelas Arsela.


"Hmmm, gitu ya. Terus sekarang aku harus berbuat seperti apa untuk bisa mengembalikan mood baik Safira?" tanya Arselo lagi.


"Nah, kalau itu, silahkan Abang fikirkan sendiri" jawab Arsela acuh sebelum ia berlalu dari hadapan Arselo.


"Hei, aku ini sedang meminta saran mu!!!" teriak Arselo yang tidak di indahkan oleh Arsela.


"Akh, s***" umpat Arselo untuk dirinya sendiri.


Flashback off


Kini ia bingung sendiri dengan apa yang harus ia lakukan. Di tengah kebingungannya ponsel milik Arselo berdering, iapun segera mengambilnya yang ia letakkan di atas nakas.


"Safira?" gumam Arselo saat ia melihat ID sang pemanggil. Seketika hatinya berdebar dan berbunga, ia seperti mendapatkan oasis di gurun yang tandus. Tanpa menunggu lama, Arselo pun segera menjawab panggilan itu, setelah sebelumnya ia berdehem untuk menetralkan degup jantungnya.


"Halo, Fira?" tanya Arselo yang berusaha bersuara tenang.


"Halo, El. Apa kamu sedang sibuk?" tanya Safira di sebrang sana.


"Tidak, Fira. Ada apa? Apa ada hal yang kamu inginkan malam ini?" tanya Arselo.


"Hmmm, bisakah kamu datang ke rumah?" tanya Safira yang membuat Arselo sedikit heran dan juga khawatir


"Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Arselo dengan khawatir.


"Tidak ada. Hanya saja..." ucapan Safira menggantung.


"Kenapa Fira? Katakanlah?" Arselo semakin di buat penasaran hingga tanpa sadar ia mengerutkan keningnya.


"A–aku ingin..." suara Safira terdengar gugup.


"Ya?" sahut Arselo.


"Sudahlah, kamu datang saja kemari. Jangan membuatku menunggu lama dan bawalah makan yang bisa ku makan" jawab Safira dengan nada kesal secara tiba-tiba.


"Tut... tut...tut..." tak lama kemudian, panggilan itu pun terputus, sebelum Arselo sempat menjawab ucapan Safira.


Tanpa menunggu lama, ia pun segera menyambar jaket dan juga kunci mobilnya.


"Tuan, anda mau ke mana malam-malam seperti ini?" tanya petugas satpam yang berjaga di depan gerbang rumah Arselo.


"Saya ada urusan di luar. Kalau Sofyan datang, suruhlah ia untuk menunggu saya kembali" ucap Arselo sebelum pergi dari halaman rumahnya.


"Baik, tuan. Saya mengerti" jawab petugas satpam itu seraya menundukkan kepalanya hormat.


Arselo pun berlalu dari halaman rumahnya menuju rumah Safira, sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya ia tersenyum dan terus memegangi dada kirinya yang terus berdebar begitu kencang.


"Ya tuhan, aku merasa seperti ABG yang baru saja jatuh cinta" batin Arselo.


Tidak lupa, ia juga membelikan beberapa jenis makanan yang biasa dimakan Safira saat malam hari. Entah kenapa, selera Safira dan arsela begitu sama kali ini. Sebenarnya Arselo juga merasa sedikit bingung, lantaran apa yang ia makan selalu sama dengan apa yang Safira inginkan.


Dan kejadian itu terus berlanjut sampai sekarang, maka dari itu Arselo pun lebih mudah untuk menebak makanan apa yang Safira inginkan.


Tidak butuh waktu lama, ia pun sampai di halaman rumah Safira. Arselo segera turun dari mobilnya dan melangkah menuju teras depan rumah itu.


Tok... tok... tok...


Suara pintu diketuk dari luar membuat Safira bangkit dari posisi tidurnya, dengan perlahan ia pun melangkah menuju pintu rumah itu.


Ceklek...


Pintu rumah itu pun terbuka, dan menampilkan Safira.


"Kamu sudah datang, El?" tanya Safira begitu ia melihat Arselo yang sedang berdiri di depan rumahnya, lengkap dengan beberapa kantong plastik di tangannya.


"Hmmm, apa aku terlalu lama datang?" tanya Arselo yang melihat Safira sudah mulai mengantuk.


"Tidak apa-apa, aku juga belum mau tidur" jawab Safira dengan segera.


Safira pun menyuruh Arselo untuk masuk ke dalam rumahnya, mereka melangkah menuju dapur untuk menyiapkan makanan yang Arselo bawa. Semenjak hamil, Safira sering ngemil berat malam hari, maka dari itu ia selalu menyiapkan makanan untuk dimakannya malam hari.


"Fira, Aku ingin minta maaf padamu, tidak seharusnya tadi siang aku menyalahkanmu karena tidak bertanya yang sebenarnya padaku. Saat itu aku juga salah karena tidak langsung menjelaskan yang sebenarnya padamu, sehingga membuat salah paham terhadap kami" ucap Arselo begitu mereka sampai di ruang makan.


Safira menghentikan pergerakan tangannya, ia pun berbalik menatap Arselo yang sedang berdiri di belakangnya.


"Aku juga minta maaf pada mu, El. Tidak seharusnya aku membentak mu tadi siang juga berkata benci padamu, apa lagi di depan umum itu pasti membuatmu merasa sangat malu. Aku benar-benar minta maaf karena sudah melakukan hal buruk seperti itu" ucap Safira yang juga menyesal dengan perbuatannya tadi siang.


"Tidak apa-apa, Fira. Aku mengerti dengan kondisi mu, apalagi saat ini kamu sedang hamil, dan itu hal wajar yang bisa membuat mood mu berubah seketika" jawab Arselo.


"Baiklah, terima kasih karena kamu sudah mau mengerti dengan kondisiku yang seperti ini" ucap Safira seraya menampilkan senyum tulusnya.


"Sama-sama, Fira. Terima kasih juga karena kamu sudah mau memaafkan ku" jawab Arselo lagi.


Setelah acara saling memaafkan itu selesai, mereka pun melanjutkannya dengan memakan makanan yang Arselo bawa. Safira terlihat senang dan menikmati makanannya, karena tanpa ia sadari jika makanan yang arselo bawa itu adalah makanan yang ia inginkan juga.