Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 109



Suasana sejuk dan jauh dari keramaian, danau dengan air yang bening serta angsa-angsa di tengahnya membuat siapapun betah berlama-lama tinggal di sana, Safira melangkah menuju salah satu bangku panjang yang ada di pinggir danau itu, dia melihat sesosok bayangan seseorang yang sangat ia kenal.


"Mas" panggil Safira pada orang itu


"Kenapa kamu bisa ada di sini, Fira?"


"Apa maksudmu, Mas? Tidak bolehkah aku bertemu denganmu?"


"Tidak, Fira. Aku belum mengizinkan mu untuk menyusul ku"


"Apa maksudmu, Mas?"


"Anak-anak, apakah kamu tidak memikirkan perasaan mereka?"


"Anak-anak?"


"Bayi kita"


"Bayi?"


"Apakah kamu melupakan mereka semua?"


Safira menggelengkan kepalanya, sejenak ia terdiam dan mencoba mengingat sesuatu. Setelah beberapa saat, barulah ia tersadar.


"Ba–bayi ku mana? Kenapa perut ku sudah seperti semula?"


Bayangan itu mendekatinya bersama dua bayangan lain.


"Ibu, Ayah?"


"Kembalilah, Fira. Kasihan Cucu-cucu Ibu dan Ayah, mereka masih membutuhkan mu, Nak"


"Kembalilah, Fira. Dia juga membutuhkan. Aku percaya, dia akan bisa membahagiakan mu sekarang"


"Tapi–"


Belum sempat Safira menerus perkataannya, ketiga bayangan itu sudah menghilang bersama hembusan angin yang menerpanya


"Ibu, Ayah, Mas Abi kalian meninggalkan ku lagi?" tanya Safira dengan lirih.


Samar-samar ia mendengar suara seseorang seperti yang sedang memanggilnya, perlahan suasana danau itu memudar dan berganti dengan suasana gelap mencekam.


"Sebenarnya aku sedang berada di mana? Kenapa orang-orang meninggalkan ku sendirian?" batin Safira sedih.


Perlahan ia melihat lentera cahaya yang berjalan ke arahnya.


"Fira"


"Safira"


"Safira, bangunlah. Kamu sudah terlalu lama tidur"


Safira menajamkan pendengarannya, seseorang itu terus memanggilnya dan menyuruhnya untuk segera bangun. Lentera itu sudah berada tepat di depannya, dan cahayanya semakin membuat mata Safira merasa sedikit perih.


Perlahan ia mulai membuka matanya dengan benar, pandangannya masih buram ia belum bisa menebak penglihatannya dengan benar.


"Fira?"


Suara itu memanggilnya lagi, kini ia bisa melihat wajah orang yang sedari tadi memanggilnya.


***


Beberapa saat yang lalu...


Setelah Arselo menidurkan bayi Safira, kini dirinya mulai mendekati ranjang Safira lagi. Ia masih belum putus asa dan menyerah untuk membangunkan Safira, ia percaya bahwa Safira masih bisa mendengarnya dari alam bawah sadarnya.


Arselo semakin bersemangat dan yakin setelah melihat Safira yang mulai meneteskan air matanya.


"Fira"


"Safira"


"Safira, bangunlah. Kamu sudah terlalu lama tidur" ucap Arselo.


Setelah Arseloo melihat air mata Safira yang kembali berhenti, ia pun segera memanggil dokter untuk memeriksakannya.


Arselo menurut, ia terus mengajak ngobrol Safira dan terus memanggil namanya, hingga kelopak mata Safira terlihat bergerak-gerak, Arselo semakin bersemangat untuk memanggil namanya. tak lama kemudian kelopak mata Safira pun terbuka.


"Alhamdulillah, Fira. Akhirnya kamu bangun" ucap Arselo penuh rasa syukur, ia pun mundur untuk memberikan ruang pada dokter yang akan memeriksa Safira.


"Alhamdulillah, semuanya tampak baik-baik saja" ucap dokter itu setelah selesai memeriksa keadaan Safira.


"A–air" pinta Safira dengan lirih.


Arselo segera memberikan segelas air putih dengan sedotan yang sudah tersedia di sana dan membantu Safira untuk bangun.


"Terimakasih, El" ucap Safira setelah ia meminum segelas air itu hingga tandas.


"Alhamdulillah, Fira. Aku masih tidak menyangka jika kamu akhirnya akan bangun, aku akan memberitahukan kabar gembira ini pada Mama, Papa, Ni Eti, Bu Resti dan juga Pak Bambang, mereka pasti akan sangat bahagia mendengar kabar ini" ujar Arselo dengan antusias.


Safira tidak menjawab perkataan Arselo, ia membiarkan pria itu melakukan hal yang diinginkannya.


"El, apa itu bayiku?" tanya Safira yang melihat box bayi di sudut ruang rawatnya.


"Iya, Fira. Itu adalah bayi mu, tunggu biar aku ambilkan" Arselo berkata sembari melangkah menuju box bayi itu.


Safira menatap wajah bayi yang masih berada dalam gendongan Arselo.


"Apa kamu sudah kuat untuk menggendongnya?" tanya Arselo, ia khawatir jika Safira masih belum cukup kuat untuk memangku bayi itu.


"Kemarilah biar aku menggendongnya, aku pasti kuat jika hanya duduk" pinta Safira dengan wajah memohon.


"Baiklah, hati-hati. Jika kamu sudah merasa lelah, beritahukan saja padaku" ucap Arselo seraya menyerahkan bayi itu pada Safira.


Safira mengangguk dan tersenyum, ia mengulurkan tangannya untuk menerima bayi merah miliknya.


"Siapa namanya, El?" tanya Safira pada Arselo.


"Aku belum memberikannya nama, Fira" jawab Arselo.


"Kenapa?" tanya Safira merasa heran dengan menatap Arselo.


"Aku memang menyayangi bayi itulah tapi aku tidak bisa lancang untuk memberikannya nama tanpa persetujuan mu" jawab Arselo apa adanya.


"Baiklah, sekarang aku mengizinkan mu untuk memberikannya nama" ucap Safira.


"Benarkah?" tanya Arselo meyakinkan dirinya.


"Hmmm, tentu saja" jawab Safira.


"Bagaimana menurut mu jika namanya Divya Janitra yang artinya "Perempuan hebat berderajat tinggi". Apa kamu setuju?" tanya Arselo.


"Nama yang cantik. Terimakasih, El" ucap Safira tersenyum tulus.


"Sama-sama, Fira".


Saat mereka setelah selesai memberikan nama pada bayi Safira, Nyonya Sita, Tuan Ardan, Ni Eti, dan Anak-anak datang untuk menjenguk Safira.


"Mama"


"Mama, kami sangat merindukan mu" ucap anak-anak. Mereka berpelukan bersama tentunya setelah bayi yang Shafira pegang sudah kembali ke tangan Arselo.


"Alhamdulillah, Fira. kami senang sekali saat Arselo memberi kabar jika kamu sudah bangun" ucap Nyonya Sita seraya memeluk Safira.


"Maaf karena sudah membuat kalian semua khawatir" sesal Safira.


"Tidak, Fira. Kamu adalah wanita yang kuat, kamu bisa melewati masa kritis mu, hingga kini kita bisa berkumpul bersama lagi" tukas Ni Eti.


"Iya Safira, kami sangat senang kamu bisa kembali lagi ke tengah-tengah kami" timpal Tuan Ardan.


Safira merasa beruntung karena sudah dikelilingi oleh orang-orang yang baik padanya, meskipun ia sudah menjadi yatim piatu, tapi kini ada sosok orang tua lain yang menggantikan kedua orang tuanya.


"Terimakasih, terimakasih karena sudah menyayangiku kayaknya seperti keluarga sendiri" ucap Safira dengan haru.


Semua orang yang ada di sana tersenyum bahagia, begitupun dengan Anak-anak yang sangat senang dengan kehadiran bayi kecil di tengah-tengah mereka.


"Ya, benar yang Ibu, Ayah dan mas Abi katakan, mereka sangat menyayangi ku dan membutuhkan ku meskipun mereka bukan keluarga kandung ku, tapi mereka tidak menganggap ku orang lain. Terimakasih, Tuhan. Terimakasih karena masih memberikan ku kesempatan untuk merasakan kehangatan keluarga lagi"