
Arselo menatap wajah Safira yang masih setia memejamkan matanya, ini sudah sepuluh jam sejak Safira keluar dari ruangan operasi, tapi ia belum melihat tanda-tanda jika Safira akan segera bangun dari tidurnya.
"Fira, ayo bangun. Lihatlah gadis kecilmu sudah lahir, Dia sangat kecil dan mungil juga lucu dan cantik, tidakkah kamu ingin segera melihatnya? Maafkan aku karena tidak bisa menjaga kalian dengan benar, hingga membuat kalian seperti ini. Aku mohon bangunlah segera, Fira. Bayi mu sangat membutuhkan, anak-anak juga terus menanyakan keadaan, kami semua membutuhkanmu, Fira" ucap Arselo pada Safira.
Selama sepuluh jam itu, Arselo tidak sedikit pun beranjak dari sisi tempat tidur Safira, kecuali hanya saat ia butuh ke kamar kecil saja. Arselo juga shalat dan mengaji di ruangan tersebut.
"El, sebaiknya kamu pulang dulu. Anak-anak terus menanyakan mu, temuilah mereka meskipun sebentar. Biar Mama dan Papa yang akan menjaga Safira di sini, lagipula sebentar lagi Bu Resti dan Pak Bambang akan segera sampai kemari. Kami sudah menceritakan semua kejadian yang menimpa Safira" ucap Nyonya Sita pada Arselo yang masih setia memandangi wajah wanita yang menjadi Ibu dari anak-anaknya.
Arselo mendesah kasar, ia tidak ingin pergi dari sisi Safira, tapi ia juga harus melihat keadaan ketiga anaknya yang lain.
"Baiklah, Ma. Aku akan pulang sebentar untuk melihat kondisi anak-anak" jawab Arselo.
Arselo pun pamit pada Safira untuk pulang terlebih dahulu.
"Fira, aku akan pulang dulu sebentar untuk melihat kondisi anak-anak, aku akan segera kembali setelah bertemu dengan wanita jahat yang sudah mencelakai mu" ucap Arselo sebelum ia pergi meninggalkan ruangan Safira.
"El, Mama harap kamu bisa menghukum orang yang sudah mencelakai Safira, Mama tidak akan tenang jika orang itu masih tetap berkeliaran bebas" ucap Nyonya Sita sebelum Arselo pergi dari sana.
"Iya, Ma. Aku tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. El pamit dulu" ucap Arselo berpamitan pada Mama dan Papanya.
"Iya, El. Hati-hati di jalan" jawab Tuan Ardan.
Arselo pun mulai melangkah pergi keluar dari rumah sakit itu dengan hati yang tidak menentu, ia terus berjalan cepat tanpa melihat kanan kiri hingga tanpa sengaja, ia menabrak seseorang.
"El? Ngapain loe di sini? Siapa yang sakit?" tanya Sarah. Ya, Seseorang yang baru ditabraknya adalah Sarah, temannya dan juga sahabat Safira.
"Safira, kemarin dia harus terpaksa melahirkan" jawab Arselo.
"Hah? Bukankah ini belum waktunya? Dan apa maksud loe dengan terpaksa melahirkan? Apa terjadi sesuatu pada Safira?" tanya Sarah dengan beruntun, ia terkejut dengan jawaban Arselo yang mengatakan jika Safira terpaksa melahirkan sebelum waktunya.
"Kemarin Safira dicelakai oleh seseorang, dia mengalami satu penusukan di area perutnya, beruntung penusukan itu tidak sampai melukai bayi yang masih dikandung oleh Safira, dan saat ini keadaan Safira masih kritis, ia belum bangun sejak sepuluh jam terakhir keluar dari ruangan operasi itu" jawab Arselo.
Sarah menutup mulutnya, ia tidak menyangka jika Safira akan mengalami kejadian hal seperti itu.
"Ya Tuhan, Fira. Gue gak nyangka jika dia akan mengalami hal seperti itu, El. Lalu gimana dengan keadaan bayinya?" tanya Sarah ingin tahu.
"Bayi Safira baik-baik saja, dia masih berada di dalam inkubator, karena berat badannya yang kurang juga daya tahan tubuhnya masih lemah" jawab Arselo menjelaskan sedikit tentang kondisi bayi Safira.
"Akh, bayi yang malang. Boleh gak nanti gue mampir buat menengoknya?" tanya Sarah dengan penuh harap.
"Tentu saja, nanti gue kasih tahu dimana ruangannya. Ngomong-ngomong, loe lagi ngapain di sini?" tanya Arselo yang heran karena melihat Sarah berada di rumah sakit.
"Devi, dia kemarin mencoba b*n*h diri dengan melukai pergelangan tangannya. Dia masih tetap menyalahkan Safira atas kejadian yang menimpa kak Deril, dia ingin mengakhiri hidupnya karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa kak Deril sudah meninggal" jawab Sarah.
"Lalu bagaimana keadaan saat ini?" tanya Arselo.
"Oh, semoga dia cepat sadar dan gak nyalahin Safira lagi. Kalau gitu, gue duluan ya. Kasian anak-anak udah nungguin di rumah" ucap Arselo berpamitan pada Sarah.
"Ok, nanti gue mampir ke ruangan Safira" jawab Sarah.
Setelah saling berpamitan, Arselo pun meneruskan langkahnya menuju ke parkiran.
Sesampai di rumah Safira, Arselo langsung disambut oleh ketiga anaknya, di sana ada Ni Eti dan Caca juga.
"Nak El, bagaimana keadaan Safira saat ini? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Ni Eti yang mengkhawatirkan keadaan Safira.
"Keadaan Safira saat ini masih mengkhawatirkan, Ni" jawab Arselo sedih.
"Pa, kami mau ketemu Mama" pinta Dayyan dengan wajah memohon.
"Iya, Pa. Kami ingin melihat keadaan Mama dan adik bayi" timpal Raiyan.
"Kami juga merindukan Mama" ucap Qirani.
Arselo menatap wajah ketiga anak-anaknya, sungguh ia tidak tega melihat mereka bersedih seperti saat ini.
"Kalian boleh ketemu Mama, tapi tidak boleh menangis di depan Mama. Saat ini Mama masih tertidur" jawab Arselo menyanggupi keinginan ketiga anaknya itu.
"Iya, Pa. Kami janji tidak akan menangis di depan Mama" ucap Raiyan senang.
"Baiklah, sekarang kalian bersiap-siap dulu ya. Nanti Papa akan jemput kalian" ucap Arselo, ketiga anak-anak itu pun menyetujui ucapan Papanya.
Arselo pamit pada Ni Eti dan juga Caca, ia harus menemui Sofyan dan Erika. Sesampainya di sana, Arselo ternyata sudah di tunggu oleh Sofyan yang sedang berdiri di depan pintu masuk lapas.
"Dimana wanita itu?" tanya Arselo.
"Dia masih dalam ruang penyidik, Tuan" jawab Sofyan.
Arselo pun mengikuti langkah Sofyan menuju ruangan tempat Erika berada. Setelah ia berbicara dengan petugas barulah Arselo di perbolehkan untuk menemui Erika.
"Tuan, maafkan saya. Kemarin saya sudah tidak bisa lagi membendung amarah yang bergejolak di dalam hati saya" ucap Erika begitu Arselo masuk ke dalam ruangan tempatnya di selidiki.
Erika tidak menyangka jika perbuatannya akan sangat merugikan dirinya sendiri, ia termakan oleh amarahnya karena melihat Safira yang bahagia bersama Arselo, sedangkan dirinya menderita karena untuk makan sehari-hari pun dia kesusahan. Uang pasangon yang Sofyan berikan padanya tidak mencukupi kebutuhannya, karena saat itu ia berfikir jika Arselo tidak benar-benar memblack list-nya, jadi ia menggunakan uang itu untuk berfoya-foya.
"Apa kata maaf dari mu bisa mengembalikan keadaan lagi? Apa saat itu kamu tidak berfikir jika perbuatan yang sudah kamu lakukan akan sangat membahayakan nyawa orang lain? Apa kamu tidak berfikir bagaimana nasib yang di alami oleh bayi itu? Dan apa kamu tahu bagaimana perasaan ketiga anak Safira yang lain saat ini? Dimana o*** mu saat itu? Kenapa wanita berpendidikan tinggi sepertimu bisa mempunyai perilaku rendahan seperti itu?
Andai saja memukul perempuan itu diperbolehkan aku akan menghabisi mu dengan tanganku sendiri" cecar Arselo pada Erika.
Erika menangis tersedu, ia mengaku sudah melakukan kesalahan besar, ia menyesal karena sudah terbawa emosi.