Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 86



Arselo tidak menyangka akibat mempertemukan Axel dengan Safira akan fatal seperti ini, dia menyesali perbuatannya itu. Sepulang dari rumah yang di tempati Axel, Safira tiba-tiba pingsan dan hampir saja mengalami keguguran.


Safira mengalami pendarahan saat ia sudah sampai di rumahnya, dan beruntung saat itu Arselo belum meninggalkannya hingga masih sempat untuk menolong Safira dan janinnya.


"Dokter bagaimana keadaan teman saya di dalam?" tanya Arselo pada dokter wanita yang baru saja keluar ruangan tempat Safira dirawat.


"Alhamdulillah, masih bisa di tangani. Pendarahannya pun tidak aktif, tapi tetap saja itu akan beresiko jika tidak ditangani dengan cepat" jawab dokter wanita itu.


"Syukurlah kalau begitu" ucap Arselo merasa lega.


"Apa tuan bisa ikut ke ruangan saya? Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan terkait kondisi pasien" tanya dokter itu.


"Baik bu, silahkan" jawab Arselo menyanggupi ajakan dokter, ia sendiri merasa khawatir dan penasaran dengan kondisi Safira.


Arselo pun mengikuti langkah dokter itu menuju ruang kerjanya.


"Silahkan duduk, tuan" ucap dokter itu mempersilahkan Arselo untuk duduk di kursi yang berada di depan mejanya.


"Apa saya boleh tahu hubungan antara anda dan pasien, kenapa bukan suaminya yang membawanya kemari?"


"Saya adalah mantan suami pasien dok, suaminya baru meninggal sebulan yang lalu"


"Oh, seperti itu. Maaf saya tidak bermaksud untuk mengetahui masalah pribadi kalian, hanya saja sepertinya pasien mengalami syok berat dan terlalu banyak fikiran sehingga membuatnya seperti ini"


"Apa yang harus saya lakukan dokter? Saya tidak mengerti dengan keadaan ini"


"Tuan hanya perlu membatu mengalihkan fikirannya agar tidak selalu merasa kesepian hingga membuatnya berfikir negatif, apalagi tanpa suami di sisinya, itu adalah hal yang berat. Kita harus selalu membuatnya senang dan bahagia, untuk mengalirkan energi positifnya. Sebisa mungkin jangan membebani fikirannya dengan hal-hal buruk" ujar dokter itu menjelaskan.


"Baiklah dokter, saya mengerti. Saya akan lebih menjaganya, terimakasih banyak atas bantuannya" ucap Arselo.


"Sama-sama tuan, dan untuk sementara ini saya sarankan pasien agar di rawat di sini sampai kondisinya benar-benar pulih" ucap dokter itu lagi.


Arselo menganggukkan kepalanya setuju.


"Baik dokter, saya akan membiarkan teman saya untuk dirawat di sini" jawab Arselo.


Setelah berbincang sedikit mengenai kondisi Safira, Arselo pun pamit untuk ke ruang rawat untuk menemani Safira.


Ceklek...


Arselo masuk ke dalam ruangan itu dan melihat Safira yang masih setia memejamkan matanya.


"Fira, aku harap kamu cepat sembuh. Aku khawatir terjadi apa-apa pada kalian, aku juga minta maaf karena sudah membawa mu bertemu dengan Axel. Seandainya saja aku tahu hal ini akan terjadi, aku pasti akan melarang mu untuk bertemu dengannya" lirih Arselo pelan seraya menatap wajah teduh Safira.


Tak lama kemudian, Nyonya Sita dan Arsela datang menemuinya.


"El, bagaimana keadaan Safira saat ini? Kenapa dia sampai bisa mengalami pendarahan?" tanya Nyonya dengan tidak sabaran.


"Safira ngotot untuk bertemu dengan Axel, ma. Dia adalah orang yang sudah menyerang kita saat itu" jawab Arselo pelan.


"Axel? Axel yang dulu pindah ke negara A bukan, bang?" tanya Arsela.


"Iya, Sel. Ternyata dia juga teman baik Safira dulu" jawab Arselo.


"Gimana bisa Axel yang menyerang kita, El?" tanya Nyonya Sita.


Seketika Nyonya Sita dan Arsela pun terkejut dengan jawaban yang Arselo berikan.


"Bagaimana bisa, El?"


"Pertamanya juga El bingung ma, hanya saja setelah Axel mengatakan yang sebenarnya. Aku ngerti dan faham, Vivi hanya ingin membuat hubungan kami menjadi buruk dan renggang" jawab Arselo.


Nyonya Sita menarik nafasnya panjang, ia tidak menyangka jika pergaulan anaknya dulu akan berdampak seperti ini. Takdir memang tidak ada yang tahu akan seperti apa kedepannya.


"Sudahlah, lebih baik sekarang kita fokus pada kesehatan Safira dulu, Sofyan pasti mengurusnya dengan benar, kan bang?" tanya Arsela.


"Iya, aku sudah menyuruh Sofyan untuk mengatasi masalah Axel. Kalau untuk Vivi, sekarang kami harus memancingnya agar kembali secepatnya ke negara ini" jawab Arselo.


"Lakukanlah yang terbaik, El. Jangan sampai Vivi atau siapa pun menyakiti Safira dan anak-anak lagi" ucap Nyonya Sita yang di angguki oleh kedua anak kembarnya, Arselo dan Arsela.


Nyonya Sita menemani Safira yang masih terlelap, sedangkan Arselo dan Arsela keluar dari ruangan itu.


"Bang, ada yang mau aku omongin. Kita duduk dulu di bangku itu yuk" ajak Arsela pada saudara laki-lakinya.


Arselo menganggukkan kepalanya untuk menyetujui ajakan adik perempuannya.


"Ada apa, Sel?" tanya Arselo


"Ini mengenai Devi. Apa abang tahu jika dia mempunyai seorang kakak laki-laki?"


"Benarkah?"


"Ku fikir Zian sudah memberi tahu mu"


"Zian? Entahlah, aku rasa aku sudah melupakan sesuatu"


"Nama saudara Devi itu adalah Deril, bang"


"Deril? Maksud mu teman Axel dan Safira?"


"Abang tahu dia?"


"Tidak, hanya saja Safira dan Axel tadi sama-sama menyebutkan nama itu"


"Jadi abang gak tahu ceritanya dari awal?"


"Coba kamu jelaskan"


"Devi itu punya saudara laki-laki bernama Deril, Deril sangat menyukai Safira dulu, bahkan ia sering mengikuti Safira diam-diam untuk memastikan jika wanita yang ia cintai itu baik-baik saja. Deril selalu membicarakan semua tentang Safira pada Devi, yang membuat Devi mengetahui siapa itu Safira, sedangkan Safira sendiri saat itu tidak mengenal Devi. Sampai suatu hari ketika Safira hampir mengalami kecelakaan, Deril-lah yang menyelamatkan dan menggantikan posisi Safira. Deril mangalami luka serius hingga dia tidak bisa bertahan lama, dan Safira hanya pingsan karena syok. Dari sanalah awal mula Devi membenci Safira, dia berfikir jika Safira-lah yang menyebabkan Deril meninggal. Devi mulai mendekati Safira untuk membalas dendam atas kematian Deril dengan memanfaatkan mu yang saat itu masih suka bermain bersama wanita dan membuat Safira hancur" terang Arsela panjang lebar, tidak ada sedikit pun kata yang keluar dari mulut Arselo, dia benar-benar sudah menghancurkan Safira dari awal.


Dia yang tidak mengetahui apa-apa terhadap Safira, dengan teganya ikut menghancurkan masa depan Safira.


"Dari mana kamu mengetahui informasi secara detail itu?" tanya Arselo.


"Tentu saja dari orang suruhan mu, kamu terlalu sibuk sehingga tidak mengetahui hal sepenting itu. Dan ada kemungkinan jika Devi masih ingin membalaskan dendamnya pada Safira" jawab Arsela.


"Ya, ku fikir juga begitu" ucap Arselo.


Hening menyelimuti ke dua saudara itu sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Sebelum akhirnya Arsela mengingat jika dirinya harus mulai bekerja, dia berpamitan pada Arselo dan meninggalkannya sendirian di bangku taman rumah sakit itu.