Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 128



Sebelum berangkat ke kantor, Arselo terlebih dahulu menelpon Sofyan untuk memintanya membelikan lontong sayur yang ia inginkan. Safira menggeleng pelan, saat ia mengetahui jika suaminya itu masih menginginkan makanan lain, meskipun tadi sudah sarapan bersamanya.


"Pah, kamu masih tetap menginginkan makanan itu?" tanya Safira sebelum Arselo benar-benar berangkat ke kantor.


Pria yang hampir mempunyai lima anak itu pun langsung mengangguk membenarkan pertanyaan sang istri. "Iya, sayang. Saat ini aku sangat menginginkannya."


Safira tidak berkata apa-apa lagi, karena dia juga pernah mengalami hal itu. "Baiklah, terserah kamu saja. Hati-hati di jalan," ucapnya.


"Baiklah, aku pergi dulu." Arselo tidak pernah lupa untuk mencium kening istri dan juga Divya, ditambah sekarang ia juga mengusap perut Safira yang masih rata sambil berbisik. "Papa berangkat dulu, ade jangan nakal di dalam sana, ya!"


Safira tersenyum kecil, baru kali ini ia merasa mendapat perhatian lebih saat mengandung. Meskipun ini adalah kehamilan yang ketiga, tapi dua kehamilan sebelumnya ia tidak merasakan kasih sayang atau belaian lembut dari suaminya.


Dulu, saat Safira hamil si kembar (Dayyan, Raiyan, Qirani) dan kehamilan kedua, ia memang tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang suami karena dia berstatus janda. Sekali pun ada yang menyentuh perut buncitnya, itu bukan suaminya, tetapi malah lelaki lain. Beruntung kehamilan yang ketiga sekarang, Safira sudah mendapatkan perhatian dari seorang lelaki yang berstatus sebagai suaminya.


Arselo menyadari keterdiaman sang istri, ia menegakkan tubuhnya dan langsung memeluk Safira dan bergumam, "Maaf, maaf karena sudah membuatmu merasakan kepedihan yang tidak bisa terlupakan." Arselo menengadah untuk menghalau air mata yang hendak keluar dari kelopaknya, sedangkan Safira sudah terisak pelan di pelukannya.


Tak berapa lama kemudian, Safira pun melepaskan pelukannya dan mengusap wajahnya yang sudah basah oleh air mata. "Sudahlah, Pah. Sekarang kamu harus berangkat kerja, aku sudah baik-baik saja. Terima kasih."


Arselo pun mengangguk dan mencium keningnya lagi sebelum ia benar-benar pergi dari hadapan istrinya. "Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu. Kamu baik-baik di rumah dan jangan melakukan hal yang berat."


Safira tersenyum dan mengangguk. "Oke. Aku akan menuruti nasehatmu."


Setelah itu Arselo pun mulai menjalankan mobilnya menuju kantor, ia juga sudah membayangkan lontong sayur yang diidam-idamkannya, sedangkan Safira sendiri memilih untuk kembali masuk bersama Divya dan Ni Eti.


***


Sesampai di kantor, Arselo segera melangkah menuju ruangan asistennyanya untuk menemui Sofyan.


BRAK


Arselo membuka pintu ruangannya begitu kencang, sehingga membuat sang pemiliknya terkejut.


Ya Tuhan ... Sofyan mengelus dadanya yang berdetak kencang.


"Mana pesanan ku?" tanya Arselo begitu ia membuka pintu ruangan kerja asistennya itu.


"Pesanan anda akan segera saya bawakan, Tuan." Sofyan berucap sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah pantry tempat dimana pesanan Arselo disimpan tadi.


"Baiklah, tolong bawakan kemari," pinta Arselo, iapun duduk di sofa ruangan Sofyan dan menunggu makanannya.


Tak lama kemudian, Sofyan pun kembali dengan membawa sebuah mangkuk yang sudah berisikan lontong sayur pesanan tuannya.


"Silakan, Tuan," ucap Sofyan sembari menyimpan mangkuk itu dihadapan Arselo.


"Hmmm, terima kasih."


Sofyan kembali lagi ke meja kerjanya dan duduk di sana, sedangkan Arselo sudah menyantap makanan yang sangat dia inginkan sedari tadi. Arselo sibuk menikmati makanannya, tanpa menghiraukan Sofyan yang menggeleng pelan kare melihat tingkah atasannya itu.


Ya Tuhan, apa orang ngidam seperti itu? Sering marah-marah dan sembarangan? Semoga saja anaknya nanti tidak akan sepertinya.


Sofyan menatap punggung Arselo yang sudah mulai terhalang oleh pintu, ia pun bangkit dan membereskan bekas makan tuannya, lalu menyimpannya kembali ke pantry.


Arselo sendiri segera masuk ke ruang kerjanya dan mengerjakan beberapa tugas yang harus segera ia selesaikan, tapi baru beberapa lembar kertas yang ia periksa, rasa kantuk tiba-tiba datang dan mengganggu konsentrasinya. Ia pun meletakkan kacamata yang dipakainya dan memijit pangkal hidung untuk mengurangi rasa kantuk itu.


Ya Tuhan, selalu seperti ini setiap pagi. Sepertinya aku harus minum kopi dulu untuk mengurangi kantuk ini. Arselo segera menelpon bagian pantry untuk membuatkannya kopi.


Tak lama kemudian kopi yang ia pesan pun datang.


"Permisi, Tuan. Saya membawakan kopi pesanan anda," ucap OB yang bertugas untuk membawakan pesanannya.


"Ya, terima kasih. Sebelum kamu kembali ke pantry, tolong panggilkan Sofyan kemari," perintah Arselo pada OB itu.


"Baik, Tuan. Saya permisi dulu."


Setelah mendapatkan izin untuk keluar dari ruangan Arselo, OB itupun berjalan ke arah ruangan Sofyan yang tidak jauh dari sana untuk memanggilkannya.


Arselo menunggu kedatangan Sofyan sambil sesekali memijat kepalanya yang mulai pening kembali. Semenjak Safira dinyatakan hamil, Arselo selalu merasakan berbagai macam keluhan di tubuhnya, mulai dari morning sickness, sakit kepala, mengantuk di pagi hari, hingga keinginan yang tidak terduga di waktu malam. Seperti saat ini, ia memanggil Sofyan keruangannya untuk meminta bantuan memijat kepalanya yang mulai terasa sakit.


Setelah menunggu beberapa saat, Sofyan pun datang ke ruangan Arselo dengan membawa beberapa berkas di tangannya.


"Tuan, ini adalah berkas yang sudah saya koreksi. Anda hanya perlu memeriksa sedikit dan menandatanganinya saja." Sofyan menyimpan berkas itu di hadapan Arselo.


"Apa itu berkas yang aku minta kemarin?" tanya Arselo, pasalnya ia sangat membutuhkan berkas itu untuk di berikan pada kliennya.


"Ya, Tuan. Ini adalah berkas yang anda minta."


"Oh, baiklah. Terima kasih." Arselo mengambil berkas itu dan memeriksanya lagi sebelum menandatanganinya, sambil terus memijit pelan keningnya.


Sofyan terus memperhatikan tuannya dan sedikit merasa iba. Sepertinya Tuan Arselo sedang sakit kepala lagi, batinnya.


"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Sofyan setelah Arselo selesai menandatangani berkasnya.


"Aku ingin minta tolong padamu untuk memijat kepalaku sebentar," ucap Arselo sambil menyenderkan kepalanya di sandaran kursi.


"Baiklah, Tuan." Sofyan pun melangkah ke belakang kursi Arselo dan mulai memberikan pijatan kecil di kepala tuannya.


Arselo memejamkan matanya dan menikmati setiap kegiatan yang diberikan oleh Sofyan di kepalanya.


Aku pasti bisa melewati ini semua, untung saja bukan Safira yang merasakannya. Setidaknya aku bisa sedikit menanggung penderitaannya, gumam hati Arselo.


Bagaimanapun juga, ia masih tetap merasa bersalah atas semua kejadian yang sudah menimpa istrinya dulu, meskipun Safira sudah mengatakan jika ia memaafkannya, tetapi rasa bersalah itu masih tetap bersarang di hatinya dan tidak akan pernah hilang sampai kapanpun.