
Safira masih terjaga saat malam hari, ia sama sekali tidak merasa mengantuk. Safira hanya menatap anak-anaknya yang sedang terlelap, suasana di kampung itu sangat sunyi dan gelap. Mungkin orang-orang sudah tidak ada yang terjaga lagi selain dirinya, Safira kembali menerawang ingatan saat-saat ia dan suaminya masih bersama. Biasanya jika Safira tidak bisa tidur seperti ini, Abizar akan senantiasa menemaninya mengobrol sampai Safira mengantuk dan mereka tidur bersama.
Flashback on
Malam itu Safira tidak bisa tidur karena merasa gelisah, entah kenapa malam itu rasanya dia seperti sedang merasa kehilangan dan sedih.
"Sayang, apa ada yang mengganggu fikiran mu? Kenapa kamu belum istirahat?" tanya Abizar sambil memeluknya dari belakang.
"Aku belum ngantuk bang. Kalau abang lelah, istirahatlah duluan. Nanti aku nyusul" jawab Safira sambil menyentuh tangan Abizar yang mendekap perutnya.
"Apa ada yang kamu fikirkan, sayang?" tanya Abizar semakin mendekap erat tubuh istrinya.
Safira tersenyum mendengar pertanyaan Abizar yang penuh dengan perhatian.
"Entah kenapa hari ini aku merasa sedih sekali bang, padahal tidak ada alasan untuk aku bersedih" jawab Safira.
"Sayang?"
"Ya bang?"
"Ada yang aku inginkan darimu"
Safira mengerutkan keningnya.
"Apa itu?"
"Bisakah kau mengganti panggilan mu pada ku? Rasanya aku seperti tidak ada bedanya saat sebelum menikah dan sekarang, karena kamu masih memanggil ku ABANG"
Safira tersenyum mendengar penuturan suaminya itu.
"Abang ingin aku panggil apa?"
"Terserah kau saja"
"Bagaimana kalau aku panggil mas?" tanya Safira sambil membalikan tubuhnya menghadap Abizar.
"Itu lebih baik, aku suka" jawab Abizar memeluk kembali Safira.
"Oh ya, kamu ngerasa sedih kenapa?" tanya Abizar lagi.
"Aku ngerasa mas bakal pergi jauh ninggalin aku sama anak-anak" jawab Safira pelan dalam dekapan suaminya.
"Lho, besokkan aku emang mau ke luar kota, sayang. Kamu lupa ya?" tanya abizar lagi.
"Bukan itu mas" jawab Safira lirih.
Abizar menarik nafasnya dalam sambil menciumi wangi rambut Safira.
"Aku gak tau maksud kamu pergi jauh yang bagaimana sayang. Tapi selama aku masih bernafas, aku janji gak akan pernah tinggalin kamu dan anak-anak. Rasa sayang ku pada kalian itu bukan sesaat, jadi aku tidak akan pernah melepaskan begitu saja apa yang sudah aku perjuangkan selama ini. Kalian adalah harta terbaik dan terindah yang pernah aku miliki" ujar Abizar kembali mendekap erat Safira.
Flashback off
"Mas, aku merindukan mu. Apa aku sanggup menjalani hari-hariku tanpa mu? Anak-anak sangat terpukul atas kepergian mu yang tiba-tiba seperti ini" batin Safira sambil terisak pelan karena takut mengganggu anak-anak dan ni Eti yang sedang beristirahat.
Safira menyentuh perutnya yang masih rata, disana ada buah hati Abizar dan Safira yang sedang berkembang, kehadiran anak itu selalu di tunggu oleh Abizar. Setiap malam Abizar selalu mengusap sayang perut Safira, dan berharap janin itu segera hadir di tengah mereka.
"Nak, apa kamu tahu? Papa mu sangat menantikan kehadiranmu. Dia selalu bertanya pada mama, apa kamu sudah hadir? Kenapa kamu belum memberikan tanda kehadiranmu? Dan banyak lagi pertanyaan papa tentang mu. Ketahuilah nak, meskipun kamu belum sempat bertemu dengan papa mu, papa mu itu adalah orang baik, papa terbaik untuk anak-anaknya. Kamu jangan bersedih karena tidak ada papa, mama dan kakak-kakak mu akan selalu sayang terhadap mu. Kamu harus tumbuh dengan baik dan sehat disana, kami akan selalu menunggu mu sampai waktunya kita bertemu nanti" ujar Safira panjang lebar sambil mengusap sayang perutnya.
***
Pagi mulai menyapa, suasana dingin pedesaan membuat Safira menarik selimutnya kembali, di tambah tadi malam ia baru bisa tertidur saat dini hari.
"Mama, apa mama baik-baik saja?" tanya Qirani yang duduk di sebelah Safira.
Qirani khawatir karena tidak biasanya selepas shalat subuh mamanya itu kembali ke tempat tidur, Safira yang biasanya akan selalu bawel terhadap anak-anak dan suaminya jika salah satu dari mereka ada yang kembali tidur setelah shalat.
"Mmmh, mama baik-baik aja kak. Cuma sedikit pusing karena tadi malam kurang tidur, apa papa El sudah datang kemari?" tanya Safira pada Qirani sambil memaksakan dirinya untuk bangun dari tempat tidur itu.
"Papa El belum datang ma" jawab Qirani pelan sambil menundukkan kepalanya menatap jemari yang ia mainkan di atas pangkuannya.
"Kakak kenapa? Cerita sama mama kalau ada yang mengganggu fikiran kakak" tanya Safira karena melihat anak gadisnya itu murung.
"Aku... Aku rindu papa Abi, ma" jawab Qirani sambil menyembunyikan wajah dengan telapak tangannya.
Safira tertegun mendengar jawaban Qirani. Sungguh ia juga merindukan suaminya itu, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mendoakannya saja.
Safira memeluk Qirani yang sedang menangis di sampingnya itu.
"Kalau kakak kangen papa, kakak coba berdoa dan sampaikan rasa rindu itu lewat doa. Siapa tahu papa akan mendengar doa kakak dan akan menemui kakak di dalam mimpi" ucap Safira sambil mengusap sayang kepala Qirani.
"Apa benar ma, papa akan mendengarnya?" tanya Qirani sedikit antusias.
"Kakak coba saja, mudah-mudahan doanya di dengar oleh papa" jawab Safira.
Mendengar jawaban Safira, Qirani sudah sedikit lebih tenang dan mulai berhenti menangis.
Safira dan Qirani keluar dari kamar bertepatan dengan kedatangan Arselo ke rumah ni Eti.
"Bagaimana keadaanmu sekarang Fira?" tanya Arselo yang melihat Safira dan Qirani keluar dari kamarnya.
"Aku sudah lebih baik, El" jawab Safira.
"Apa kau merasa mual dan pusing? Arsela menyuruhku membawakan vitamin ini untukmu" ucap Arselo sambil menyerahkan kantong kresek yang ia bawa dari klinik tempat Arsela menginap.
"Terima kasih El, harusnya kamu tidak perlu repot-repot seperti ini" ucap Safira sambil menerima kantong kresek yang dibawakan Arselo.
"Aku sama sekali tidak merasa repot Fira. Kemana perginya Day dan Rai?" tanya Arselo saat ia tak melihat dua anak laki-lakinya itu.
"Sepertinya sedang di dapur, tadi subuh aku minta buat bantuin nini disana, tadi aku sedikit pusing jadi tidak bisa menemani nini" jawab Safira.
Arselo pun melangkahkan kakinya ke dapur ni Eti untuk menyapa ke dua anak laki-lakinya, ia melihat mereka tengah mengobrol dengan ni Eti sambil menghangatkan badannya di depan tungku api. Sejenak Arselo mendengar sesuatu yang menyangkut dirinya dan Abizar, dia pun tidak langsung menemui mereka dan memilih untuk sedikit menguping. Ini memang kurang sopan, tapi dia begitu penasaran.