
Setelah menemui Mamanya, Anak-anak pun meminta Arselo untuk melihat kondisi Adik bayi mereka.
"Papa, kami ingin melihat adik bayi sekarang, apakah boleh?" tanya Qirani dengan penuh harap.
Arselo mengangguk untuk menyetujui permintaan mereka.
"Tentu saja. Ayo kita lihat Adik bayi kalian" jawab Arselo.
Berjalan dari ruangan tempat Safira berada menuju ruangan tempat bayi tidak memakan waktu lama.
Arselo menunjukkan sebuah boks inkubator yang terdapat seorang bayi perempuan yang masih mungil, ketiga anaknya sangat antusias saat melihat Adik bayi mereka.
"Pa, Adik bayinya perempuan atau laki-laki?" tanya Dayyan ingin tahu.
"Papa akan memberitahukan jenis kel*m*nnya, tapi kalian tidak boleh bertengkar atau pun berebut lagi karena Adik bayinya sekarang sudah lahir, jadi kalian harus tetap menyayanginya" ucap Arselo untuk mengingatkan mereka.
"Baik, Pa. Kami mengerti" jawab anak-anak itu serempak.
Arselo tersenyum melihat ke kompakan Anak-anak itu.
"Adik bayinya perempuan" ucap Arselo.
Qirani yang paling terlihat senang, sedangkan Dayyan dan Raiyan hanya tersenyum tipis.
"Kalian harus saling menyangi dan saling melindungi satu sama lain" sambung Arselo.
"Baik, Pa. Kami janji akan menyayangi Adik bayi dan membantu Mama untuk menjaganya" jawab Dayyan.
Arselo tersenyum haru mendengar jawaban dari anak sulungnya itu.
"Kalian memang anak papa yang pintar" ucap Arselo seraya memeluk ketiga anaknya.
"Siapa nama Adik bayi itu, Pa?" tanya Raiyan.
"Papa belum memberikan nama untuk Adik bayi itu, biar nanti tunggu mama yang akan menamainya" jawab Arselo.
Setelah puas melihat adik bayinya, tiga kembar kakak beradik itu pun kembali lagi ke ruangan Safira dirawat. Cukup lama mereka di sana, sampai akhirnya Ni Eti mengajak mereka pulang kembali.
"Anak-anak, ayo kita pulang sekarang" ajak Ni Eti.
Nyonya Sita melangkah mendekati Ni Eti.
"Nini, kalau boleh saya ingin mengajak Anak-anak untuk menginap di rumah, apa Nini akan mengizinkan?" tanya Nyonya Sita dengan penuh harap.
Ni Eti sedikit menimang keinginan Nyonya Sita, beliau tidak terbiasa berjauhan dengan Anak-anak Safira, meskipun terkadang mereka menginap di rumah Nyonya Sita, tapi saat itu ada Safira yang menemaninya dan saat ini jika Anak-anak ikut dengan Nyonya Sita, maka Ni Eti akan sendirian.
"Akh, iya, aku lupa jika ada Resti dan Bambang yang akan menemani ku" batin Ni Eti.
"Baiklah. Anak-anak, kalian tidak boleh nakal nanti ya, Nini pulang dulu sekarang" pamit Ni Eti pada Dayyan, Raiyan, dan Qirani.
"Iya, Ni. Nin dan Aki hati-hati di jalan" ucap Dayyan mewakili dua saudaranya untuk berbicara.
Setelah Bu Resti dan Pak Bambang pamit pulang beserta Ni Eti, kini tinggal Arselo bersama anak-anaknya, Nyonya Sita dan Tuan Ardan yang masih di sana.
Nyonya Sita dan Tuan Ardan menemani Arselo dan anak-anak di sana hingga sore hari. Saat hari mulai gelap, barulah Nyonya Sita dan Tuan Ardan mengajak ketiga cucu kembarnya untuk pulang.
"Mama, Papa dan Anak-anak akan pulang. Kamu di sini baik-baik, kami akan meminta Pak Tarjo untuk membawakan makanan juga baju ganti untukmu" ucap Nyonya Sita belum mereka pergi.
"Baik, Ma. Terimakasih" jawab Arselo.
Setelah berpamitan dengan Safira juga, barulah Nyonya Sita dan Tuan Ardan beserta anak-anak pergi dari ruangan itu meninggalkan Arselo yang akan menjaga Safira.
Ruangan itu kembali sepi, hanya ada Arselo dan Safira yang masih setia memejamkan matanya. Setelah dokter memeriksa keadaan Safira tadi, ia kembali termenung.
"Fira, aku harap kamu mendengar ucapan ku. Aku tahu kamu pasti mendengar semua perkataan dari orang-orang yang sudah menjengukmu, termasuk anak-anak mereka sangat merindukanmu. Sampai kapan kamu akan tetap memejamkan mata seperti ini? Aku dan Anak-anak sangat rindu melihat senyuman mu juga mendengar semua ocehan mu" ucap Arselo yang sudah duduk di kursi dekat ranjang pasien
***
Waktu terus bergulir, tanpa terasa seminggu sudah berlalu. Safira masih belum juga membuka matanya, ia masih setia dengan kesendiriannya. Selama seminggu itu pula Arselo tidak pernah beranjak pergi menjauhinya, ia selalu berada di sisi Safira. Bahkan ia juga terkadang membawa pekerjaannya ke sana, untuk masalah meeting dan pertemuan lainnya sudah di-handle oleh Sofyan dan Tuan Ardan.
Bayi milik Safira pun sudah keluar dari inkubator, dokter memang menyarankan untuk membawa bayi itu pulang, tetapi Arselo menolaknya. Ia merawat bayi itu di sana bersama Safira, Arselo yang awalnya tidak pernah mengurus bayi kini mulai terbiasa untuk melakukan hal itu.
Bu Resti dan Pak Bambang sudah kembali lagi ke desa, mereka bukannya tidak ingin mengurus cucunya di sana, hanya saja di sana juga tidak ada yang mengurusnya karena mereka sedang sibuk-sibuknya. Jadi mereka mempercayakan cucunya untuk dirawat oleh Arselo.
Seperti biasa, pagi ini setelah Arselo meminta suster Mia untuk memandikan bayi Safira, kini dirinya yang akan menjemur bayi itu.
Bahkan Arselo juga belajar cara memijat bayi, meskipun masih sedikit kaku, tapi ia melakukannya dengan benar dan perlahan. Setelah selesai dengan acara menjemur bayinya, Arselo mulai memakaikan pakaian, dan menimang bayi itu dengan penuh kasih sayang.
"Nak, ayo kita sapa Mama mu dulu sebelum kamu tidur" ajak Arselo pada bayi merah itu, Arselo mendekatkan bayi itu pada Safira.
"Fira, tidakkah kamu ingin melihatnya? Dia sangat cantik dan lucu. Hidungnya sangat mirip dengan mu, matanya sangat mirip Papanya, tapi kenapa bibirnya tidak mirip kalian ya? Sepertinya bibirnya lebih mirip dengan milik ku, apa kamu benar-benar pernah membenci ku, Fira?" tanya Arselo, yang tentu saja tidak mendapat tanggapan apa-apa dari lawan bicaranya.
"Kata orang, kalau Ibu hamil itu jangan pernah membenci seseorang, atau bayinya bisa mempunyai kemiripan dengan orang itu" sambung Arselo lagi.
Ia tidak henti-hentinya terus menatap wajah dua perempuan berbeda generasi itu, ia bahagia karena akhirnya bisa gendong bayi itu, tapi ia juga sedih melihat ibu bayi itu yang masih terbaring tidak berdaya.
"Fira, aku harap kamu segera bangun. Kasihan bayi mu, dia membutuhkan mu, Anak-anak membutuhkan mu, dan–aku–aku juga membutuhkan mu" ucap Arselo lirih di iringi dengan air mata yang mulai menetes dan segera ia usap.
"Nak, sudah dulu menyapa Mamanya ya, sekarang kamu tidur dulu" ucap Arselo pada bayi merah itu, ia mulai menimbangnya hingga bayi itu terlelap.