
Pagi ini Safira, Abizar serta anak-anak akan pergi ke sebuah pulau yang terletak di kota C, mereka sudah bersiap dari subuh mula. Arselo juga akan menghantarkan Safira, Abizar dan anak-anaknya ke bandara.
Sebelumnya Abizar sudah menolak untuk diantar oleh Arselo, tapi ayah dari anak-anak itu tidak menggubrisnya dan kukuh ingin mengantarkan kepergian mereka.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Arselo.
"Sepertinya sudah" jawab Abizar yang baru saja selesai menyimpan koper yang akan ia bawa di bagasi mobil Arselo. Setelah itu ia pun masuk dan duduk di samping Arselo yang mengemudikan mobilnya sendiri tanpa Sofyan.
"Harusnya kau tidak perlu repot-repot seperti ini" ucap Abizar saat mereka akan mulai keluar dari pelataran rumah Safira.
Arselo tersenyum mendengar perkataan Abizar.
"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan, justru aku minta maaf karena anak-anak akan mengganggu acara honeymoon dengan Safira" ujar Arselo.
"Tidak apa-apa, aku senang pergi berlibur bersama mereka, karena hal itu yang dari dulu sangat aku impikan" jawab Abizar sambil tersenyum ramah.
"Aku kira orang baik seperti Abizar tidak akan pernah ku temui lagi, dimana lagi aku akan menemukan orang yang sebaik dia? Bahkan anak-anak ku saja sampai mengangumi sosoknya, pantas saja jika Safira memutuskan untuk menikah dengannya tidak seperti diriku yang dulu" batin Arselo miris membandingkan dirinya dengan Abizar.
"Oh ya, bagaimana dengan kasus yang sedang kau hadapi? Apa semuanya lancar? Maaf jika aku lancang bertanya seperti ini. Aku hanya ingin tahu saja" ucap Abizar yang ingin tahu tentang perceraian Arselo dengan Vivi.
"Lumayan, cukup rumit. Karena Vivi menuntut balik jika aku sudah menggugurkan janinnya" jawab Arselo apa adanya.
Ya, perceraian Vivi dengan Arselo terbilang alot karena Vivi yang tidak ingin di ceraikan oleh Arselo. Bahkan dia sampai menuntut balik atas tindakan Arselo yang melakukan operasi saat Vivi sedang tidak sadar saat itu.
"Lho, bukankah kau sudah menjelaskan perihal itu pada Vivi?" tanya Abizar yang merasa heran.
"Entahlah aku juga merasa bingung dengan apa yang sudah Vivi rencanakan" jawab Arselo lagi.
Safira tidak menanggapi percakapan ke dua pria dewasa di mobil itu, karena ia sendiri sedang sibuk dengan dua pria kecil yang terus bertanya tentang banyak hal sampai-sampai ia sendiri kelimpungan untuk menjawab pertanyaan dua anak laki-lakinya itu.
Sesampainya mereka di bandara, anak-anak segera berlarian karena senang Ini pertama kalinya untuk mereka akan naik pesawat terbang. Safira dan Abidzar dengan sigap segera membawa anak-anak itu kembali bersama mereka agar tidak terpencar.
"Abi, apa kau tidak apa-apa berlibur bersama anak-anak jika seperti ini?" tanya Arselo yang tengah memegangi tangan Qirani.
"Aku benar-benar tidak keberatan. Wajar saja jika seperti itu, mereka hanya anak-anak yang belum mengerti dan rasa ingin tahunya sangat besar" jawab Abizar.
"Dia cukup dewasa dan sabar untuk menghadapi sesuatu, jika aku berada di posisinya saat ini, mungkinkah aku akan sesabar dia?" tanpa sadar Arselo lagi-lagi membandingkan dirinya dengan Abizar.
Abizar tersenyum mendengar permintaan Arselo.
"Sudahlah. Mau sampai kapan kau terus-terusan minta maaf seperti ini?" tanya Abidzar dengan nada geli.
"Hei, aku hanya minta maaf saja pada mu, lagi pula aku kasihan juga terhadap mu!" jawab Arselo dengan ketus.
Abizar mengeluarkan keningnya tidak mengerti.
"Kenapa aku harus di kasihani?" tanya Abizar dengan tidak mengerti.
Arselo tidak langsung menjawab pertanyaan Abizar, dia malah tersenyum mengejek pada Abizar.
"Kau pasti akan terganggu dengan anak-anak dan tidak bisa melakukan malam pertama dengan Safira" ucap Arselo dengan berbisik di telinga Abizar.
Mendengar penuturan Arselo yang seperti itu membuat Abizar malu dan kesal sekaligus, ia bukannya tak punya *****, hanya saja ia mengalah untuk anak-anak dan lebih mementingkan kebahagiaan mereka dahulu, Abizar fikir hal semacam itu bisa ia lakukan jika memang waktunya sudah tepat saja.
"S*****n kau berkata seperti itu pada ku" ucap Abizar sambil menendang kaki Arselo pas di tulang keringnya, dan mungkin saja akan membiru dengan cepat.
"Hei, aku hanya mengatakan sesuai fakta saja" jawab Arselo.
"Diam kau!!!" ucap Abizar kesal.
Safira yang melihat pertengkaran Arselo dan suaminya pun merasa heran.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian ribut seperti itu?" tanya Safira yang membawa anak-anak di genggaman tangannya.
"Tidak ada sayang, jangan fikirkan kami. Ini hanya masalah antar lelaki saja" jawab Abizar sesantai mungkin.
Sementara Arselo tengah mengulum senyum untuk menahan tawanya agar tidak meledak di hadapan Safira.
"Baiklah" ucap Safira menganggukkan kepalanya meskipun ia masih merasa heran.
Setelah mereka sampai di batas pengantar, Arselo pun meninggalkan Safira, Abizar dan anak-anak. Hari ini ia akan lumayan sibuk dengan pekerjaan dan ia juga harus menghadiri sidang perceraiannya dengan Vivi yang ke tiga kalinya, di tambah ia juga sudah memiliki janji dengan detektif bayangan yang ia sewa untuk terus mengawasi gerak-gerik Vivi.
"Aku harap kalian bisa bersenang-senang dan menikmati waktu honey moon atau liburan keluarga?" fikir Arselo bingung, lantas ia pun mulai menancap gas mobilnya dan meninggalkan pelataran bandara itu.