Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 82



Axel tidak menanggapi perkataan Arselo, dia juga bersalah karena tidak bisa menjaga Vivi dulu. Dia meninggalkan Vivi karena tuntutan orang tuanya yang menyuruhnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang ada di luar negeri. Saat kembali, dia menemukan fakta bahwa anak yang dikandung Vivi sudah meninggal, dan juga Vivi yang sedang dalam tahanan penjara.


"Apa–" Axel tidak mampu melanjutkan perkataannya.


"Kenapa?" tanya Arselo tidak sabaran.


"Apa yang terjadi pada pria itu?" tanya Axel tiba-tiba.


"Pria mana yang kau maksud?" tanya Arselo mulai curiga.


"Pria yang waktu itu tidak sengaja tertembak, saat salah satu pesuruh ku akan menembak salah satu anak mu?" tanya Axel dengan suara pelan dan kepala tertunduk.


Jeder...


Sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan bagi Arselo, dia bangkit dari duduknya dan menghampiri mantan sahabatnya dulu dengan langsung mencekal kerah kemejanya.


"Apa maksud dari pertanyaan mu itu?" desis Arselo di hadapan wajah Axel.


"Ma– maafkan aku. Aku termakan oleh perkataan Vivi waktu itu dan langsung menyerang mu, aku tidak bermaksud untuk menembak pria itu" jawab Axel dengan susah payah.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Arselo yang sudah terpancing emosinya tidak bisa mengendalikan diri lagi, dia menghajar Axel habis-habisan.


"Meskipun pria itu tidak tertembak, tetap saja anakku yang akan menjadi korbannya. Dimana waras mu? Vivi itu adalah wanita ular yang sudah menghancurkan hubungan persahabatan kita, kenapa kau tidak sadar juga?" teriak Arselo


"Dulu aku sangat menyukainya, kupikir dia adalah wanita yang lemah lembut. Tapi setelah mendengar semua penuturan mu, aku sadar, aku menyesal" jawab Axel pelan.


"Sekarang katakan padaku, dimana wanita itu berada?" desis Arselo lagi.


"Di– Dia sudah meninggalkan negara ini, aku mengirimnya ke negara A, tempat tinggalku saat ini" jawab Axel.


Arselo pun melepaskan genggaman tangannya dari kerah baju Axel.


"S***, aku tidak mau tahu. Kau harus membawanya lagi ke negara ini secepatnya" ucap Arselo dengan marah.


Arselo dulu memang mengetahui jika Axel menyukai Vivi, dia fikir rasa suka Axel hanya sebatas teman tidur saja, sama seperti yang dia lakukan dulu. Sebelum akhirnya Axel pergi meninggalkan dirinya secara tiba-tiba dengan perkataan yang cukup menghina dan perlahan menjauhinya, sehingga kedekatan mereka pun mulai renggang.


Tanpa sepengetahuan Arselo, ternyata Axel dan Vivi masih berhubungan.


"Baiklah, aku akan membawanya kembali. Apa aku bisa bertemu dengan wanita yang ku bunuh suaminya itu? Aku ingin meminta maaf padanya" tanya Axel.


"Kau akan menyesal karena sudah membuat wanita itu bersedih. Apa kau tahu, wanita itu sedang hamil sekarang dan tanpa seorang suami lagi" ucap Arselo yang membuat Axel terkejut.


"A–apa? Bagaimana bisa?"


"Saat itu kami akan merayakan hari ulang tahun ketiga anak kembar ku, dan wanita itu ingin membuat kejutan untuk suaminya juga anak-anak ku. Sebelum akhirnya kau malah membuat kerusuhan dan menghilangkan nyawa seseorang" jawab Arselo.


"Wanita j****g s***an, dia sudah menipuku" desis Axel.


Tak lama kemudian, Sofyan masuk ke dalam ruangan Arselo.


"Tuan apa anda sudah siap untuk pertemuan meeting bersama klien di restoran milik nyonya Safira?" tanya Sofyan pada atasannya itu.


Sofian cukup terkejut saat melihat Axel yang sedang duduk di sofa tunggu dengan wajah yang sudah babak belur.


"Aku sudah siap. Sebentar lagi kita berangkat" jawab Arselo pada Sofyan.


"Sofyan tolong ambilkan kotak obat dan bawa ke sini" perintah Arselo yang mendapat anggukan dari Sofyan.


"Baik tuan" jawab Sofyan.


Setelah mendapatkan kotak obat, Sofyan pun meletakkannya di atas meja di hadapan Axel.


"Silakan obati luka anda sendiri tuan, karena kami harus segera pergi" ucap Sofyan setelah meletakkan kotak obat itu.


"Baiklah, terima kasih" jawab Axel.


Arselo dan Sofyan meninggalkan Axel yang masih di ruangan itu sendiri.


***


Setelah tadi pagi ia periksa oleh Arsela, Safira sudah tidak lagi mengalami kram di perutnya. Suster Mia sangat telaten dalam menjaganya, bahkan ia juga membantu Safira saat ingin ke kamar kecil. Sedangkan anak-anak yang mengerti dengan keadaan Safira, mereka hanya menemani Safira dan tidak membuat kegaduhan seperti biasa.


"Mama, apa adik bayinya baik-baik saja?" tanya Dayyan sambil tangannya terus mengusap perut Safira.


"Doakan saja, semoga adik bayi sehat terus di dalam sana" jawab Safira sambil mengusap kepala Dayyan.


"Mama, adik bayinya cewek atau cowok?" tanya Raiyan.


"Mama gak tahu sayang, memangnya kenapa?" tanya Safira pada Raiyan.


"Aku boleh gak minta adik laki-laki?" tanya Raiyan lagi.


"Gak boleh, abang. Aku maunya adik perempuan" tolak Qirani.


"Gak mau, pokoknya harus adik laki-laki" seru Raiyan tidak ingin mengalah.


"Abang, kakak, dengerin mama. Mau adiknya perempuan ataupun laki-laki, kalian harus tetap menyayanginya dan menjaganya. Kalian kan anak yang baik dan pintar, jangan bikin adiknya nanti sedih atau nangis, mengerti?" tanya Safira pada kedua anaknya itu, sedangkan Dayyan hanya mendengarkan tanpa ikut berebut.


"Baiklah, ma. Maafkan kami" ucap Raiyan dan Qirani bersama-sama.


Safira yang mendengar ucapan kedua anaknya itu, langsung memeluk mereka bertiga.


"Mama sayang kalian semua"