Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 104



Pagi hari tiba, Arselo seperti biasa akan mampir ke rumah Safira untuk bertemu dengan ketiga anaknya dan juga Ibu dari anak-anak itu. Tak lupa, ia juga membawa pesanan wanita hamil yang sedang menginginkan sarapan ketupat sayur yang di jual dekat perumahan Arselo.


"Pagi Papa" sapa anak-anak yang sudah menunggu kedatangannya. Mereka menyambut Arselo di depan pagar rumah itu.


"Pagi juga anak-anak pintar Papa. Ayo masuk, Papa sudah bawakan pesanan Mama kalian" ucap Arselo pada ketiga anaknya.


"Papa, itu bukan maunya Mama. Itu maunya adik bayi yang masih dalam perut Mama" ucap Qirani.


Arselo tersenyum mendengar ucapan anak perempuannya itu.


"Baiklah. Ayo kita berikan ini untuk adik bayi" ralat Arselo.


Mereka berjalan bersama menuju rumah Safira, disana sudah ada Ni Eti yang sedang duduk di temani teh hangat di tangannya.


"Assalamualaikum, Ni" sapa Arselo pada Ni Eti.


"Waalaikumsalam, Nak El. Safira sudah menunggu kedatangan mu dari tadi, dia sedang di dalam sekarang" jawab Ni Eti sambil memberi tahukan keberadaan Safira.


"Baik, Ni" jawab Arselo.


Ia pun mengikuti langkah anak-anaknya masuk ke dalam rumah, di sana sudah ada Safira yang sedang menunggu makanan pesanannya.


"Kenapa lama, El?" tanya Safira yang sudah menunggunya dari tadi.


"Maaf, Fir. Aku harus mengantri untuk mendapatkan pesanan mu itu" jawab Arselo sembari mengulurkan kantong yang ia pegang, dan Safira pun menerimanya dengan gembira. Tentu saja ia senang, karena saat ini makanan itu adalah yang diinginkannya.


Setelah menerima kantong itu, Safira segera berjalan menuju dapur untuk menyiapkan semuanya dengan di bantu Simbok.


"Ini buat Mbok satu" ucap Safira PTmemberikan sebungkus makanan itu pada Simbok. Arselo selalu membawa porsi yang lebih setiap kali ia memesan makanan padanya, dan Safira selalu menyisihkan porsi lebih itu untuk orang lain.


"Terimakasih, Bu" ucap Simbok seraya menerima makanan itu.


"Sama-sama, Mbok" jawab Safira tersenyum.


Setelah selesai menyiapkan semua makanan itu, Safira pun membawanya ke atas meja makan untuk dimakan bersama.


"Anak-anak, ayo kita sarapan dulu" panggil Safira pada ketiga anak-anaknya.


"Iya, Ma" jawab anak-anak itu bersamaan.


Arselo dan Ni Eti mengikuti langkah anak-anak dari belakang, menuju meja makan di sana. Inilah aktivitas baru Arselo semenjak ia dekat dengan Safira dan anak-anak.


"El, apa yang akan kamu lakukan pada wanita kemarin?" tanya Safira ingin tahu tentang Erika.


"Sepertinya Sofyan sudah mengerjakan tugasnya dengan baik, pagi ini aku mendapat kabar darinya, jika dia sudah tidak bekerja lagi di sana. Sofyan juga sudah memblacklist-nya. Jadi dia tidak akan mendapat pekerjaan lagi" jawab Arselo merasa puas dengan cara kerja Sofyan.


"Kamu serius sudah memblacklist-nya? Padahal jika hanya memecatnya pun sudah cukup" tanya Safira tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan Arselo pada Erika.


"Aku tidak puas jika hanya memecatnya, bisa saja dia kembali berulah dengan mendekati para pesaing ku dan memberikan informasi tentang perusahaan ku" jelas Arselo.


"Tapi itu sangat kejam, El. Bagaimana dia akan menghadapi kesulitan keluarganya nanti, kalau tidak mempunyai pekerjaan" ucap Safira, ia merasa sedikit kasihan dengan Erika.


"Dia bisa membuka warung sederhana untuk bertahan hidup, aku sudah memberinya pesangon cukup" jawab Arselo lagi.


"Benarkah?" tanya Safira memastikan.


"Hmmm, kamu bisa tenang, kan?" tanya Arselo yang melihat Safira sedikit termenung.


"Entahlah" jawabnya tidak pasti. Sebenarnya ia merasa sedikit khawatir, karena bisa saja Erika melakukan kejahatan lain untuk membalas dendam pada Arselo.


Selesai sarapan bersama, Arselo pun pamit menuju perusahaannya, begitupun anak-anak yang ikut bersama dengannya menuju ke sekolah mereka bersama Anisa yang akan menungguinya.


Waktu terus berlalu, tak terasa kini usia kehamilan Safira sudah memasuki bulan ke delapan, perutnya pun sudah sangat terlihat besar sehingga membuatnya sedikit kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan gerakannya pun sangat terbatas. Hamil kali ini berbeda dengan hamil yang sebelumnya.


Jika saat hamil yang pertama Safira sangat kuat dan gesit meskipun dengan tiga anak kembar, maka kali ini ia mudah kelelahan dan gerakannya pun sedikit lambat. Beruntung Arselo juga mempekerjakan suster Mia kembali untuk selalu ada disamping Safira dan membantunya.


Pagi ini rencananya Arselo akan membawa Safira untuk berjalan-jalan di taman, bersama ketiga anaknya dan juga suster Mia.


"Fira, mana anak-anak?" tanya Arselo saat ia masuk ke dalam rumah dan tidak menemukan keberadaan tiga anak kembarnya itu.


"Mungkin mereka masih bersiap, El. Tunggulah dulu, aku akan memanggil mereka" ucap Safira seraya hendak bangkit dari duduknya.


"Fira, biar aku saja yang memanggil mereka, kamu tunggulah di sini" ucap Arselo menghentikan gerakan Safira.


"Baiklah, maaf karena merepotkanmu, El" ucap Safira yang merasa tidak enak hati karena harus membiarkan Arselo untuk memanggil ketiga anak mereka.


"Tidak apa, Fira. Aku mengerti keadaanmu" jawab Arselo.


Arselo pun melangkah menuju kamar ketiga anaknya, untuk memanggil mereka. Dari luar kamar, Arselo mendengar jika ketiga anak itu sedang sebutkan bayi yang ada di dalam perut Safira, mereka sudah tidak sabar untuk menanti kehadiran anggota barunya.


"Abang, Qiran maunya adik bayi perempuan" ucap Qirani.


"Gak mau, aku maunya adik bayi laki-laki lagi" jawab Dayyan.


"Iya, de. Yang perempuan cukup kamu aja sendiri" timpal Raiyan.


"Abang Day, Abang Rai, Qiran maunya adik bayi perempuan" kukuh Qirani.


"Apa mereka sedang memperebutkan bayi lagi?" tanya Arselo dalam hatinya.


Lantas ia pun segera memasuki kamar dimana ketiga anak itu berada.


"Abang, Kakak? Apa kalian sedang memperebutkan adik bayi lagi?" tanya Arselo pada ketiga anaknya sehingga membuat mereka terdiam seketika.


Mereka sudah beberapa kali di ingatkan untuk tidak memperebutkan bayi yang bahkan belum lahir. Tapi namanya juga anak-anak, kadang mereka tidak selalu menuruti perkataannya.


"Kami tidak memperebutkannya, Papa. Kami hanya membicarakannya saja" kilah Raiyan.


Arselo menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah laku ketiga anaknya itu.


"Sudahlah. Apa kalian akan ikut ke taman hari ini?" tanya Arselo pada ketiga anak-anaknya.


"Kami ikut, Pa" jawab anak-anak itu.


"Ya sudah, ayo kita pergi sekarang" ajak Arselo.


Ketiga anak itu langsung bangkit dari duduknya, dan segera mengikuti langkah Arselo yang sudah keluar dari kamar mereka.


Setelah semuanya siap, barulah Arselo melajukan mobilnya menuju taman yang akan mereka datangi. Sesampai di sana yang membantu Ni Eti juga suster Mia untuk menggelar tikar dan menata makanan, sementara itu Safira ditemani anak-anak mulai dengan acara jalan santai mereka.


Arselo segera menyusul Safira dan anak-anak yang mulai menjauh dari tempat mereka menggelar tikar. Namun, belum sempat Arselo mendekati mereka, ia berpapasan dengan seseorang yang mencurigakan.


"Siapa dia? Rasanya tatapan itu tidak asing" batin Arselo, ia melihat sekilas mata orang yang memakai kupluk juga masker dan berjalan cepat ke arah Safira.


Arselo yang menyadari kejanggalan pada wanita itu segera menyusulnya, tapi ia kalah cepat. Wanita itu sudah menghampiri Safira dan anak-anak


Jleb...


"Mama..."


"Fira..."