
"Bujuk Arselo Untuk membatalkan perceraiannya dengan Vivi" ucap Devi secara langsung.
Safira tidak mengerti apa hubungannya dia dengan perceraian Vivi dan Arselo. Safira masih terdiam berdiri sambil mendengarkan perkataan Devi selanjutnya.
"Harusnya loe tahu diri. Meskipun loe udah punya anak sama Arselo, nggak seharusnya loe biarin Arselo dan Vivi bercerai. Anak mereka itu memang udah mati, tapi jangan di jadiin alesan buat loe ngambil semua perhatian Arselo dari Vivi" ucap Devi dengan angkuhnya.
Safira semakin mengerutkan keningnya, dia tidak merasa mengambil perhatian Arselo untuk anak-anak, dan masalah Arselo yang menceraikan Vivi pun itu karena Vivi sendiri yang membohongi Arselo. dia sama sekali tidak ada sangkut-pautnya di antara dua orang itu.
Safira duduk di kursi yang berada di hadapan Devi yang terhalang oleh meja.
"Apa alasan mu berkata seperti itu? Aku bahkan tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka" jelas Safira.
Devi menatap Safira dan tersenyum remeh.
"Loe jangan jadi wanita yang pura-pura polos yang tidak tahu apa-apa, gue gak terpengaruh sama wajah polos loe itu" ucap Devi lagi.
Safira mulai terpancing emosinya, tapi dia masih mencoba untuk tidak terlihat kesal dihadapan Devi. Safira menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Dev, diantara kita dulu mungkin tidak terlalu saling mengenal dengan baik. Tapi kamu tahu sendiri aku dari dulu tidak pernah mencoba untuk menarik perhatian siapapun" jawab Safira dengan bersedekap dada.
"Loe itu emang wanita yang licik ya, asal loe tahu sekarang Vivi mulai gak waras karena dia akan bercerai dengan Arselo dan semua ini gara-gara anak s****n yang loe bawa ke sini..!! Kenapa waktu itu loe gak mati aja sih, sia-sia gue ngeluarin duit buat nyewa orang yang yang nabrak loe tapi akhirnya gagal" ucap Devi dengan kerasnya, tapi setelah ia sadar dengan ucapan ia segera menutup mulutnya.
"S**l, kenapa gue bisa keceplosan gini sih!" batin Devi kesal dengan dirinya sendiri.
Safira terkejut dengan ucapan Devi yang terakhir, Dia bangkit dari duduknya dan menggebrak meja yang ada di depannya hingga Devi ikut terkejut.
"Apa maksud dari perkataan mu tadi, Devi?" tanya Safira marah sambil menatap tajam mata Devi.
"Ma... Ma... Maksud gue... " belum sempat Devi menyelesaikan perkataannya, Safira sudah maju terlebih dahulu dan menampar wajah Devi dengan keras.
Plak...!
Suara tamparan itu begitu menggema di ruangan yang Safira dan Devi tempati.
Devi menatap tajam Safira yang telah menampar pipinya dengan keras.
"Itu balasan karena kamu sudah macam-macam dengan ku dan anak-anakku. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai anak-anakku lagi termasuk kamu. Aku akan menuntut mu dengan tuduhan tindakan perencanaan pembunuhan" ucap Safira sambil menuding-kan telunjuknya di hadapan wajah Devi, dan sebelah tangannya ia pakai untuk mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan menghubungi pihak kepolisian.
Devi sangat terkejut dengan tindakan Safira yang tiba-tiba menamparnya dan akan menghubungi pihak berwajib. Ia kalang kabut sendiri dan tanpa sadar mendorong tubuh Safira hingga kepalanya terbentur ujung meja yang mereka tempati.
Tak ada yang melihat kejadian itu karena Devi memilih tempat yang yang tidak langsung terekspose oleh orang lain. Dengan kepala berat dan pusing Safira bangkit dari jatuhnya dan berusaha menahan Devi yang akan pergi meninggalkannya.
"Devi tunggu. Jangan kabur lagi kamu" ucap Safira sambil memegangi tangan Devi.
"Lepasin gue, s***n" ucap Devi sambil mendorong kembali tubuh Safira hingga jatuh.
Genggaman tangan Safira terlepas karena ia tidak seimbang untuk menopang berat badannya.
Setelah melihat Safira yang terjatuh dihadapannya, Devi pun langsung pergi dari sana dengan cepat. Bahkan ia juga sempat menabrak beberapa orang yang berada di pelataran restoran.
Sebelum kesadarannya hilang, Safira sempat melihat seseorang yang berlari ke arahnya dan terus memanggil-manggil dirinya.
***
Nyonya Sita hari ini ingin membawa para cucu kembarnya untuk menginap di rumahnya. Dia pun menyuruh Arselo untuk menjemput anak-anak itu, karena sebelumnya nyonya Sita sudah menghubungi Safira dan meminta ijinnya.
Sebelum Arselo menjemput anak-anaknya, ia berniat untuk menemui Safira terlebih dahulu dan meminta ijin lagi darinya. Tapi saat ia hendak menemui Safira dan bertanya pada pelayan, pelayan itu mengatakan jika Safira masih ada di salah satu private room yang tersedia di restoran itu.
Dari kejauhan ia melihat seorang wanita yang memakai pakaian serba hitam, lengkap dengan topi dan masker keluar dari private room yang ditunjuk oleh pelayan tadi tempat Safira berada.
Arselo segera melihat private room itu dan menemukan jika Safira dalam keadaan tidak sadarkan diri dan keningnya terluka seperti bekas terbentur.
"Siapa kira-kira yang sudah menemui Safira tadi? Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya karena tertutup masker. Tapi jika di ingat-ingat, sorot mata itu sepertinya aku mengenal akan mengenal orangnya" gumam Arselo yang sudah membopong Safira kembali ke ruangannya dan meminta salah satu pelayan untuk mengobati luka yang ada di kening Safira.
Arselo pun lantas memberitahukan keadaan Safira pada Abizar.
"Bi, kamu dimana? Kenapa gak di restoran sini?" tanya Arselo saat telpon itu sudah tersambung.
"Aku sedang berada di restoran yang dekat apartemen ku dulu, karena akan ada tamu khusus yang datang hari ini, Caca tidak bisa menerima tamu itu, jadilah aku yang harus turun tangan di sini. Ada masalah apa El?" tanya Abizar setelah menjelaskan tentang dirinya.
"Safira tidak sadarkan diri sekarang, kata pelayan tadi dia habis bertemu dengan seseorang di private room, dan saat aku menghampiri privat room itu, keluar seorang wanita dengan pakaian serba hitam dan juga memakai topi serta masker, aku tidak mengetahui siapa orang itu. Yang jelas dia sudah membuat Safira terluka dan tidak sadarkan diri" terang Arselo.
"Bagaimana sekarang keadaan Safira? Apa dia baik-baik saja? Dan ada urusan apa kamu menemuinya?" tanya Abizar lagi.
"Mama menyuruhku untuk menjemput anak-anak di sekolahnya, dia memang sudah minta izin pada Safira. Tapi karena aku takut Safira dan kau khawatir, jadi aku berniat untuk menemuinya dan meminta izin kembali" jelas Arselo.
"Kau bisa membawa anak-anak pergi, aku akan meminta Caca untuk menemani Safira, Terima kasih karena sudah mengabari ku" ucap Abizar.
"Baiklah, setelah ini aku akan pergi menjemput anak-anak, sepertinya mereka juga sudah akan segera pulang sekolah" jawab Arselo.
Setelah selesai menghubungi Abizar, Arselo pun menyimpan kembali ponselnya dan menghampiri pelayan yang sedang bersama Safira.
"Mbak saya titip Fira dulu, nanti akan ada Caca yang menemaninya. Saya harus pergi menjemput anak-anak" ujar Arselo pada pelayan itu.
"Baik pak" jawab pelayan yang bernama Dini.
Belum sempat Arselo pergi dari sana, Safira pun akhirnya bangun dari pingsannya.
"El, kamu di sini?" tanya Safira lemah karena kepalanya masih pusing.
"Iya Fir, aku datang ke sini karena ingin meminta izin darimu untuk menjemput anak-anak. Mama bilang dia sudah menghubungimu terlebih dahulu, jadi aku datang untuk menjemput mereka. Bagaimana keadaanmu? Siapa wanita yang kau temui tadi?" tanya Arselo.
"Aku baik-baik saja, tadi Devi yang datang menemui ku" jawab Safira.
Arselo mengerutkan keningnya mendengar nama Devi disebut oleh Safira.
"Devi memintaku untuk membujuk mu agar membatalkan perceraian mu dengan Vivi"