
Safira sudah menyiapkan makan siang untuk keluarganya, ia juga melebihi porsinya, karena Arselo akan ikut makan siang bersama di rumahnya. Tidak lupa, Safira juga memasakkan menu makan siang favorit anak-anaknya.
selesai ia menata makanan di atas meja, bel di rumahnya di bunyikan seseorang dari luar. Dengan segera, Safira pun melangkah untuk membukakan pintu itu.
"Hai, Fira" sapa Arselo.
"Hai juga, El. Masuklah, anak-anak sudah menunggumu" ajak Safira membiarkan Arselo masuk ke dalam rumahnya.
"Dimana mereka?" tanya Arselo saat ia tidak menemukan keberadaan anak-anaknya.
"Mungkin di halaman belakang rumah" jawab Safira.
Ia masih berjalan ke sana kemari tanpa lelah, membuat Arselo menggelengkan kepalanya.
"Fir, ingat kandungan mu. Jangan terlalu kelelahan. Apa masih ada yang mau kamu lakukan?" tanya Arselo.
"Tidak ada, El. Aku hanya ingin membereskan barang yang masih berserakan saja" jawab Safira.
"Biar aku yang melakukannya, kamu duduklah" ucap Arselo seraya mengambil alih pekerjaan Safira.
"Tidak perlu, El. Kamu tamu ku, lebih baik kamu temui anak-anak dan ajak mereka untuk makan siang bersama kita" ucap Safira yang menyuruh Arselo untuk memanggil anak-anaknya.
"Tidak, Fira. Aku bukan tamu mu, biarkan aku yang membantumu dan kamu duduk diam saja" ucap Arselo seraya menuntun Safira untuk duduk disalah satu kursi meja makan.
Safira mau tak mau akhirnya menuruti perintah Arselo.
"Baiklah, baiklah. Aku akan duduk menunggumu menyelesaikan pekerjaan itu, maaf karena aku sudah merepotkan" ucap Safira
"Tidak, kamu sama sekali tidak merepotkan ku, aku senang bisa membantu mu" jawab Arselo sambil melemparkan senyum manisnya, yang membuat Safira membalasnya juga.
Tak lama kemudian Arselo pun selesai dengan pekerjaannya.
"Nak El, sudah datang?" tanya Ni Eti yang melihat keberadaan Arselo.
"Iya Ni, belum lama tadi" jawab arselo seraya menghampiri Ni Eti untuk mencium tangannya.
Arselo menatap ke tiga anak-anaknya, dia sedikit heran karena tidak biasanya anak-anak tidak menyambut kedatangannya.
"Anak-anak papa kenapa?" tanya Arselo yang melihat wajah anak-anak itu di tekuk dalam.
"Kami sedang kesal pada papa" jawab Raiyan yang diangguki oleh Dayyan dan Qirani.
"Kesal? Tapi kenapa?" tanya Arselo lagi.
"Kenapa tadi pagi, papa tidak datang menemui kami?" tanya Dayyan.
"Lho, papa kan sudah titip pesan sama mama" jawab Arselo.
"Tapi tetap saja, papa tidak datang pagi ini" ucap Qirani merajuk.
"Ya sudah, papa minta maaf karena tidak sempat kemari tadi pagi. Apa kalian mau memaafkan papa?" tanya Arselo tulus.
Si kembar tiga itu saling menatap saudaranya satu sama lain, mereka seperti sedang berbicara lewat telepati, sebelum akhirnya mereka semua menganggukan kepalanya untuk menyetujui permohonan maaf Arselo.
"Baiklah, kami akan memaafkan papa. Tapi papa harus menyuapi kami" ucap Dayyan.
"Oke, sayang. Papa akan menyuapi kalian sebagai tanda maaf" jawab Arselo.
Mereka berempat pun berpelukan bersama.
"El, apa kamu sudah berbaikan dengan mereka?" tanya Safira yang melihat Arselo berjalan bergandengan tangan bersama anak-anak.
"Kenapa kamu tidak mengatakan jika mereka sedang merajuk?" tanya Arselo.
Safira memang tahu jika anak-anaknya sedang merajuk pada Arselo, tapi ia diam saja dan tidak berniat untuk memberi tahukannya.
"Aku sengaja tidak memberi tahu mu, aku hanya ingin lihat, seberapa pandai kamu membujuk mereka. Dan ya, kamu berhasil" jawab Safira seraya tersenyum.
Arselo hanya menanggapi ucapan Safira dengan senyuman karena nyatanya ia berhasil membujuk ketiga anak kembar mereka.
"Oh, iya, Ni, mari" jawab Arselo.
Mereka pun memulai untuk makan siang bersama, Arselo harus menyuapi anak-anak sebagai tanda maaf karena tadi pagi tidak sempat datang mengunjungi mereka.
***
Setelah mereka selesai makan siang, ternyata Nyonya Sita dan Tuan Ardan datang mengunjungi mereka.
"Lho, El, kamu di sini?" tanya Nyonya Sita yang melihat ke beradaan Arselo di rumah Safira.
"Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Tuan Ardan.
"Aku memang biasa mampir ke mari ma, pa. Dan hari ini aku akan mengantar Safira untuk memeriksakan kandungannya" jawab Arselo.
"Oh, ya sudah. Kalian pergilah, tapi anak-anak jangan ikut. Mama dan papa akan mengajak mereka ke kebun binatang" ucap Nyonya Sita.
"Hore...! Ke kebun binatang...!" ucap ketiga anak itu sambil melompat kegirangan.
"Baiklah, kalian hati-hati dan jangan membuat Oma dan Opa repot" nasihat Safira untuk ketiga anaknya.
"Iya ma, kami mengerti" jawab Dayyan.
Setelah Safira melihat kepergian anak-anak, Ni Eti bersama Nyonya Sita dan Tuan Ardan, barulah mereka pergi menuju rumah sakit tempat Arsela bekerja.
Ini pertama kalinya Arselo dan Safira satu mobil berdua tanpa ketiga anak-anaknya, sedikit canggung tapi juga membuatnya bahagia. Mereka berdua terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"El, Terimakasih karena kamu sudah menyempatkan waktu untuk mengantarku" ucap Safira ditengah keheningan mereka.
"Akh, hmmm, sama-sama Fira. Kamu tidak perlu sungkan, aku pasti akan meluangkan waktu untuk membantumu" jawab Arselo.
Setelah mengatakan itu, mereka pun kembali terdiam, hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah sakit tempat Arsela bertugas.
"Sebaiknya kita cari tempat duduk dulu seraya menunggu antrian" ajak Arselo.
Karena kedatangan mereka yang mendadak saat Arsela sedang banyak-banyaknya pasien, terpaksalah Safira dan Arselo pun menunggu giliran mereka.
Setelah menunggu beberapa saat kini giliran pemeriksaan Safira.
"El, apa kamu mau ikut?" tanya Safira pada Arselo.
"Apa boleh?" tanya Arselo kurang yakin, meskipun yang ada di ruangan itu Arsela, tapi ia cukup tahu diri.
"Tentu saja, aku yang mengajakmu" jawab Safira.
"Baiklah, aku akan ikut" ucap Arselo senang.
Mereka pun berjalan masuk ke ruangan Arsela.
"Selamat siang, dokter" sapa Safira.
"Kamu, Fir? Kenapa tidak langsung masuk saja tadi?" Tanya Arsela
"Jika aku langsung masuk, tidak enak oleh pasien yang lain" jawab Safira.
"Baiklah. Eh, Abang yang antarkan mu?" tanya Arsela pada Arselo saat ia menyadari kehadirannya.
"Iya, apa aku keluar saja?" Arselo bertanya.
"Gak perlu, bang" jawab Arsela.
Arselo memperhatikan Safira yang sedang diperiksa oleh adiknya. Saat pemeriksaan USG, ia melihat gumpalan hitam yang bergerak-gerak.
"Apakah dulu Safira juga mengalami hal sama saat ia hamil ketiga anakku? Ternyata selama ini aku sudah melewatkan sesuatu hal yang berharga" batin Arselo. Ia tetap memperhatikan layar monitor yang menampilkan janin milik Safira. Kembali lagi, perasaan sakit itu menyeruak dalam dadanya, ia merasa sesak karena seakan kembali melihat perjuangan Safira yang dulu saat mengandung ketiga anak-anaknya.
"Apakah sekarang dia mulai mengerti betapa sulitnya perjuangan seorang ibu?" tanya Arsela dalam hatinya saat ia melihat pandangan Arselo yang tertuju pada layar monitor.