
Tidak terasa, dalam waktu sepuluh hari lagi pernikahannya dengan Safira akan segera digelar. Akhir-akhir ini banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, sebelum nantinya ia akan mengambil cuti libur panjang dan menghabiskan waktu bersama anak serta istrinya.
Begitupun dengan Nyonya Sita dan Safira yang membawa Divya, hari ini mereka bertiga akan mengunjungi salah satu butik yang sudah mempersiapkan gaun pernikahan untuk Safira. Dia sempat menolak menyiapkan gaun sendiri, tapi Nyonya Sita memaksanya serta beberapa kali membujuknya, akhirnya Safira mengalah dan menuruti keinginan calon mertuanya itu.
"Fira, sebaiknya Divya tinggal bersama Papa saja di sini, kalian tidak perlu membawanya," ucap Tuan Ardan yang saat itu melihat Safira menggendong Divya.
Ia menghentikan gerakannya. "Tidak perlu, Pa. Aku akan membawanya," tolak Safira sambil melemparkan senyumannya.
Tuan Ardan melangkah mendekati Safira dan istrinya yang sudah bersiap keluar rumah. "Kamu nikmati hari ini sama Mama, biar Papa dan El yang jaga anak-anak. Lagipula Arsela pulang siang ini, jadi dia bisa membantu kami mengurus mereka," ucap Tuan Ardan.
"Tapi, Pa–"
"Sudahlah, Fira. Benar kata Papa, biar Divya dan anak-anak mereka yang jaga untuk hari ini," ucap Nyonya Sita sambil memberikan Divya pada suaminya.
Safira merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan calon mertuanya. "Maaf karena sudah merepotkan, Pa."
Tuan Ardan menggeleng pelan. "Tidak. Kalian sama sekali tidak merepotkan ku. Sekarang pergilah, nikmati harimu bersama Mama." Tuan Ardan berucap sambil membawa divya di pangkuannya.
Jika sudah dibawa pergi seperti itu, Safira pun tidak bisa lagi mencegahnya. Ia menatap punggung Tuan Ardan yang membawa Divya masuk kembali ke rumah. Terima kasih, Papa. Benar apa yang Arselo katakan, kalian adalah orang tua terbaik yang pernah kukenal selain Bu Resti, Pak Bambang dan Ni Eti.
Safira dan Nyonya Sita pun pergi meninggalkan rumah mereka dengan diantar sopir menuju butik. Hari ini juga Nyonya Sita akan memanjakan calon menantunya, ia ingin melakukan hal yang selalu ia lakukan dengan Arsela.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di butik itu, ada beberapa gaun pengantin yang Safira coba. Safira terus keluar masuk ruang pas di bantu oleh para staf di sana, sebelum akhirnya gaun yang kelima barulah Nyonya Sita merasa puas dengan penampilan Safira.
"Ini sangat cocok untuk mu, Fira. Kamu terlihat sangat cantik," puji Nyonya Sita saat melihat Safira yang mengenakan gaun yang terakhir. "Arselo pasti akan sangat terpesona saat melihatmu memakai gaun ini nanti," sambung Nyonya Sita.
Safira terlihat malu-malu saat Nyonya Sita memujinya, sebenarnya ia kurang percaya diri, apalagi ia adalah seorang ibu yang sudah memiliki empat orang anak.
"Tapi Ma, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Safira sambil menunduk untuk melihat gaun yang ia pakai.
Nyonya Sita menggeleng pelan. "Tidak, Fira. Ini sama sekali tidak berlebihan. Gaun ini akan sangat cocok dengan tema garden party yang kamu inginkan," ucapnya untuk meyakinkan Safira.
Mereka sengaja ke butik hanya berdua dan tidak mengajak Arselo bersamanya, agar nanti menjadi sebuah kejutan untuknya.
Meskipun berat hati karena tidak terbiasa, akhirnya Safira pun kembali mengalah dan mengikuti saran dari Nyonya Sita, lagipula sebenarnya dia juga sangat menyukai gaun itu.
"Baiklah, aku ambil yang ini saja," jawab Safira yang membuat Nyonya Sita tersenyum.
"You are indeed the best woman who is perfect for Arselo" puji Nyonya Sita yang merasa bangga dengan Safira.
Mendengar pujian dari calon mertuanya membuat Safira menunduk ia malu sekaligus bahagia karena ia kembali mendapatkan mertua yang baik.
"Terima kasih, Mama. Aku juga ingin menjadi menantu yang terbaik untuk Mama," ucap Safira seraya memeluk hangat Nyonya Sita.
Perlakuan Safira, membuat Nyonya Sita sangat terharu, ia pun membalas pelukan Safira. "Sama-sama, Fira. Jadilah dirimu sendiri karena kami menyayangimu apa adanya."
Pemandangan itu membuat para staf yang berada dekat dengan mereka menitikkan air mata, mereka sangat terharu dan tersentuh oleh Safira dan Nyonya Sita. Bahkan sebagian dari mereka yang tidak mengetahui, mengiranya jika Safira adalah putri dari Nyonya Sita itu sendiri.
Selesai dengan gaun pengantin, Safira dan nyonya Sita pun bertolak menuju tempat spa yang menjadi langganannya.
"Ma, haruskah kita kemari?" tanya Safira saat mereka sudah berada di pelataran tempat spa itu.
Rangkaian demi rangkaian Safira dan Nyonya Sita nikmati. Hingga tanpa sadar, mereka sudah menghabiskan waktu hampir seharian, Safira dan Nyonya Sita pulang saat hari mulai sore.
Kedatangan mereka disambut oleh Arselo yang sedang bermain bersama keempat anaknya di halaman rumah itu, Arselo juga mengajarkan Divya untuk berjalan, sedangkan ketiga anaknya yang lain sedang bermain kejar-kejaran.
"Hore, Mama dan Oma pulang!" seru Dayyan yang terlebih dahulu melihat Safira turun dari mobil.
Dayyan pun menghampirinya dan di susul oleh dua saudaranya yang lain.
"Mama dan Oma pergi kemana?" tanya Raiyan sambil memegang tangan Safira.
Sebelum menjawab pertanyaan Raiyan, Safira berjongkok untuk menyetarakan tinggi badannya. "Mama dan Oma tadi keluar karena ada perlu," jawabnya dengan mengusap kepala Raiyan.
Sementara itu Arselo menghampiri mereka karena Divya merengek minta di gendong oleh Safira.
"Sini anak Mama yang cantik," ucap Safira mengambil alih Divya dari tangan Arselo.
"Bagaimana perjalanan mi tadi? Apa menyenangkan?" tanya Arselo pada Safira seraya mengambil paper bag yang cukup besar dari dalam mobil.
"Ya, begitulah. Mama juga mengajakku ke tempat spa dan restoran favoritnya." Cerita Safira dengan antusias.
Arselo mengikuti langkah Safira yang akan memasuki rumah, ia juga tersenyum saat mendengar Safira menceritakan semua kegiatannya bersama mamanya hari ini.
Sebenarnya ia juga ingin ikut bersama Safira dan mamanya ke butik tadi siang, hanya saja ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. apalagi Sofyan sedang berada di luar kota pekerjaan yang lainnya.
"Apa aku boleh melihat gaun pengantin yang akan kamu pakai nanti?" tanya Arselo dengan penasaran.
"Tidak, tidak boleh, Mama tidak akan mengizinkanmu untuk melihatnya sekarang," sela Nyonya Sita yang tiba-tiba hadir di antara mereka.
Safira tersenyum melihat reaksi Nyonya Sita yang seperti itu, sedangkan Arselo menggerutu kesal.
"Mama, aku hanya ingin melihatnya sebentar," pinta Arselo.
Nyonya Sita membuat tanda silang dengan tangannya. "TIDAK."
"Yah, Mama. Padahal aku sangat penasaran dan ingin melihatnya," ujar Arselo dengan nada kecewa.
Tuan Ardan dan Arsela tersenyum puas saat melihat Arselo yang kecewa karena keinginannya tidak terpenuhi, begitupun dengan anak-anak yang sudah menertawakannya.
"Kasihan, Papa," ujar Qirani sambil memberikan pelukan hangat pada Arselo.
"Mama tidak mendapat pelukan?" tanya Saphira pada keempat anaknya.
"Abang aja yang peluk Mama," jawab Raiyan yang segera bangkit dan memeluk Safira.
"Terima kasih, sayang."
"Oh, mau main peluk-pelukan?" tanya Dayyan yang masih asyik bermain dengan Divya. "Abang peluk Adik aja," sambung Dayyan dengan memeluk Divya yang sedang duduk bersamanya.
Melihat itu semua Arselo pun melepaskan pelukan Qirani dan bangkit untuk merangkul semua anak-anaknya berikut Safira. Arsela dan Nyonya Sita tak mau kalah, mereka pun ikut memeluknya. Tuan Ardan terharu dengan pemandangan di depannya, akhirnya ia juga ikut memeluk mereka.
"Hari ini Papa sangat bahagia," ujar Tuan Ardan. "Semoga kebahagiaan ini selalu hadir di keluarga kita," sambungnya.