
Orang-orang sedang menunggu dengan khawatir di salah satu ruang operasi, mereka menunggu seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana.
Tak ada raut bahagia yang terpancar dari wajah orang-orang itu, yang ada hanyalah pancaran wajah kesedihan dan keputusasaan.
Arselo dengan setia menunggu Safira di depan pintu operasi itu, tiga jam sudah berlalu saat Safira dibawa masuk ke dalam ruangan operasi itu, tapi belum ada tanda-tanda operasi itu akan segera selesai.
Anak-anak terpaksa arselo titipkan pada Caca, ia tidak mungkin membawa anak-anak ke rumah sakit. Ia khawatir jika anak-anak itu akan kembali menangis setelah melihat kejadian di taman pagi tadi.
Flashback on
Anak-anak yang sedang menemani Safira berjalan-jalan dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba menyerempetnya dan menusuk Safira.
Safira dan anak-anak itu terkejut dengan apa yang sudah dilakukan oleh wanita yang memakai kupluk dengan masker itu. orang-orang yang sedang berada di taman begitu terkejut melihat kejadian itu.
Arselo telat menyadari orang yang baru saja berpapasan dengannya itu adalah orang yang akan mencelakai Safira.
"Fira...!!!"
"Mama...!!!"
Wanita yang sudah mencelakai Safira itu segera diamankan oleh para pengunjung yang lain agar tidak kabur, sedangkan Arselo dengan segera membawa Safira menuju rumah sakit.
Tidak lupa ia juga menelpon Sofyan untuk menjemput anak-anak Ni Eti juga suster Mia. Arselo juga memerintahkan Sofyan untuk mengurus wanita itu, sedangkan dirinya akan menemani Safira.
Nyonya Sita dan juga Tuan Ardan begitu terkejut saat mendengar berita yang baru saja Arselo sampaikan pada mereka, dengan segera mereka pun menyusul Arselo ke rumah sakit.
Nyonya Sita membantu Arselo untuk menghubungi Arsela supaya menyiapkan semua perlengkapan saat Safira sudah sampai di rumah sakit. Dan benar saja, begitu mereka sampai di sana, para dokter sudah bersiap untuk menangani Safira.
"Sel, tolong segera tangani Safira. lakukan apapun yang terbaik untuk menolong mereka" mohon Arselo pada saudara kembarnya.
"Iya, bang. Kami akan mengusahakan yang terbaik"
Setelah Arsela menyusul para dokter yang sudah membawa Safira ke ruang UGD, barulah Nyonya Sita dan Tuan Ardan sampai di sana.
"El, bagaimana keadaan Safira?" tanya Nyonya Sita dengan cemas.
"Safira baru saja di masukkan ke dalam ruangan UGD, Ma. Aku masih tidak tahu bagaimana keadaannya" jawab Arselo.
Ia juga merasa gelisah dan khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Safira dan juga pada bayi yang sedang dikandungnya.
"Ya Tuhan, Safira..." Nyonya Sita tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Tuan Ardan sibuk menenangkan istrinya, sedangkan Arselo sibuk dengan ponsel yang digenggamnya. Ia sedang mencoba menelpon kembali Sofyan untuk bertanya tentang pelaku yang sudah melakukan penganiayaan pada Safira.
"Halo, Sofyan. Siapa yang menjadi pelaku penganiayaan kali ini?" tanya Arselo begitu sambungan telepon itu terhubung.
"Orang itu adalah Nona Erika, tuan" jawab Sofyan to the point.
"Sepertinya dia ingin membalas dendam terhadap anda dan Nyonya Safira, tuan" jawab Sofyan.
"Ya sudah, kau urus dia dulu jangan sampai dia kabur. Setelah aku mengetahui keadaan Safira dengan pasti, aku akan menyusul mu" ucap Arselo sebelum ia memutuskan panggilannya.
"Baik, tuan. Saya mengerti" jawab Sofyan.
Setelah selesai dengan panggilannya, Arselo pun kembali menghampiri Mama dan Papanya.
"El, apa kamu sudah mengetahui siapa pelaku yang sudah melakukan penusukan itu pada Safira?" tanya Tuan Ardan.
"Dia adalah mantan pegawai kantor, Pa. Dia ingin membalas dendam karena aku sudah memecat dan memblacklist-nya" jawab Arselo.
Tuan Ardan tidak mengetahui masalah tentang Arselo dan Erika, karena dalam tiga bulan terakhir ia tidak mendatangi perusahaan yang Arselo pegang lagi.
"Ya Tuhan, kenapa bisa sampai seperti itu? Harusnya sebelum kamu bertindak, kamu sudah memperkirakan hal ini akan terjadi" ucap Tuan Ardan.
"Iya, Pa. aku sudah menyepelekannya, ku fikir dengan memberikan uang pesangon lebih, dia akan bisa membangun usaha kecil-kecilan untuk membantu keluarganya. Karena saat itu juga aku menghawatirkan perusahaan, dia adalah orang yang paling cukup berpengaruh di perusahaan kita. Aku tidak mau jika dia sampai membocorkan data tentang perusahaan kita pada perusahaan lain, maka dari itu aku memilih untuk memblacklist dan memberikannya uang tunjangan lebih" terang Arselo.
Tuan Ardan berfikir sejenak, ia juga pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi arselo saat itu.
"Sudahlah, Pa. Sekarang kita doakan saja supaya Safira dan juga bayinya bisa selamat" ucap Nyonya Sita pada suaminya.
"Benar apa yang Mama katakan, sebaiknya sekarang kita fokus pada Safira dulu" jawab Arselo.
"Baiklah, setelah kita mengetahui keadaan Safira dengan pasti, kamu harus segera menemui wanita itu dan memberikannya hukuman setimpal" ucap Tuan Ardan.
Waktu terus bergulir, hingga empat jam kemudian, barulah salah satu dokter keluar dari ruang operasi Safira. Arselo, Tuan Ardan dan Nyonya Sita segera menghampiri dokter itu.
"Dokter, bagaimana keadaan Safira dan bayinya?" tanya Arselo dengan khawatir.
"Alhamdulillah, untuk saat ini mereka sudah bisa kami tangani. Beruntung luka yang pasien alami tidak sampai pada ada janinnya, dan bayi itu bisa selamat, hanya saja berat badannya masih kurang, jadi kami akan menempatkannya di inkubator. Sedangkan Nyonya Safira sendiri tadi sempat mengalami pendarahan yang hebat dan penurunan detak jantung, dan saat ini kondisinya masih kritis. Kemungkinan pasien akan mengalami koma, tapi kami belum bisa memastikan hal itu karena ini belum ada dua belas jam, setelah dua belas jam pertama Nyonya Safira tidak bangun, berarti dia mengalami koma" dokter itu menjelaskan.
Mendengar penuturan dokter itu, membuat tubuh Arselo melemas seketika. Tiba-tiba ia teringat perkataan putrinya, Qirani beberapa bulan lalu yang mengatakan jika Safira akan pergi dari mereka.
"Tolong tangani Safira semaksimal mungkin, dokter. Berikanlah perawatan yang terbaik untuknya" ucap Tuan Ardan.
"Baik, Tuan. Saya mengerti. Sekarang kami akan memindahkan pasien beserta bayinya ke ruang perawatan" ucap dokter itu sebelum ia kembali masuk lagi ke dalam ruangan operasi.
"Baik, dokter. Silahkan" jawab Tuan Ardan.
***
Arselo menatap bayi perempuan merah yang berada dalam box inkubator itu dengan haru, tidak henti-hentinya ia mengusap air mata yang terus membasahi wajahnya.
"Kasihan sekali kamu nak, Papa kandung mu sudah tidak ada, dan Mama mu masih belum sadarkan diri. Tapi kamu jangan sedih, aku akan memperlakukan mu seperti anak ku sendiri, aku akan menyayangi mu seperti yang lain" batin Arselo sedih. Setelah ia selesai meng-adzani bayi itu, ia segera kembali ke luar dan hanya menatap bayi itu melalui kaca besar yang berfungsi sebagai dinding.