Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 51



Suasana di sebuah pemakaman keluarga begitu hening, tak banyak orang yang datang ke sana karena tak banyak orang juga yang tahu jika ada seorang bayi yang ikut di makamkan di sana. Sebagai kemurahan hati, orang tua Arselo mengijinkan bayi Vivi untuk di kuburkan di area makam keluarganya.


"Kasihan ya ma, dede bayinya di boboin dalam tanah" celetuk Qirani saat semua orang telah selesai membacakan do'a terakhir.


"Iya sayang, dede bayinya udah kembali lagi sama Allah" jawab Safira sambil mengusap kepala putri bungsunya itu.


"Apa kita juga akan kembali sama Allah seperti dede bayi, ma?" tanya Raiyan.


"Tentu saja sayang, nanti kalau waktu kita sudah habis, pasti kita akan kembali ke pangkuan Allah" jawab Safira.


"Kapan waktunya, ma? Apa masih lama?" Dayyan ikut bertanya.


"Tentang waktu, itu rahasia. Hanya allah yang tahu kapan waktunya kita harus kembali" jawab Safira lagi.


Orang-orang yang berada di sana hanya tinggal Nyonya Sita, tuan Ardan, Arselo, Arsela, Anisa, Mia, Safira, dan anak-anak. Sedangkan Frans, Zian dan beberapa pelayan yang lain sudah pulang terlebih dahulu.


"Fira, sebaiknya kamu pulang sekarang bersama perawat Mia untuk beristirahat, anak-anak biar tante yang bawa. Kamu tidak perlu khawatirkan mereka" ujar nyonya Sita pada Safira.


"Terima kasih tante, tapi Fira mau pulang bersama anak-anak saja" jawab Safira.


"Baiklah kalau begitu, biar Arselo yang antar kalian pulang" ujar nyonya Sita.


"Tidak perlu tante. Karena saya rasa Arselo masih sibuk" tolak Safira saat ia melihat Arselo tengah berbincang dengan salah satu penjaga makam itu.


"Tidak Fira, dia hanya sedang menitip pesan pada penjaga itu, jika ada Vivi datang kemari agar melaporkannya pada kami" jawab nyonya Sita.


Tak ingin lagi berdebat, Safira pun menuruti keinginan nyonya Sita untuk menunggu Arselo yang akan mengantarkan mereka pulang.


Setelah beberapa saat kemudian, Arselo pun kembali menghampiri mereka.


"Ayo Fira biar aku antar kalian pulang" ajak Arselo pada Safira dan anak-anak serta Anisa dan perawat Mia.


Arselo mempekerjakan kembali perawat Mia untuk membantu dan menjaga Safira Selama masih dalam masa pemulihan, hingga ia bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala.


"Baiklah. Ayo anak-anak kita pulang sekarang" ajak Safira pada anak-anak.


"Iya mama" jawab anak-anak yang serempak.


Perawat Mia pun mendorong kursi roda milik Safira, sedangkan Anisa menuntun anak-anak asuhnya. Mereka menaiki mobil yang Arselo bawa.


"El, apa Vivi tahu jika anaknya meninggal?" tanya Safira saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Sepertinya tidak, karena aku tidak bisa menemukan dia dimana pun. Bahkan Frans terakhir kali melihatnya sekitar lima hari yang lalu saat ia berada di kota B . Tapi saat aku telusuri lagi, aku tidak menemukannya" jawab Arselo.


"Lalu sebenarnya Vivi pergi ke mana? Dan apa alasannya dia menghindari mu?" tanya Safira yang tidak tahu-menahu tentang masalah Vivi dan Arselo.


"Dia sebenarnya sudah memasukkan tes DNA dari awal, bayi itu bukan milikku. Bahkan aku juga menemukan beberapa hasil tes DNA bersama beberapa pria lain dan semua hasilnya negatif" jawab Arselo.


Safira sempat terkejut mendengar jawaban Arselo yang seperti itu, karena ia tidak tahu apa-apa tentang Arselo maupun Vivi.


"Tidak apa-apa, kau pun pasti merasa heran dengan semua yang terjadi ada pernikahan ku" jawab Arselo.


Di kursi belakang anak-anak sedang tertidur lelap sehingga suasana mobil pun lebih terasa sunyi, sedangkan perawat Mia dan Anisa di bangku belakang jok mobil.


Sesampainya di rumah Safira, Arselo segera menggendong anak-anak untuk di pindahkan ke kamar mereka masing-masing, Safira sendiri menolak saat akan di bantu turun dari mobil oleh Arselo, dia memilih perawat Mia untuk membantunya.


"Fira, sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu, apa boleh?" tanya Arselo pada Safira. Saat ini mereka sedang duduk di ruang tamu rumah Safira.


"Kamu mau tanya apa?" Tanya balik Safira.


"Bolehkah aku tahu apa alasan Devi dan Sarah saat mereka mengerjai mu dulu?"


"Alasannya sepele, mereka merasa iri padaku karena banyak laki-laki yang menyukai ku dulu. Mereka merasa jika aku selalu merebut semua perhatian para kekasihnya, hal yang tidak pernah aku sangka. Padahal aku hanya berfikir, jika aku bersikap dingin pun orang-orang itu pasti akan menjelekan Sarah dan Devi karena berteman dengan orang yang arogan. Tapi ternyata sikap ramah ku juga malah di anggap cari perhatian" jelas Safira sambil menundukkan kepalanya.


"Apa kamu yakin hanya masalah itu saja?" tanya Arselo lagi.


"Ya itu adalah pengakuan dari Sarah" jawab Safira.


"Apa kamu tahu jika Vivi adalah sepupunya Devi?" tanya Arselo.


"Benarkah?" tanya Safira dengan terkejutnya.


"Bukankah kamu, Sarah dan Devi sudah bersahabat lama?" tanya Arselo heran.


"Kami kenal selama tiga tahun, karena aku berteman dengan Sarah, dan kami juga sangat dekat selama tiga tahun itu. Makanya aku bisa menganggap jika dia juga sahabat ku. Yang aku tahu Devi memang punya seorang sepupu, tapi tidak tinggal di kota ini, jadi aku tidak pernah tahu siapa sepupunya Devi itu" terang Safira.


Arselo menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Bagaimana keadaan pak Bambang di desa?" tanya Arselo mengubah topik pembicaraan.


"Bang Abi bilang tinggal masa penyembuhan saja. Sudah lebih baik dari kemarin" jawab Safira.


"Oh, apa anak-anak sangat dekat dengan Abizar?" tanya Arselo yang ingin tahu.


"Tentu, mereka sangat dekat. Bahkan orang-orang yang tidak mengetahui status mereka mengira jika mereka adalah ayah dan anak, bang Abi juga pandai membujuk anak-anak saat mereka sedang merajuk. Meskipun meraka dulu tinggal terpisah jauh, tapi itu tidak membuat mereka saling berjauhan. Kadang bang Abi-lah yang selalu paling mengerti anak-anak ku, dia sangat memanjakan mereka" jawab Safira dengan semangat dan tatapan mata yang berbinar saat menceritakan kedekatan Abizar dan anak-anak mereka.


Ada rasa sakit yang menelusup dalam relung hati Arselo, fakta bahwa anak-anaknya sangat dekat dengan pria lain yang bahkan tidak ada hubungan darah dengannya. Bahkan dia saja yang ayah kandungnya sangat sulit untuk mendekati mereka, meskipun Raiyan dekat dengannya tapi tidak sedekat Raiyan dengan Abizar, itu yang membuatnya iri saat ada Abizar di dekat anak-anaknya.


"Apa mereka sedekat itu?" tanya Arselo lagi.


Sebenarnya jika Arselo terus bertanya tentang kedekatan anak-anak dengan Abizar itu hanya akan membuat hatinya panas dan sesak, tapi ia tetap merasa penasaran dan ingin mengetahui semuanya lebih jauh.


"Tentu, mungkin karena anak-anak lebih mengenal bang Abi duluan dari pada kamu" jawab Safira yang memang lebih masuk di akal.


Pernyataan Safira itu memang benar, meskipun dia ayah kandungnya tapi mereka tidak mempunyai waktu yang dihabiskan bersama di banding dengan Abizar. Andai bisa, Arselo ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semua kesalahan yang ia lakukan pada Safira.