Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 127



Safira terbangun dari tidurnya karena ingin ke kamar mandi, tapi saat ia meraba tempat tidur di sebelahnya terasa kosong, ia tidak menemukan suaminya di sana. Dengan perlahan ia pun segera turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


"Pah, apa kamu sedang di dalam?" tanya Safira saat ia sudah berada di depan pintu kamar mandi.


Hening, Safira tidak mendengar apapun dari dalam sana. Ia pun mencoba untuk memanggilnya lagi.


"Papa, apa kamu sedang di dalam kamar mandi?"


Hening lagi. El kemana? tanya Safira dalam hatinya.


Akhirnya ia pun memilih untuk membuka pintu kamar mandi itu dan hasilnya, ia tidak menemukan siapapun di dalam sana.


"Di sini juga tidak ada," gumam Safira pelan. Setelah selesai dengan urusannya, Safira pun keluar kamar untuk mencari suaminya.


Saat melewati ruang tengah, samar-samar ia mendengar sesuatu bunyi seseorang seperti sedang kepedasan, di tambah lagi suara kunyahan yang sangat renyah berbunyi 'Krauk, krauk, krauk'.


"Siapa malam-malam begini ada di dapurku? Sangat mencurigakan!" gumam Safira pelan dan mengambil kemoceng yang berada dekat dengannya.


Safira berjalan kearah dapur dengan mengendap-endap, saat sampai di depan pintu dapur, ia melihat siluet seseorang sedang duduk diatas kursi meja makan ditemani dengan cahaya lampu yang remang-remang.


Safira menggapai saklar yang ada tepat di samping pintu untuk menyalakan lampunya dan ...


CLICK


"Papa ...! Apa yang sedang kamu lakukan malam-malam di dapur seperti ini?!" tanya Safira saat ia mengetahui seseorang yang sedang di dapur itu adalah suaminya.


"Hmmm, itu ... aku ... aku–"


"Ya Tuhan, Papa ...! Apa kamu sedang makan mangga muda tengah malam seperti ini?!" Safira menghentikan perkataan Arselo, saat ia melihat pisau dan beberapa buah mangga beserta ulekan di atas meja makan.


"Aku ... aku hanya sedang ingin saja, Ma. Mungkin ini efek dari kehamilan mu," jawab Arselo dengan cepat.


Safira menatap Arselo dengan garang. "Kenapa kamu menyalahkan kehamilanku? Ini juga anakmu! Bagaimana jika nanti perutmu sakit?" Safira mulai dengan ocehannya, sedangkan Arselo hanya diam duduk dan memperhatikan sang istri yang sedang mengoceh.


"Sudah selesai?" tanya Arselo.


"Apa maksudmu?"


Arselo bangkit dari duduknya dan menghampiri Safira.


"Sayang, kamu beruntung aku yang mengidam. Jadi kamu tidak perlu khawatir seperti itu, aku rela melakukan apapun untuk kalian, asalkan kamu dan anak kita baik-baik saja," ucap Arselo sambil memegangi bahu istrinya.


Safira terdiam, dia memang beruntung tidak mengalami morning sickness dan yang mengidam pun suaminya, tapi tetap saja ia khawatir jika Arselo menjadi sakit perut akibat makan makanan asam dan pedas saat malam hari, apalagi ia tahu saat makan malam tadi Arselo hanya makan sedikit saja.


"Aku ... aku hanya menghawatirkan kesehatanmu saja, aku tidak ingin sampai kamu sakit gara-gara makan mangga muda di jam segini." Safira menjawab sambil menunduk.


Arselo merangkul bahu sang istri dan membawa ke dalam pelukannya. "Aku mengerti kekhawatiran mu, sayang. Tapi aku baik-baik saja, lagipula semua ini bukan kemauanku."


"Hmmm, maafkan aku," gumam Safira pelan.


"Tidak apa-apa, aku juga baik-baik saja, kan?"


"Iya, Pah."


"Ya sudah. Ayo kita istirahat kembali." Arselo merangkul Safira untuk ikut bersamanya kembali ke kamar mereka dan melanjutkan tidurnya.


***


Saat pagi hari, seperti biasa Arselo yang mengalami morning sickness. Begitu ia bangun dari tidurnya, ia langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya dan dengan telaten Safira membantu untuk memijat tengkuk suaminya.


"Kamu baik-baik saja, kan, Pah?" tanya Safira khawatir.


"Iya, sayang. Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir." Arselo berucap sambil memberikan senyuman pada Safira, agar istrinya itu tidak terlalu khawatir padanya.


"Baiklah. Terima kasih, sayang." Arselo berucap seraya mengecup kening istrinya.


"Sama-sama, Pah."


Setelah mereka Safira keluar dari kamarnya, Arselo pun segera bersiap untuk pergi ke kantor. Ia tidak hanya bisa berdiam diri di rumah karena mengalami morning sickness, pekerjaan tidak akan berjalan sendiri meskipun Sofyan sudah membantunya.


Selesai bersiap, ia pun segera turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama anak-anaknya.


"Pagi Papa ...!" sapa keempat anaknya yang sudah siap di meja makan.


"Pagi juga, sayang-sayangnya Papa." Arselo menjawabnya sambil mengecupi kening mereka satu persatu.


"Ini air jahenya, Tuan," ujar Mbok Darmi menyerahkan teh jahe yang ia buat untuk Arselo.


"Terima kasih, Mbok." Arselo pun meminum air jahe yang sudah tersedia di depannya, ia sudah merasa lebih baik saat ini.


"Mbok untuk sarapan ini kita makan apa?" tanya Arselo yang menghampiri dan berdiri di belakang Mbok Darmi.


"Nyonya minta dibuatakan nasi goreng seafood, sedangkan anak-anak seperti biasa sarapan sereal juga susu," jawab Mbok Darmi.


Arselo terdiam, sebenarnya ia sedang ingin serapan yang lain, tapi dia juga tidak mungkin jika harus meminta Mbok Darmi memaksakannya sekarang, karena waktunya juga sudah sangat mepet dengan waktu berangkat bekerja.


"Baiklah, Mbok."


Safira melihat suaminya yang baru saja selesai berbicara dengan Mbok Darmi, tapi ia terlihat sangat lesu. "Kenapa, Pah?"


"Tidak apa-apa, sayang. Sepertinya aku tidak bisa ikut sarapan di rumah hari ini," ucap Arselo tiba-tiba.


"Lho, kenapa? Apa ada meeting mendadak pagi ini?" tanya Safira yang merasa heran karena tidak biasanya Arselo akan sarapan di luar.


"Sebenarnya, aku sedang ingin makanan yang lain, sayang," jawab Arselo pelan, ia tidak mau jika sampai Mbok Darmi merasa tidak enak karena ucapannya.


"Makanan yang lain? Apa itu?"


"Aku ingin sarapan lontong sayur, kalau sekarang bikin pun tidak akan cukup waktu. Lebih baik aku sarapan di luar dekat kantor ada gerobak yang menjualnya," jawab Arselo.


Safira menang sebentar, sebenarnya dia sangat ingin makan nasi goreng seafood itu bersama sang suami, tapi jika Arselo menginginkan yang lain, mungkin keinginannya saat ini tidak akan terpenuhi.


Arselo menatap Safira yang masih berdiam diri tanpa membalas jawabannya. "Sayang, ada apa?"


"Hmmm, sebenarnya aku ingin sarapan nasi goreng seafood itu bersamamu," jawab Safira pelan sambil menunduk.


Anak-anak dibuat bingung oleh kedua orang tuanya. "Nini, kita jadi sarapan bersama tidak?" tanya Dayyan sambil melihat jam kecil yang melingkar di tangannya. Begitupun dengan Raiyan dan Qirani, sedangkan Divya hanya terdiam menatap ketiga kakaknya yang akan berangkat sekolah.


Ni Eti mengalihkan perhatiannya dari Safira ke anak-anak yang berada di kursi meja makan masing-masing, ia juga sama halnya dengan anak-anak yang merasa bingung. "Nini juga tidak tahu. Lebih baik kalian tanyakan saja pada Mama dan Papa."


Anak-anak, saling menatap satu sama lain. "Bang Rai, tanyain, gih," ucap Qirani yang meminta Raiyan untuk bertanya pada Safira dan Arselo.


"Lho, kenapa aku?"


"Ayolah, Bang. Kita hampir kesiangan, bis sekolah sebentar lagi datang."


Tanpa diduga saat Raiyan dan Qirani masih berdebat, Divya turun dari kursinya dan menghampiri kedua orang tuanya yang masih berdebat antara nasi goreng seafood atau lontong sayur.


"Mama, Papa, mau sarapan bersama tidak? Abang-abang dan Kakak sebentar lagi harus berangkat ke sekolah ...!" seru Divya sambil menarik-narik baju Safira.


Safira dan Arselo pun tersadar jika anak-anaknya harus sarapan sebelum mereka berangkat ke sekolah.


"Ya sudah, ayo kita sarapan nasi goreng seafood saja," jawab Arselo mengalah. Biarlah, nanti aku bisa makan lagi di kantor, batinnya.


Setelah perdebatan itu selesai, akhirnya mereka pun sarapan bersama sebelum mengawali harinya masing-masing.