
Abizar telah sampai di kediaman Safira, saking rindunya ia dengan anak-anak dan pujaan hatinya, Abizar sampai tak pulang ke apartemennya dulu. Ia memilih untuk langsung ke rumah Safira bersama Caca, kali ini ni Eti tak ikut ke kota bersama Abizar. Ni Eti memilih tinggal di desa dulu untuk membantu bu Resti mengurus tambak dan kebun mereka.
"Om Abi..." seru ke tiga anak-anak berlarian keluar rumah saat mereka mendengar deru mesin mobil Abizar.
Abizar dan Caca tersenyum kala melihat reaksi anak-anak saat ia datang yang begitu antusias menyambutnya.
"Mereka udah kaya yang jemput papanya aja ya bang?" celetuk Caca pada Abizar.
"You know Ca, I feel so happy when I see kids act like this to me, I think their attitude will change towards me when they meet Arselo, their own biological father.
(Kamu tahu Ca, aku merasa sangat senang ketika melihat anak-anak bertingkah seperti ini padaku, aku pikir sikap mereka akan berubah terhadapku ketika mereka bertemu Arselo, ayah kandungnya sendiri)" jawab Abizar sambil membuka pintu mobilnya untuk keluar, dan menerima sambutan hangat dari anak-anak Safira.
Caca tidak membalas ucapan Abizar, ia pun turut ikut turun bersama Abizar.
"Teteh, gimana keadaan teteh?" tanya Caca yang saat itu menyapa Safira terlebih dahulu. Karena Abizar masih sibuk berpelukan dengan si kembar tiga.
"Teteh baik Ca, kamu sendiri gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah baik teh"
"Gimana keadaan pak Bambang? Apa sudah bisa berjalan lagi?"
"Masih harus di bantu teh, jadi nini gak ikut ke sini karena mau bantuin ibu dulu di sana. Teteh sendiri gimana?"
"Teteh masih harus belajar lagi Ca, cukup sulit kalau tanpa tongkat"
"Mudah-mudahan cepet sembuh ya teh"
"Ia, amin Ca"
Caca masuk rumah terlebih dahulu dan meninggalkan Safira, Abizar dan anak-anak yang masih mengelilinginya.
"Anak-anak, ayo sini. Om-nya masih cape, jangan di ganggu terus. Ayo kita masuk ke dalam biar om-nya bisa istirahat dulu" ucap Safira pada ke tiga anaknya.
"Ya....h abang Day kan masih kangen om, ma" sahut Dayyan.
"Iya ma, kami masih kangen om Abi" timpal Raiyan dan Qirani.
"Gak apa-apa, Fir. Namanya juga anak-anak, lagian rasa penat ku juga sudah hilang saat liat anak-anak bahagia kayak gini" jawab Abizar.
"Kebiasaan abang selalu belain mereka. Ya udah, ayo masuk dulu" ujar Safira.
Mereka pun masuk rumah itu, anak-anak berjalan terlebih dahulu dengan di ikuti Abizar dan Safira di belakangnya.
"Maafin atas sikap anak-anak ku ya bang"
"Kenapa minta maaf?" tanya Abizar yang heran.
"Emh, mereka gak kenal tempat sama waktu kalau dekat abang pasti langsung lengket gitu" jawab Safira.
"Kamu jangan merasa sungkan gitu, Fir. Aku senang berada dekat kalian. Lagian anak-anak bersikap seperti itu berarti aku sudah bukan orang asing di kehidupan mereka" ujar Abizar.
Safira tersenyum lembut dengan bahagia mendengar perkataan Abizar, kini hatinya sudah menentukan siapa yang akan menjadi teman masa depannya kelak.
Safira membiarkan Abizar untuk beristirahat di kamar yang kosong sebelah kamar yang di tempati Caca. Semenjak ni Eti memutuskan untuk tinggal di sana, Abizar dan Safira menata ulang rumah yang di tempati Safira dan membuat beberapa kamar tambahan di lahan yang masih kosong dan jadilah sekarang rumah itu tampak lebih besar dari pada saat awal mereka menempatinya.
***
Di tempat lain, tepatnya di sebuah gudang tua yang lembab dan gelap, Arselo tengah tidak sadarkan diri dengan tangan dan kaki yang terikat ke belakang di sebuah kursi kayu.
Byur...
"Uhuk...uhuk...uhuk" (anggap aja suara batuk ðŸ¤)
perlahan Ia membuka matanya dan melihat siluet seseorang yang baru saja menyiramnya.
"Huh, bangun juga loe" ucap seseorang itu.
Arselo mencoba mengamati orang itu tapi karena pencahayaan yang kurang bahkan terkesan gelap, ia tidak bisa melihat jelas seseorang itu, hanya dari suaranya dapat ia kenali jika itu adalah seorang wanita.
"Siapa kau? Apa mau mu? Kenapa aku berada disini?" tanya Arselo.
"Banyak nanya loe, yang pasti loe ada di sini buat balas semua hal buruk yang loe lakuin ke gue" jawab wanita itu
"Maksud kamu hal buruk apa? Dan kamu ini siapa?" tanya Arselo.
Wanita itu mendekat ke wajah Arselo dan membuka penutup wajahnya, betapa terkejutnya Arselo saat melihat wanita itu dari dekat.
"Vivi?" gumam Arselo dengan tidak percaya.
"Ya ini gue, kenapa? Kaget loe?" jawab wanita itu yang ternyata adalah Vivi.
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan Vivi?" tanya Arselo dengan wajah marah.
"Huh, masih nanya aja. kenapa loe berani-beraninya keluarin bayi itu tanpa persetujuan gue?" tanya balik Vivi.
"Bukankah kamu sendiri sadar jika selama kamu hamil, kamu tidak pernah menjaga pola hidup sehat, dan itu berakibat fatal untuk bayi kamu. Apa kamu tahu jika bayi itu sekarang sudah meninggal?" tanya Arselo.
Vivi langsung tersentak karena terkejut saat Arselo bilang jika bayinya sudah meninggal.
"Apa yang udah lo lakuin sama bayi gue? Kenapa bisa dia sampai meninggal?" tanya Vivi marah sambil mencengkram rahang Arselo.
Dengan sekali hentakan, Arselo melepaskan tangan Vivi dari rahangnya.
"Kamu masih gak sadar apa yang sudah kamu lakukan sendiri terhadap bayi kamu? Aku dan arsela hanya ingin menolong kalian. Asal kamu tahu jika kami terlambat membawamu ke rumah sakit dan mengeluarkan bayi itu dari perut mu, kalian mungkin tidak akan bisa diselamatkan" jawab Arselo dengan suara tinggi.
"Bohong. Loe sengaja kan mau menyingkirkan bayi itu karena dia itu bukan anak kandung lo?" tanya Vivi.
"Aku sudah mengetahui jika bayi itu bukan anakku sejak lama, jika memang aku mempunyai niat untuk melenyapkannya, pasti dari dulu sudah aku lakukan, tanpa harus menunggu hingga saat ini" jawab Arselo.
"Kurang ajar"
Plak...
Vivi menampar wajah Arselo keras. Arselo sendiri merasa sedikit kebas di sebelah wajahnya yang barusan Vivi tampar.
"Bawa mereka masuk!" teriak Vivi pada seseorang.
Setelah Vivi berteriak seperti itu datanglah segerombol pria yang berbadan kekar.
"Habis dia" perintah Vivi pada ada pria pria yang baru saja datang.
"Baik nona" jawab para pria itu.
Arselo pun dikeroyok oleh para pesuruh itu dalam keadaan tangan dan kaki yang masih terikat hingga ia tidak bisa melawan atau pun lari dari para pengeroyok itu.
Saat kesadarannya mulai menghilang, tiba-tiba ia mendengar suara tembakan yang menggema.
Door ...
Suara tembakan itu hanya satu kali, tapi membuatnya hilang kesadaran saat itu juga, hingga ia tidak mengingat apa-apa lagi.