
Safira merasa heran dengan penjelasan Sarah, dia tidak mengerti kenapa Sarah memperingatkannya seperti itu, karena dia merasa tidak mengambil apapun milik Vivi.
"Kenapa aku harus merasa terbebani dengan ucapan Sarah?" gumam Safira saat ia sudah mematikan teleponnya.
"Tapi lebih baik aku jika aku berjaga-jaga juga" sambungnya lagi.
Setelah selesai dengan telepon dari Sarah, Safira pun kembali terdiam hingga tak terasa murid-murid TK itu sudah waktunya beristirahat dan Safira melihat ketiga anaknya yang berjalan untuk menghampirinya.
"Mama, Qiran laper" ucap Qirani begitu sampai di depan Safira.
"Abang juga laper ma" timpal Raiyan, sedangkan Dayyan sudah pergi untuk mencuci tangannya.
"Qiran sama abang Rai Sudah cuci tangan?" tanya Safira kepada dua anaknya itu.
Kedua anak itu menggelengkan kepalanya sambil nyengir kuda "Belum mah" jawab kedua anak itu bersamaan.
"Ya sudah ayo kita cuci tangan dulu nanti baru makan sama-sama" ucap Safira kepada dua anaknya sambil tersenyum, dia mengajak anak-anak itu untuk mencuci tangan, sedangkan Dayyan yang sudah selesai terlebih dahulu ikut menunggui mereka.
"Nah sekarang Ayo kita makan bersama" ucap Safira setelah mereka kembali ke tempat duduk di mana tadi Safira menunggu anak-anaknya. Safira kemudian membagikan kotak makan yang ia bawa pada ketiga anaknya.
Safira menemani anak-anak untuk bermain saat waktu istirahat sedang berlangsung, beberapa anak-anak ikut bermain bersama Safira dan ketiga anaknya, Mereka terlihat riang gembira, berlarian ke sana kemari. Setelah merasa lelah bermain, mereka pun kembali istirahat sebelum jam istirahat mereka selesai.
Pemandangan itu tidak sekalipun dilewatkan oleh Arselo yang dengan sengaja datang ke sekolah anak-anaknya untuk bertemu mereka dengan alasan jika dia sangat merindukan anaknya. Tapi saat ia melihat Safira yang sedang bersama anak-anak Arselo pun mengurungkan niat untuk bertemu dengan ketiga anaknya. Ia hanya mengabadikan pemandangan itu melalui ponselnya, setelah selesai dengan urusannya Arselo pun pergi dari sana untuk melanjutkan perjalanan ke arah kantornya nya.
***
Arselo pergi dari rumah sakit setelah ia mengurus semua keperluan anaknya Vivi selama di sana. dia menitipkan bayi merah itu pada dokter yang menanganinya khusus dan juga perawat yang ia sewa untuk menjaganya selama dua puluh empat jam. Arselo juga berpesan jika ada orang yang ingin melihat anak itu harus melaporkan dulu padanya, karena Arselo yakin jika Vivi kemungkinan akan kembali ke rumah sakit itu untuk mengambil anaknya.
"Tuan, siang nanti anda memiliki janji untuk menemui klien kita di kafe XXX" ujar sekretaris Arselo.
"Setelah itu apa saya punya jadwal lain?" tanya Arselo.
"Tidak tuan, tuan besar sudah mengatur ulang jadwalnya, beliau juga yang akan ke luar kota untuk minggu depan, jadi bulan ini anda tidak akan pergi ke luar kota, karena tuan besar yang akan menggantikan anda" jawab sekretaris itu menjelaskan.
"Kenapa papa tidak membicarakan ini dengan ku?" gumam Arselo.
"Ya sudah, kamu boleh pergi!" ujar Arselo pada sekretaris itu.
"Baik tuan, saya permisi dulu" setelah mengatakan itu, sekretaris itu pun undur diri untuk kembali ke meja kerjanya.
"Halo pa".
"Assalamu'alaikum Arselo".
"Hehehe, Wa'alaikum salam pa".
"Ada apa kamu telpon papa? Cepat bicara, lima menit lagi papa harus segera menghadiri meeting penting".
"Iya pah, ini jadwal yang udah El susun kenapa papa rubah?".
"Apa kamu menelpon hanya untuk bertanya itu?".
"Iya pa, memangnya kenapa?".
"Sudahlah. Papa sengaja merubahnya, supaya untuk sementara waktu kamu tidak perlu ke luar kota dulu. Lebih baik kamu urus masalah mu dengan Vivi sampai selesai. Setelah semua beres, baru kamu tangani masalah kantor lagi" ucap tuan Ardan, dan tanpa menunggu jawaban Arselo, tuan Ardan sudah terlebih dulu mengucap salam dan segera menutup telponnya.
Arselo menatap ponsel yang layarnya sudah menghitam, ia menarik nafasnya panjang, ia merasa beberapa hari terakhir ini sangatlah berat. Benar kata papanya, ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Vivi terlebih dahulu, sebelum ia melangkah untuk mendapatkan hati ke tiga anak-anaknya, ia tak berharap Safira untuk bisa bersamanya karena ia merasa tidak pantas untuk Safira.
Beberapa kali Arselo menarik nafas panjangnya hingga ia bisa meredam semua emosi yang kini tengah bergejolak dalam hatinya, jika dulu Arselo dalam keadaan seperti ini ia akan langsung mencari hiburan pergi ke klub malam, minum alkohol dan wanita, kini ia tak lagi melakukan itu semua. sebaliknya sekarang Arselo lebih mendekatkan dirinya pada yang kuasa, ia ingin hidup dengan lebih baik.
Setelah merasa cukup untuk menenangkan hatinya, Arselo segera bangkit dari kursi kuasanya dan segera menyiapkan berkasnya untuk melengkapi berkas milik sekretarisnya.
"Maaf tuan, apa anda sudah siap? Jika sudah mari kita berangkat sekarang" ucap sekretaris Arselo yang bernama Intan.
Jika biasanya Intan akan merasa takut pada Arselo karena ia sering kena amarah tak beralasan, kini ia bisa tenang pasalnya Arselo sudah tidak pernah membentaknya sejak Arselo pulang bertugas dari desa itu. Intan tidak mengetahui apa alasannya, tapi ia bersyukur akan perubahan Arselo itu.
"Ya, saya sudah siap" jawab Arselo sembari memberikan berkas kelengkapan yang ia sudah ia siapkan pada Intan.
Mereka pun berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai bawah gedung itu, dan menaiki mobil yang sebelumnya sudah disediakan untuk membawa mereka ke tempat tujuannya.
***
Safira dan anak-anaknya sudah bersiap untuk menyebrang saat lampu perempatan itu berwarna merah, Safira juga sudah memperingatkan anak-anak untuk tetap berpegangan padanya. Namun entah kenapa saat ia dan anak-anak baru beberapa langkah di zebra cross, tiba-tiba ada mobil hitam yang melaju sangat cepat tepat ke arah mereka dan...
BRAAAKKKKKK
Suara keras yang memekakkan telinga semua orang yang berada di sana, Safira tergeletak lemah hingga ia tak sadarkan diri, sedangkan mobil itu masih bisa melaju pergi meninggalkan tempat kejadian, orang-orang juga sudah berusaha untuk mencegahnya, tapi sayang itu tak berhasil.