
Sore hari setelah Arselo menemui Vivi, ia pulang ke rumah Safira untuk bertemu dengan anak-anak sekaligus memberi tahu jadwal yang sudah ia janjikan. Tapi saat di perjalanan, ia di telpon seseorang dan memberikan informasi tentang Vivi yang sudah di temukan.
Dengan perasaan lega, Arselo memutar balikkan mobilnya untuk menuju tempat di mana Vivi berada.
"Dimana wanita itu?" tanya Arselo pada suruhannya yang sudah berhasil menemukan Vivi.
"Nyonya Vivi ada di dalam sana, tuan. Maat karena saya baru mengabari anda sekarang, pria yang sudah membawa Nyonya Vivi kemari adalah salah satu bandar j***. Dia memanfaatkan Nyonya Vivi untuk kepuasan saja" jelas pesuruh Arselo tadi.
"Baiklah, apa di dalam ada penjagaannya ketat?"
"Sepertinya tidak terlalu, tuan. Anda bisa masuk ke dalam sana, biar saya yang akan melumpuhkan para penjaganya"
"Ayo, segera kita lakukan"
"Baik tuan"
Mereka berdua pun berpencar, Arselo masuk ke dalam rumah itu setelah para penjaga di lumpuhkan. Ia terus membuka satu per satu pintu ruangan yang ada di rumah itu, hingga akhirnya dia menemukan salah satu pintu yang terkunci rapat, karena penasaran dan ia pun begitu yakin jika Vivi di sana, maka Arselo pun mulai mendobrak pintu kamar itu.
Dia segera berlari menghampiri Vivi yang sedang terbaring lemah di atas lantai dengan darah yang mengalir deras diantara kedua kakinya.
Vivi sudah tidak sadarkan diri saat Arselo dan mata-matanya itu menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Setelah sampai di sana Arselo pun langsung menghubungi pihak kepolisian agar terus mengawasi Vivi.
Sedangkan Arselo sendiri memilih untuk pergi dari sana saat ia sudah melihat Vivi kembali sadarkan diri.
"Aduh, aku lupa memberi tahu Safira jika hari ini aku tidak bisa datang ke rumahnya" gumam Arselo sambil memukul stir mobil.
Bisa-bisanya ya melupakan hal penting yang menyangkut anak-anaknya.
"Semoga saja mereka tidak membenciku karena hal ini" ucap Arselo seraya melihat jam yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul jam 11 malam saat ia selesai urusannya dengan Vivi, bahkan ia juga lupa untuk makan malam.
Arselo mulai melajukan mobilnya menuju tempat makan yang berada di pinggir jalan, entah kenapa hari ini rasanya dia tidak terlalu ***** makan.
"Pa saya mau pecel lelenya satu sama teh tawar hangat satu" pinta Arselo pada bapak penjual pecel lele yang ia hampiri.
"Baik mas, silahkan di tunggu dulu" jawab bapak penjual itu.
Arselo pun memilih untuk duduk di bangku pojok tenda agar tak terlalu kentara oleh pengunjung lain. Saat hendak duduk tiba-tiba ponsel milik Arselo berdering, dia melihat ID pemanggil yang tertera di ponselnya.
"Safira?" gumam Arselo saat melihat layar ponselnya.
"Halo, Fir?"
"Ya, El. Maaf jika aku mengganggu mu malam-malam"
"Tidak apa-apa, aku juga minta maaf karena tidak bisa datang ke rumah kalian. Apa anak-anak akan mengerti?"
"Mungkin saja, memangnya tadi kamu kemana?"
"Menghampiri Vivi"
"Oh" jawab Safira singkat.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu menelponku malam-malam? Apa ada yang kamu inginkan?"
"Hmmm, jika kamu sedang tidak sibuk, sebenarnya saat ini aku ingin makan pecel lele. Tapi jika kamu sedang sibuk, kamu tidak perlu membawakannya aku mengerti jika kamu sedang lelah"
Belum sempat arselo menjawab perkataannya, sambungan telepon itu sudah diputus terlebih dahulu oleh Safira.
"Lho, kenapa sambungan teleponnya tiba-tiba mati?" gumam Arselo yang merasa heran karena belum sempat menjawab perkataan Safira.
"Dasar ibu hamil" gumam Arselo pelan seraya menyimpan kembali ponselnya di kantung jaket. Arselo kembali melangkah menghampiri bapak penjual pecel lele itu.
"Pa, pecelnya di bungkus aja 2, gak jadi makan di sini" ucap Arselo.
"Oh, iya, iya. Sebentar mas biar di bungkus dulu" jawab bapak itu dengan tangan yang sibuk menyiapkan pesanan Arselo.
Setelah membayar makanannya, Arselo pun melajukan mobilnya menuju rumah Safira. Dia tidak ingin jika ibu hamil itu menunggu lama makanannya.
Setibanya di sana, Arselo memencet tombol bell yang ada di samping pintu, ia menunggu Safira yang akan membukakan pintu untuknya.
Ceklek...
Pintu itupun terbuka menampilkan Safira.
"Hai Fira, ini pesanan mu" ucap Arselo sambil memberikan satu buah kantong plastik makanan milik Safira.
"Terima kasih, El" ucap Safira seraya mengambil kantong plastik yang diulurkan oleh Arselo.
Setelah menerima kantong plastik itu, Safira kembali menutup pintunya tanpa mempersilahkan Arselo masuk terlebih dahulu. Sedangkan Arselo sendiri merasa bingung dengan sikap Safira yang berubah terhadapnya.
"Safira kenapa? Tidak biasanya dia seperti itu, menutup pintu tanpa mengatakan apa-apa. Apa aku melakukan sudah kesalahan?" gumam hati Arselo.
***
Safira sendiri langsung menutup pintunya karena ia sedang merasa kesal pada Arselo yang sudah menemui Vivi tanpa memberitahukan terlebih dahulu padanya.
"Uhk, kenapa aku jadi merasa kesal sendiri terhadapnya? Padahal dia bukan siapa-siapa ku. Untuk apa juga dia memperlakukanku dan anak-anak dengan baik jika pada akhirnya dia akan kembali lagi pada Vivi" gumam hati Safira seraya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
"Hah, bikin kesal saja" desis Safira seraya menyimpan makanan yang dibawakan oleh Arselo tadi dengan kasar di atas meja, saat ini selera makannya sudah benar-benar hilang.
Safira pun melangkah menuju kamarnya dengan emosi yang masih meluap-luap. Tidak biasanya dia sampai kehilangan kesabaran seperti itu, karena dia bukan tipe orang yang bisa marah dengan mudah.
Bahkan Safira juga sampai lupa dengan tujuannya untuk menanyakan Arselo tentang rencana kegiatan sekolah anak-anak. Setelah sampai di kamarnya, Safira pun membaringkan tubuhnya dengan memeluk perut yang sudah terlihat lebih besar.
Saat ini dia benar-benar merasa marah, sedih, dan juga kecewa, tapi dia tidak tahu harus melampiaskan semua itu pada siapa. Safira mulai terisak pelan, kenapa dia harus merasa cemburu pada orang yang bahkan tidak ada hubungan apa-apa dengannya selain hanya sebatas orang tua bagi ketiga anaknya.
Safira terisak sendiri sampai akhirnya ia terlelap tidur karena merasa terlalu lelah menangis.