Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 56



Sepulang dari rumah sakit tadi Abizar mengajak anak-anak pergi ke taman bermain. Mereka menghabiskan waktu bersama-sama untuk bersenang-senang, layaknya keluarga bahagia.


Abizar juga sangat memperhatikan anak-anak Safira saat mereka hendak melakukan beberapa permainan yang harus didampingi orang tua, maka Abizar lah yang akan melakukannya. Abizar sudah sangat cocok menjadi sosok seorang Ayah yang ideal untuk anak-anaknya. Safira tidak ikut bermain karena kakinya yang masih belum pulih betul, jadi ia hanya bisa melihat anak-anak dan Abizar yang sedang bermain.


"Bu, pak Abi sepertinya sangat menyayangi anak-anak ibu layaknya seorang ayah ya?" tanya Anisa yang sedang duduk menemani Safira.


"Iya kamu benar, Nis. anak-anakku beruntung meskipun mereka jauh dari papa kandungnya, tapi mereka tidak kekurangan kasih sayang sosok itu, karena bang Abi sudah memberikan kasih sayang itu pada mereka" jawab Safira tersenyum dan masih memperhatikan Abizar dan anak-anaknya.


"Lalu bagaimana dengan ibu sendiri?"


"Aku? Kenapa?"


"Apa ibu tidak mempunyai perasaan lebih terhadap pa Abi?" tanya jelas Anisa.


"Apa sih Nis, kamu ada-ada aja. Menurut ku Abizar berhak untuk hidup bahagia dengan orang yang dia cintai. Aku tidak berharap lebih, karena untukku Kebahagiaan anak-anak adalah hal yang terpenting" jawab Safira.


"Lalu bagaimana jika orang yang pak Abi cintai adalah ibu sendiri?" tanya Anisa lagi.


"Kenapa kamu bisa beranggapan seperti itu? Selama ini bang Abi memang selalu baik dan perhatian terhadap ku, tapi aku juga tahu diri. Aku tidak ingin berharap lebih" jawab Safira sambil menundukkan kepalanya.


"Berharap boleh kok bu, apa lagi yang ibu alami mungkin harapan yang akan menjadi kenyataan" ujar Anisa.


Safira tidak lagi menjawab perkataan Anisa dia hanya tersenyum samar. Karena tanpa orang lain ketahui bahwa sebenarnya Safira juga memiliki perasaan lebih terhadap Abizar.


"Untuk saat ini aku ingin menikmati waktu bahagia anak-anakku bersama Abizar, jika memang benar bang Abi adalah jodoh ku, maka aku akan sangat senang dan berterimakasih. Tapi kalau pun bukan, aku akan membiarkannya untuk memilih kebahagiaan yang ia inginkan" batin Safira.


"Abang, anak-anak ayo makan dulu!" seru Safira saat sudah melihat anak-anaknya kelelahan karena mencoba berbagai macam permainan, begitu pula dengan Abizar yang sudah terlihat sangat lelah karena harus menjaga tiga orang anak yang sedang aktif-aktifnya.


"Iya sebentar ma" jawab Raiyan yang masih asyik bermain dengan perosotannya.


"Ayo kita makan dulu, nanti selesai makan baru lanjut main lagi" ujar Safira ada anak-anak dan juga Abizar.


Mereka makan bersama, Safira juga mengajak Anisa untuk ikut makan bersama dengan mereka. Meskipun awalnya Anisa menolak untuk ikut, dengan alasan tidak sopan jika pengasuh ikut makan dengan tuannya apa lagi sampai satu meja. Tapi hal itu di tampik oleh Safira, ia bahkan tidak berniat untuk membeda-bedakan satu dengan yang lainnya.


***


Saat ini Arselo sedang duduk menyendiri di atas ranjang pesakitan, setelah orang tua dan Safira juga anak-anak pergi dari sana, ia lebih banyak melamun. Memikirkan tentang banyak hal dan berandai-andai, ia memikirkan tentang perkataan mamanya sebelum pergi.


Flashback on


"Bagaimana perasaanmu saat melihat anak-anak pergi dengan pria yang bukan ayah kandung mereka sendiri?" tanya nyonya Sita dengan sinis.


"Sudahlah ma, jangan membuat Arselo merasa bersalah terus. Lebih baik kita bantu support dia supaya dia bisa semangat untuk mengambil hati ketiga anaknya. Bahkan kalau bisa, papa berharap Safira juga menjadi menantu kita" ujar tuan Ardan menengahi.


"Ma, aku tahu sebesar apa aku buat kesalahan pada Safira dulu, aku juga tidak berharap lebih pada Safira, karena aku tahu Safira pasti akan lebih memilih Abizar ketimbang diriku yang pastinya sudah pernah membuat dia terluka" ucapkan Arselo.


"Baguslah kalau kamu sadar diri seperti itu. mama adalah orang yang pertama menentang mu jika kamu mempunyai niat untuk menjauhkan Abizar dari kehidupan Safira dan anak-anak. Dulu mereka sudah cukup menderita dan sekarang biarkanlah mereka untuk merasakan bahagia meskipun kebahagiaan mereka akan membuatmu sedih, mama percaya suatu saat kamu juga akan mendapati kebahagiaan mu sendiri bersama anak-anak tanpa harus menyingkirkan orang lain" peringatan dari nyonya Sita.


"Iya ma, aku mengerti" jawab Arselo.


Setelah mengatakan itu mamanya pun pergi dari sana bersama tuan Ardan, suaminya.


Flashback off


Saking asyiknya Arselo melamun, ia sampai tak sadar jika Sofyan sudah kembali ke ruangan itu untuk menemaninya.


"Tuan, ada yang harus saya sampaikan" ucap Sofyan membuyarkan lamunan Arselo.


"Kamu? Kapan datang?" tanya Arselo refleks.


Sofyan menatap tuannya dengan tatapan bingung.


"Maaf tuan, apa anda sedang melamun?" tanya Sofyan.


"Sudahlah lupakan. Ada apa?" tanya Arselo langsung pada intinya.


"Para polisi yang membantu kita saat itu mengatakan jika Vivi berhasil kabur dari kejarannya. Nona Devi pun menghilang jejaknya entah kemana, kami sudah menghubungi kedua orang tua Nona Devi tapi mereka tidak mengetahui apa-apa tentang anak dan juga keponakannya"


"Oh iya aku hampir lupa menanyakan, apakah perusahaan milik orang tua Devi benar-benar bangkrut?"


"Maaf tuan, Anda mendengar kabar burung itu dari mana? Karena kemarin saat saya mencari informasi tentang nona Devi, tuan Pras dan nyonya Tia mereka baru saja memenangkan sebuah tender besar yang akan membuat perusahaan itu semakin maju"


"Benarkah? Bahkan aku tidak mengetahui hal itu"


"Jadi kemarin Devi sudah membohongiku?


Tapi untuk apa sampai membawa-bawa keluarganya segala dan mengatakan jika perusahaan mereka sudah bangkrut?" gumam hati Arselo.


"Benar tuan"


"Ya Tuhan, ternyata aku terlalu bodoh sampai bisa dibohongi dengan hal yang tidak masuk di akal seperti kemarin. Pantas saja aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Abizar".


Arselo menarik nafasnya dalam dan membuangnya secara perlahan, dia merutuki kebodohannya sendiri.