Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 92



Arselo pulang ke rumahnya dengan perasaan hampa, ia sama sekali tidak mengerti dengan sikap Safira yang menurutnya berbeda dari biasanya. Arselo sudah berpikir keras dan mencoba mengingat semua yang ia katakan pada Safira saat ditelepon tadi.


"Perasaan aku memang tidak mengatakan hal yang aneh, bertemu dengan Vivi pun itu di rumah sakit dan aku juga tidak menghabiskan waktu bersamanya. Lalu apa yang membuat Safira bersikap sedemikian rupa pada ku? Aku benar-benar tidak mengerti dengan emosi ibu hamil" gumam Arselo pelan.


Setelah memakan makanannya, Arselo pun pergi membersihkan dirinya sebelum akhirnya dia memilih untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhnya, jika hanya memikirkan Safira dia tidak akan pernah bisa beristirahat dengan tenang. Arselo berfikir jika dia akan menanyakan hal itu pada Safira esok hari.


***


Pagi telah menyapa, sinar mentari hangat mulai menerangi alam semesta. Safira segera bangun saat ia merasa mual, tidak biasanya mual itu hadir. Semenjak usia kandungannya menginjak 4 bulan, Safira sudah tidak mengalami lagi morning sickness tapi hari ini rasa mual itu kembali hadir dan sangat mengusik nya di pagi hari.


"Ukh, kenapa seperti ini lagi? padahal aku pikir jika mual ini benar-benar sudah tidak ada" gumam hati Safira.


Setelah hampir satu jam berlalu, Safira masih saja terus bolak-balik untuk memuntahkan cairan bening yang pahit itu. Ni Eti yang melihat kejadian itu sangat khawatir dengan keadaan Safira dan janinnya.


"Fira, kamu tidak apa-apa, nak?" tanya Ni Eti dengan khawatir lantaran Safira tidak juga berhenti bolak-balik ke kamar kecil.


"Fira baik-baik aja, Ni. Hanya saja sudah lama rasanya Fira tidak mengalami mual seperti ini" jawab Safira.


"Nini akan membuatkan mu air jahe dulu ya, tunggu dulu di kamar" ucap Ni Eti sambil bangkit dari kasur Safira.


Safira menghentikan langkah Ni Eti dengan mencekal pergelangan tangannya.


"Kenapa Fira?" tanya Ni Eti membalikan badannya untuk melihat Safira.


"Ni, aku mau cerita boleh?" tanya Safira dengan gugup. Tidak biasanya ia terlihat gugup seperti itu, dan membuat Ni Eti sedikit penasaran dengan cerita yang akan disampaikan oleh Safira.


"Cerita apa, Fira?" tanya Ni Eti dengan lembut.


"Hmmm, kenapa ya Ni, kok aku ngerasa kesal dengan Arselo saat dia bilang menghampiri Vivi? Padahal kami gak ada hubungan apa-apa dan aku juga yakin kalau Arselo tidak akan mau padaku"


Ni Eti mengernyitkan keningnya, kini ia sudah tahu alasan kenapa Safira sampai mengalami morning sickness lagi.


"Kamu kesal kalau tahu jika Arselo bersama dengan wanita lain?" tanya Ni Eti yang langsung di angguki Arselo Safira.


"Kamu senang jika dia sedang bersama dengan mu?" tanya Ni Eti yang lagi-lagi mendapat anggukan dari Safira.


"Itu berarti kamu memiliki perasaan padanya" ucap Ni Eti yang langsung mendapat gelengan kepala dari Safira yang tidak setuju dengan pendapat Ni Eti.


"Gak mungkin Ni, aku masih belum bisa sepenuhnya untuk melupakan mas Abi" tolak Safira.


Ni Eti sedih saat ia mendengar penuturan Safira, ia juga tidak bisa jika harus benar-benar melupakan Abizar, karena bagaimanapun Abizar adalah cucunya dan suami dari Safira.


"Kita tidak mungkin bisa melupakannya, Fira. Tapi, kita juga tidak bisa terus hidup dengan bayang-bayangnya. Nini ngerti dengan apa yang kamu rasakan, sekarang cobalah untuk mulai mengikuti kata hati mu, kamu dan anak-anak berhak untuk merasakan kebahagiaan lagi"


Safira mulai terisak lagi setelah mendengar penuturan dari Ni Eti, ia kira Ni Eti akan memarahinya karena merasa tertarik pada orang lain selain cucunya, tapi nyatanya itu tidak terjadi.


"Walau bagaimanapun kamu sudah mempunyai tempat tersendiri di hati ku dan anak-anakku, mas. Tenanglah di sana, kami di sini baik-baik saja" gumam hati Safira. Benar yang dikatakan oleh Ni Eti, tidak seharusnya dia hidup dalam bayang-bayang Abizar.


Setelah Safira mulai merasa lebih baik, Ni Eti pun meninggalkannya di kamar untuk membuatkan air jahe. Saat beliau sampai di dapur, pintu depan rumah itu di ketuk seseorang dari luar.


"Assalamualaikum, Ni" sapa Arselo saat melihat Ni Eti yang sudah membukakan pintu untuknya.


"Waalaikumsalam, nak El. Ayo masuk ke dalam, anak-anak sudah menunggu dari tadi" ucap Ni Eti seraya mempersilakan masuk, Arselo pun mengikuti Ni Eti masuk ke dalam rumah.


"Nini mau buatkan air jahe untuk Safira, dia mulai mual-mual lagi sejak bangun tidur tadi" jawab Ni Eti.


"Biar saya saja yang akan membuatkannya, Ni" pinta Arselo untuk mengambil alih membuatkan air jahenya. Ni Eti pun tidak mencegahnya, dan membiarkan Arselo yang membuatkannya.


Tak lama kemudian anak-anak datang menghampirinya.


"Papa...!"


"Papa...!"


"Papa...!"


Panggil ketiga anak-anaknya itu sambil berlari ke arahnya, dengan sigap arselo membungkukkan badan dan menangkap ketiga anak itu dalam pelukannya.


"Papa kenap kemarin sore tidak datang kemari?" tanya Raiyan dengan menekuk wajah.


"Iya, bukankah biasanya papa akan mampir kemari?" tanya Qirani.


"Kami ingin di temani papa saat lomba besok, apa papa bisa?" tanya Dayyan.


Arselo menatap ke tiga anak-anaknya dengan haru, ia tidak menyangka jika ia bisa merasakan bagaimana menjadi seseorang yang sedang di tunggu oleh ke tiga anaknya.


"Iya, papa akan temani kalian untuk mengikuti lomba itu" jawab Arselo yang membuat ketiga anaknya langsung melompat bahagia.


"Hore...!"


"Diantar papa, ye...!" ucap ketiga anak itu, mereka sangat terlihat senang dan bersemangat.


Kegaduhan di ruang keluarga membuat Safira yang sedang di kamar bertanya-tanya. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah menuju tempat ketiga anak-anaknya berada.


"Hy, Fir" apa Arselo saat melihat kedatangan Safira.


Safira tidak menanggapi sapaan dari Arselo, karena dia masih merasa kesal terhadapnya. Safira berjalan begitu saja melewati Arselo tanpa menyapanya.


"Hu..h aku masih merasa kesal terhadapnya, melihat wajah yang seperti itu rasanya aku ingin sekali mencakarnya" gumam Safira sambil menatap sinis Arselo.


Sedangkan Arselo sendiri yang mendapat tatapan sinis dari Safira merasa heran, karena seingatnya ia tidak melakukan kesalahan apapun.


Setelah kepergian Safira, Arselo pun bertanya pada ke tiga anak-anaknya.


"Apa kalian tahu, kenapa mama bersikap seperti itu?"


Raiyan dan Qirani kompak menggelengkan kepalanya, mereka juga tidak mengetahui alasan kenapa Safira bisa sinis pada Arselo.


"Papa buat mama kesal ya?" tanya Dayyan tiba-tiba.


"Papa juga gak tahu, sayang. Seingat papa, papa enggak bikin mama kesal" tolak Arselo.


"Lalu kenapa mama bersikap seperti itu?" tanya Dayyan lagi.


"Kalian harus membantu papa untuk membujuk mama"