Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 84



Siang hari Nyonya Sita beserta tuan Ardan datang berkunjung ke rumah Safira, mereka merindukan ketiga cucunya, juga mendengar kabar bahwa Safira yang harus bed rest.


"Oma... Opa...!!!" sapa ketiga anak kembar itu saat melihat mobil tuan Ardan dan nyonya Sita parkir di depan rumah mereka.


Dengan gerakan cepat, tuan Ardan segera menghampiri mereka dan mengangkat tubuh Raiyan dan Dayyan, sedangkan Qirani memilih untuk memeluk Nyonya Sita.


"Opa, Oma, kami sangat merindukan kalian. Kenapa kalian baru datang kemari?" rajuk Qirani.


"Maafkan Oma dan Opa, kami terlalu sibuk hingga membuat kalian menunggu" ucap Nyonya Sita pada ketiga cucunya.


Mereka pun masuk ke dalam rumah Safira bersama-sama, Ni Eti menyambut kedatangan orang tua Arselo itu dengan baik.


"Nini gimana kabarnya?" tanya Nyonya Sita, saat ini mereka sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Alhamdulillah, Nini sehat. Bagaimana dengan keadaan kalian?" tanya Nini Eti pada Nyonya Sita dan tuan Ardan.


"Alhamdulillah, kami juga baik, Ni" jawab nyonya Sita, sedangkan tuan Ardan sudah sibuk dengan cucu-cucunya.


"Oh iya Ni, gimana keadaan Safira saat ini? Apa dia masih merasakan kram di perutnya?" tanya Nyonya Sita karena merasa khawatir setelah mendengar cerita dari Arsela.


"Keadaan Safira saat ini sudah lebih baik dari kemarin pagi, bahkan tadi pagi juga ia sarapan dengan lahap. Biasanya Safira akan merasa mual saat baru beberapa suap saja, tetapi pagi ini saya melihat jika piring yang Arselo bawa sudah bersih dan Safira pun tidak terdengar mual-mual lagi" jawab Ni Eti.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Saya sempat merasa khawatir karena keadaan Safira yang seperti itu. Apakah dulu saat Safira hamil si kembar tiga mengalami morning sickness juga?" tanya Nyonya Sita yang ingin tahu cerita Safira dulu.


Ni Eti pun terdiam seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Seingat Nini, dulu Safira tidak mengalami hal seperti ini. Bahkan ia malah seperti orang yang tidak hamil sama sekali, karena tidak ada tanda-tanda yang mencolok seperti sekarang. Safira juga sering bekerja di sawah maupun memetik daun teh, tapi selama itu ia baik-baik saja" jawab Ni Eti setelah mengingat kejadian tujuh tahun lalu.


"Oh, begitu ya. Berarti bayi yang ini termasuk special. mudah-mudahan Safira dan janinnya tetap sehat sampai waktunya dilahirkan" ucap tuan Ardan di sela-sela kesibukannya bermain bersama si kembar tiga.


"Amiin" jawab Ni Eti dan Nyonya kita bersama-sama.


"Apakah saya boleh menengok Safira?" tanya Nyonya Sita lagi.


"Tentu saja, mari saya antarkan ke kamarnya" jawab Ni Eti sebelum ia berdiri dari duduknya.


"Terimakasih, Ni" ucap nyonya Sita sambil ikut berdiri bersama tuan Ardan. Sedangkan anak-anak kembali bermain di halaman samping rumah itu bersama Anisa.


Tok... tok... tok...


Ni Eti mengetuk pintu kamar Safira yang tertutup, sebelum ia membukanya


Safira yang semulanya sedang berbaring, ia segera duduk dengan perlahan saat melihat kedatangan Nyonya Sita dan tuan Ardan.


"Tidak perlu duduk Fira" cegah Nyonya Sita saat melihat Safira yang sedang berusaha untuk duduk dari posisi tidurannya.


"Kami sampai belum lama, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Nyonya Sita penuh dengan perhatian.


"Alhamdulillah, sekarang saya sudah tidak merasa sakit lagi. Mungkin karena dokter Arsela memberikan obat yang bagus untuk saya" jawab Safira.


"Kamu tidak perlu memikirkan tentang obat lagi, karena apapun yang kamu butuhkan akan kami sediakan" ucap tuan Ardan yang mendapat anggukan dari Nyonya Sita.


"Terima kasih Om, tante, karena sudah sangat baik terhadap saya" ucap Safira dengan tulus.


"Tidak apa-apa Fira, kami menyayangi mu dengan tulus" jawab Nyonya Sita.


"Fira, jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu, kamu boleh menceritakannya pada kami. Jangan sampai kamu memendam semua kesedihanmu sendirian. Kamu juga boleh menganggap kami sebagai orang tuamu. Dan jika tidak keberatan, kami ingin kamu memanggil kami dengan sebutan mama dan papa, pasti kami akan merasa sangat bahagia jika kamu mau melakukannya" ucap nyonya Sita dengan raut wajah bahagia.


Mendengar penuturan Nyonya Sita, membuat Safira merasa terharu, bahkan tanpa sadar ia meneteskan air matanya. Safira yang sudah lama tidak merasakan kasih sayang orang tua, dia merasa sangat bahagia. Meskipun tidak memungkiri jika Ibu Resti dan pak Bambang pun memang menyayanginya, tapi jarak yang jauh cukup membuat Safira masih merasa sendirian.


"Terimakasih Om, Tante. aku sangat bahagia mendengar ucapan kalian" ucap Safira seraya mengusap air yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Sekarang kamu harus panggil kami dengan sebutan mama dan papa, karena usia mu ada di bawah arsela mungkin lebih cocok menjadi adiknya. Apa kamu tidak keberatan?" tanya tuan Ardan.


"Tidak apa-apa Om–"


"Papa, Fira. Panggil dia papa" ralat nyonya Sita.


"Tidak apa-apa, Pa–pa" ucap Safira dengan gugupnya.


"Nah seperti itu" ucap nyonya Sita sambil memeluk Safira.


Tuan Ardan dan Ni Eti yang melihat itu merasa terharu dan bahagia.


"Semoga kesehatanmu kembali pulih, Fira. Ingatlah yang Sela katakan, kamu jangan terlalu banyak fikiran" ucap tuan Ardan.


"Iya papa, aku akan memikirkan hal yang positif mulai dari sekarang" jawab Safira tersenyum manis pada sepasang orangtua angkatnya dan juga Ni Eti.


Setelah cukup lama mengobrol, Nyonya Sita dan tuan Ardan pun pamit undur diri. Mereka juga sempat bermain bersama ketiga cucunya.


Safira merasa bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, meskipun ia sudah kehilangan orang sangat berarti bagi hidupnya, tapi semua itu sudah tergantikan dengan kehadiran orang-orang yang sangat menyayanginya.


"Mas, ijinkan aku untuk melangkah menuju kebahagiaan itu, aku tidak akan pernah melupakanmu. Karena kamu adalah orang yang sangat berarti bagi ku. Kamu sudah mempunyai posisi di hati ku yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun. Mulai dari sekarang, aku akan belajar mengikhlaskan kepergian mu" batin Safira saat sudah melihat tuan Ardan dan nyonya Sita pergi dari rumahnya.


Ni Eti yang melihat Safira terdiam dengan mata menerawang jauh, merasa khawatir, lantas ia pun segera menghampiri Safira dan memeluknya.


"Fira, kau tidak apa-apakan?" tanya Ni Eti.


"Fira gak apa-apa Ni, Fira baik-baik saja" jawab Safira sambil balas memeluk Ni Eti.