
Langit begitu gelap, hujan rintik mengiringi proses pemakaman Abizar. Banyak orang-orang yang mengantar kepergiannya, bahkan orang-orang di desa yang mengetahui Abizar tak menyangka jika ia akan pergi secepat itu.
Safira mengikuti semua proses itu dengan diam, masih tak ada air mata di sana. Arsela dan Caca tak sedikit pun menjauh darinya, ni Eti juga terpukul karena di tinggal cucu kesayangannya dan lebih sedih ketika melihat Safira yang hanya diam saja.
"Nak, sadar Fira. Kamu harus kuat demi anak-anak mu" ucap ni Eti sambil mengusap lengan atas Safira.
Saat semua orang yang ada di sana sudah mulai meninggalkan area pemakaman, dan hanya meninggal keluarga yang masih di sana tiba-tiba Safira mulai sadar dan menanyakan suaminya.
"Lho, kenapa aku ada disini? Nini juga ada di sini ya?" tanya Safira tiba-tiba.
Semua orang yang ada di sana memandang Safira aneh.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Bukankah kita sedang bahagia karena hari ini ulang tahun si kembar?" tanya Safira lagi pada bu Resti dan pak Bambang.
"Fira, kamu kenapa seperti ini nak?" tanya bu Resti dengan khawatir.
"Oh iya, aku harus segera menemui mas Abi dan anak-anak. Aku punya kejutan spesial untuk mereka" ucap Safira dengan antusias.
Semua orang yang masih di sana memandang Safira dengan sedih.
"Ni, ayo kita pulang. Mas Abi akan marah jika aku pergi lama-lama darinya" ucap Safira lagi.
"Fira, sadar nak. Abizar sudah tidak ada! Lihat di hadapan mu itu" tunjuk ni Eti pada sebuah batu nisan di sana.
Safira menggelengkan kepalanya keras-keras.
"Ngga ni, mas Abi gak akan pernah ninggalin aku secepat ini! Jangan mengada-ngada, mas Abi masih ada di rumah dan sedang menungguku pulang" kukuh Safira.
Bu Resti tidak bisa berkata apa-apa melihat menantunya yang seperti kehilangan akal seperti itu.
"Fira, dengar ibu nak! Abi sudah tidak ada, kamu harus terima kenyataan itu!!!" ucap bu Resti sambil mencoba memeluk menantunya itu.
"Ngga bu, kalian bohongkan? Aku tahu kalian pasti sedang merencanakan sesuatu untuk membuatku terkejut, itukan kebiasaan bang Abi. Kali ini aku gak akan terpengaruh" ujar Safira sambil mencoba berontak saat bu Resti memeluknya.
"Fira kamu harus kuat na, bapak tahu kalau kamu pasti bisa lewatin ini semua" ucap pak Bambang.
"Ngga pak, kenapa bapak ikut-ikutan mengerjai ku seperti ini?" tanya Safira pada pak Bambang.
Sedetik kemudian Safira seperti melihat seseorang yang tengah memandangnya dengan tatapan sedih di balik sebuah pohon rindang.
"Mas Abi, ayo kita pulang mas. Aku punya kejutan buat kamu!" teriak Safira ke arah pohon rindang yang berada tak jauh dari tempat makam suaminya itu.
Semua orang begitu terkejut dengan ucapan Safira, mereka pun melihat ke arah sana tapi tak menemukan apa-apa.
"Fira, sadar nak. Abi udah gak ada, kamu jangan seperti ini sayang!" ucap ni Eti yang tidak tega lihat sikap Safira yang seperti itu.
"Mas Abi ada ni, dia sedang memandang kita disini" jawab Safira cepat.
Sofyan yang sudah tidak tahan dengan Safira yang seperti itu, langsung maju ke depan dan memukul tengkuk Safira hingga membuatnya pingsan di tempat, untung saja Arselo bisa menopang tubuh Safira lagi hingga tidak terjatuh ke tanah.
Semua orang yang ada di sana terkejut dengan tindakan yang Sofyan lakukan.
"Maaf tuan muda, saya hanya tidak tega melihat nyonya Safira seperti itu. Sekarang lebih baik kita membawanya pulang supaya nyonya Safira bisa beristirahat" jawab Sofyan.
"Sofyan ada benarnya juga nak El, ayo kita bawa Safira pulang ke rumah nini" ucap ni Eti sambil mengusap lengan atas Safira yang sedang pingsan.
Setelah itu semua orang yang ada di sana pun mulai pergi meninggalkan area pemakaman.
***
"Fira, maafkan aku karena tidak bisa menemani mu lebih lama dari ini, bukannya aku tidak mau tapi karena waktuku yang sudah habis terlebih dahulu. Aku harap kamu bisa menjalani kehidupan yang lebih baik meskipun tanpa ku. Jaga baik-baik anak-anak kita, sampaikan pada mereka bahwa aku sangat menyayanginya, dan sampaikan maaf ku juga padanya karena tidak bisa mendampinginya. Aku juga titip anakku, aku sudah menduga tentang kehadirannya, aku menyesal karena harus meninggalkan mu seperti ini.
Fira, aku tidak akan meminta mu untuk kembali bersama Arselo, karena aku tidak mengetahui hatimu terhadapnya. Aku hanya berharap kau dan semua anak-anak kita bahagia, sekali lagi aku minta maaf"
Sayup-sayup Safira seperti mendengar seseorang yang sedang berbicara padanya, bayangan putih berdiri disampingnya. Tapi saat Safira benar-benar membuka matanya, bayangan itu hilang.
"Ni, mas Abi mana?" tanya Safira saat ia benar-benar sudah sadar, meskipun tengkuknya masih terasa nyeri tapi dia memaksakan diri untuk bangun dari pembaringan.
Semua orang yang sedang berkumpul di rumah ni Eti pun merasa sedih dengan keadaan Safira yang masih menanyakan keberadaan suaminya.
"Mama"
"Mama, gak apa-apa?"
"Mama baik-baik aja kan?" tanya si kembar beruntun.
"Kalian liat papa gak? Mama cari-cari kenapa gak ketemu?" tanya Safira pada ke tiga anaknya.
Dayyan langsung memeluk mamanya dan menangis di pelukan Safira, begitupun Raiyan dan Qirani ikut memeluk mamanya.
"Mama kenapa seperti ini?" tanya Dayyan dengan tangisannya.
"Mama gak apa-apa bang, mama cuma tanya papa kalian aja" jawab Safira masih kukuh.
Dayyan yang tidak mengerti dengan keadaan mamanya, kembali ke duduk di dekat Caca, di ikuti ke dua adiknya yang lain.
Ni Eti sangat prihatin, ia tidak menyangka jika Safira akan berada di kondisi saat ini, dimana mentalnya down dalam keadaan hamil muda, ia takut terjadi sesuatu padanya dan juga pada calon cicitnya.
"Fira, sini nak" panggil ni Eti menyuruh Safira agan duduk di dekatnya, dan Safira pun mengikuti perintah ni Eti.
"Fira kamu harus kuat, kamu harus bisa menghadapi kenyataan bahwa Abizar sudah tiada. Kuatlah sayang demi anakmu dan juga calon bayi mu" ucap ni Eti lembut sambil menggenggam tangan Safira.
"Ngga ni, tadi pas aku sedang tidur mas Abi datang, ni. Mas Abi bilang..." kata-kata Safira terpotong kala ia mengingat semua perkataan Abizar dalam mimpinya.
Seketika itu juga tangis Safira pecah, ia masuk ke kamar yang dulu di tempatinya. Safira menangis sendirian di sana.
"Mas, kenapa kamu tinggalin aku seperti ini? Mana janji kamu yang akan selalu ada buat kami? Mas sekarang aku sedang mengandung buah hati kita! Tapi kenapa kamu malah pergi sebelum ia lahir?" tanya Safira pada angin yang berhembus karena jendela kamar itu terbuka.
"Fira, kamu harus sabar. Kamu harus kuat, aku yakin kamu bisa lalui cobaan ini dengan ikhlas. Mungkin aku tidak sebaik Abizar, tapi ijinkan aku menggantikan perannya untuk kalian. Dan aku janji akan mencari otak dan dalang dari semua ini" ucap Arselo yang tiba-tiba sudah ada di samping Safira seraya menyentuh bahu Safira.