
Operasi Vivi berjalan lambat, butuh waktu sekitar hampir empat jam lamanya dokter itu mengeluarkan bayi dari dalam perut Vivi, terlalu beresiko dan keadaan bayinya juga sudah sangat lemah saat itu, saat itu pun Vivi sempat mengalami syok yang menyebabkan detak jantungnya melemah.
Para dokter sangat bersusah payah saat menangani Vivi, dan beruntung di saat-saat terakhir nyawa Vivi masih bisa di selamatkan. Setelah menunggu sekitar dua belas jam pertama, barulah Vivi siuman.
"Engggh" suara Vivi yang mulai tersadar.
"Nyonya, anda sudah siuman?" tanya perawat yang terus memantau perkembangan kesehatan Vivi.
Vivi membuka matanya, ia hanya melihat dinding langit-langit berwarna putih dan ruangan khas bau obat-obatan.
"Suster, saya kenapa?" tanya Vivi setengah sadar.
"Anda baru saja selesai menjalani operasi nyonya" jawab suster itu.
Vivi kemudian tanpa sadar meraba perutnya yang sudah mengecil.
"Suster kemana bayi saya? Kapan saya melahirkan? Kenapa kalian mengeluarkan bayi ku? Padahal belum waktunya dia untuk lahir" ucap Vivi sambil menarik baju lengan suster itu.
Suster yang kewalahan dengan amukan Vivi segera memencet tombol darurat yang berada dekat dengan kepala ranjang pasien.
"Nyonya, tenanglah. Kami hanya berusaha menyelamatkan anda dan bayi anda" ucap suster itu.
"Bagaimana saya bisa tenang? Bayi itu adalah jaminan hidup saya!" teriak Vivi di depan wajah suster itu.
"Nyonya, saya harap anda tenang, kami akan menjelaskan semuanya" jawab suster itu. Hingga dokter yang menangani Vivi pun datang.
Perawat yang datang bersama dokter itu segera menyuntikan obat penenang pada infusan Vivi, tak lama kemudian Vivi mulai tenang dan membiarkannya beristirahat.
Vivi tidak benar-benar tertidur saat itu, ia masih berusaha mengingat-ingat apa yang kemarin dia alami.
"Bagaimana bisa bayi itu di keluarkan tanpa sepengetahuanku?" gumam Vivi.
"Bagaimana ini, Arselo pasti akan sangat marah saat dia tahu jika aku sudah memalsukan hasil tes DNA saat itu?" gumam Vivi gelisah.
"Aku harus kabur dari sini, tapi bagaimana dengan nasib anak ku? Apa dia masih hidup? Apa anak ku laki-laki atau perempuan? Akh, bayi menyusahkan! Sudahlah aku tinggalkan saja dia di sini, males juga harus kabur-kaburan bawa bayi" gumam Vivi.
Setelah berfikir panjang, akhirnya Vivi nekat kabur dari rumah sakit itu, ia berhasil kabur dengan mengelabui perawat dan dokter yang berjaga di sana. Dia juga meninggalkan bayi merah yang bahkan belum dia ketahui jenis kelaminnya karena bayi itu sangat lemah dan dalam proses observasi di ruangan khusus yang arahnya bertolak dengan jalan keluar.
Vivi pergi dengan luka jahitan yang masih basah, demi menyelamatkan diri dari amukan Arselo, dia sampai rela menahan sakit di perutnya. Berjalan dengan perlahan, hingga ia bisa keluar dari kawasan rumah sakit itu dan segera menyetop taksi yang lewat, kini tujuannya hanya satu, dia harus menyembuhkan dirinya dulu baru dia akan menyusun rencana selanjutnya.
***
Masih di dalam rumah sakit dan hanya berbeda ruangan saja, Arselo sedang menatap bayi kecil yang berjenis kelamin perempuan yang kini tengah tertidur dengan selang dan kabel-kabel yang menempel di tubuh rapuhnya. Arselo menatap kasihan bayi itu. Ya sekarang dia tahu betul jawabannya, bayi itu bukan miliknya. Tangan Arselo mengepal kuat saat kala ia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
Flashback on
"Tuan, bisa ikut saya keruangan?" tanya dokter spesialis kandungan dan anak yang tadi ikut membantu persalinan Vivi.
"Bisa dokter" jawab Arselo.
"Mari silahkan ikuti saya" ucap dokter itu, Arselo pun mengangguk dan mengikuti dokter itu hingga masuk ke ruangannya. Setelah Arselo dan dokter itu duduk, beliau pun mulai menjelaskan.
"Tuan, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan" ucap dokter itu.
"Silahkan, dok. Akan saya dengarkan" jawab Arselo menganggukkan kepalanya.
"Bayi itu mengalami gagal ginjal, salah satu ginjalnya tidak berfungsi dengan baik, keadaan pernafasannya pun cukup memprihatinkan, saya tidak bisa menjamin berapa persen kemungkinan bayi itu akan bertahan hidup. Kemungkinan besar itu adalah efek dari gaya hidup yang kurang sehat dan selalu mengkonsumsi alkohol dengan terus menerus" terang dokter itu lagi.
Arselo merasa prihatin dengan kondisi bayi itu, mau meninggalkannya pun dia gak tega. Meskipun hatinya marah pada Vivi, tapi tidak pada bayi merah itu.
"Kenapa anda membiarkan ibu hamil untuk mengkonsumsi alkohol? Apa lagi itu adalah istri yang sedang mengandung anak anda, seharusnya anda bisa lebih menjaganya supaya kejadian seperti ini tidak terjadi" dokter itu memarahi Arselo.
"Maaf dokter. Sebelumnya saya sudah memperingatkan pada istri saya itu bahkan saya juga sudah menyewakan perawat untuk menjaganya" bela arselo yang tidak terima ditegur oleh dokter itu.
"Tolong lakukan yang terbaik dok, saya cukup kasihan pada bayi itu" sambung Arselo lagi.
Dokter itu sedikit heran dengan jawaban Arselo yang tidak seperti kebanyakan orang tua lain yang akan cemas dan khawatir akan kesehatan anaknya, dan Arselo hanya menampakan sikap simpati saja terhadap bayi itu.
"Maaf tuan, kenapa anda hanya berbicara seperti itu? bukankah bayi itu adalah anak tuan juga?" tanya dokter dengan sangat penasaran.
"Bukan dokter, bayi itu bukan anak saya. Karena saat saya menikah dengan istri saya dia sudah hamil terlebih dahulu, dan saya juga sudah melihat hasil tes DNA yang dia lakukan dengan beberapa pria lain termasuk saya dan hasil dari semuanya adalah negatif. Saya juga tidak mengetahui dengan pasti bayi itu milik siapa, tapi dokter tenang saja jika bayi itu sembuh saya yang akan merawatnya dengan baik" jawab Arselo panjang lebar.
Dokter yang terlalu bingung dengan ucapan Arselo pun tidak menanggapinya lagi, dan terus melanjutkan penjelasan yang harus dia sampaikan pada Arselo.
Flashback off
Arselo masih tetap berdiri di sana di depan kaca ruangan tempat bayi itu berada, untuk memperhatikan bayi merah yang sedang menggeliat kan badannya.
"Kasihan sekali kamu nak, kamu harus terlahir dengan keadaan yang seperti ini. dan dari wanita yang tidak memiliki perasaan seperti Vivi" gumam Arselo.
Saat Arselo masih fokus melihat bayi itu tiba-tiba teleponnya berbunyi, Sofyan yang menghubunginya.
"Tuan maaf, perawat yang bertugas untuk menjaga nyonya Vivi mengatakan jika Nyonya Vivi sudah pergi meninggalkan rumah sakit ini dan tidak ada yang mengetahui dia pergi ke mana" lapor Sofyan pada Arselo.
"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah kondisi Vivi masih sangat lemah? kenapa bisa terjadi?" tanya Arselo dengan marah.
"Maaf tuan kami lengah, sehingga tidak menyadari jika nyonya Vivi sudah mengelabui kami" jawab Sofyan.
"Cepat cari wanita itu sampai ketemu! Aku tidak mau tahu! Temukan dia bagaimana pun caranya!" perintah Arselo dengan tegas