
Setelah menghampiri Erika yang berada di lapas, Arselo menjalankan mobilnya menuju rumah, ia ingin membersihkan diri dulu sebelum kembali lagi ke rumah sakit bersama anak-anaknya nanti.
Ia sudah menyerahkan kasus Erika pada pengacara yang sudah ia ditugaskan, Arselo juga meminta agar Erika dihukum seberat-beratnya atas perbuatan yang sudah ia lakukan pada Safira.
Meskipun keluarga Erika tadi sempat menemuinya untuk meminta maaf, tapi tetap saja Arselo tidak meringankan hukuman yang akan membebankan Erika.
Bukannya dia tidak kasihan pada keluarga Erika, apalagi saat ia tahu jika Erika adalah tulang punggung bagi keluarganya dan ia juga menanggung biaya pengobatan sang adik yang masih dirawat di rumah sakit, tapi itu semua tidak merubah keputusan Arselo.
Flashback on
Saat Arselo masih berada di dalam ruangan penyidik, Ibu Erika meminta untuk berbicara dengannya.
"Tuan, saya mohon maafkan semua perbuatan yang sudah dilakukan oleh Erika terhadap anda dan juga keluarga, dia seperti itu karena sudah kehilangan kasih sayang dari ayahnya. Ini juga salah saya karena tidak bisa mendidik Erika dengan baik" sesal Ibu Erika.
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak bisa memaafkan tindakan yang sudah Erika lakukan terhadap teman saya, apalagi dia hampir membahayakan bayi yang ada dalam kandungannya dan sekarang pun teman saya masih belum sadarkan diri" ujar Arselo.
"Tapi, Tuan, Erika adalah tulang punggung keluarga kami. Saya sudah tidak bisa bekerja keras seperti dulu lagi karena usia saya sudah semakin renta, sedangkan biaya pengobatan adiknya Erika tidak ada yang menanggung selain dia" mohon Ibu Erika.
"Bu, apa Ibu tahu, waktu saya memecat Erika beberapa bulan yang lalu, saya memberikan uang pesangon yang cukup besar, andai saat itu Erika menggunakannya dengan bijak kemungkinan uang itu akan berlipat ganda dan tidak habis sia-sia seperti saat ini" jawab Arselo.
"Tuan, saya mohon kemurahan hati anda" tekan Ibu Erika.
"Bu, sekali lagi saya tidak bisa mengabulkan permohonan ibu tentang peringatan hukuman yang akan Erika jalani, itu sudah sesuai dengan apa yang dilakukannya. Lagipula, Erika tidak hanya bersalah pada saya, tapi dia sangat bersalah pada teman saya" jawab Arselo lagi.
"Tapi, Tuan–"
"Tolong Ibu jangan terus membela anak Ibu yang bersalah, biarkan dia bertanggung jawab dengan semua perbuatannya" ucap Arselo yang sudah mulai kesal pada Ibu Erika.
Setelah mengatakan itu Arselo pun pergi dari ruangan penyidik meninggalkan Erika dan Ibunya.
Flashback off
"Biar bagaimanapun dia harus menanggung semua akibat dari kesalahannya" gumam Arselo yang berbicara sendiri.
Dia masih sangat kesal pada Erika, andai saja dia tidak mengendalikan emosinya mungkin Erika sudah habis dipukuli olehnya.
Sepanjangan perjalanan, Arselo terus mengumpatinya. Dia ingin segera sampai di rumah untuk mendinginkan otaknya yang sudah sangat panas dan juga dada yang bergemuruh karena amarah.
Sesampai dirumahnya Arselo langsung bergegas menuju kamar dan segera berlalu memasuki kamar mandinya, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin hingga beberapa saat. Setelah merasa lebih baik, barulah ia mandi dengan benar.
Tak berapa lama kemudian, Arselo pun selesai dengan ritual mandinya dan segera bersiap untuk kembali lagi ke rumah sakit.
"Tuan, Nyonya Sita menyuruh saya untuk menitipkan makanan ini pada anda" ucap Mbok yang bekerja di rumah Arselo sambil mengulurkan rantang makanan.
"Baik, Mbok. Saya pergi dulu" pamit Arselo
Kali ini Arselo memilih untuk diantarkan oleh sopir, ia terlalu lelah karena sudah menyetir dari tadi, ia juga kurang beristirahat hingga membuatnya terus menguap.
"Pak, mampir ke rumah Safira dulu, saya akan mengajak anak-anak ke rumah sakit" pesan Arselo pada sang sopir.
"Baik, Tuan" jawab sopir itu seraya mengambil arah menuju alamat rumah Safira.
Benar saja, saat ia baru sampai di sana, anak-anak sudah menunggu kedatangannya.
"Papa, kenapa lama sekali?" rajuk Qirani, ia kesal karena sudah tidak sabar untuk pergi menemui Mamanya.
"Maafkan Papa, sayang. Papa ada urusan mendadak tadi" jawab Arselo mencari alasan.
"Iya, sayang. Papa minta maaf karena sudah membuat kalian menunggu lama" sesal Arselo.
Ketiga anak itu pun mengangguk untuk mencoba memahami alasan sang Papa.
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang?" ajak Arselo yang langsung disetujui oleh anak-anak.
"Ayo, Pa. Kami sudah tidak sabar untuk bertemu Mama dan melihat Adik bayi" sahut Dayyan.
"Baiklah. Panggil Nini dulu, kita berangkat sekarang" ucap Arselo.
"Baik, Pa" jawab Raiyan, dia yang akan memanggil Ni Eti untuk ikut serta ke rumah sakit.
Setelah semuanya siap, barulah Arselo menyuruh sang sopir untuk menjalankan kendaraannya. Sepanjangan perjalanan, ketiga anak itu tampak riang gembira, mereka sesekali bercanda gurau dengan saudaranya.
Arselo membatin "Akan seperti apa reaksi mereka saat melihat Mamanya masih tidak sadarkan diri nanti?"
Ni Eti melihat tatapan sendu Arselo yang tertuju pada anak-anaknya.
"Nak El, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Ni Eti pada Arselo.
Arselo menanggapinya dengan senyuman tipis, entah apa yang harus ia katakan, kabar baik dan kabar buruk ia dapatkan tadi sebelum dirinya berangkat ke rumah sakit.
Ya, Arsela sempat menelponnya tadi, ia mengatakan jika Safira sudah melewati masa kritisnya, hanya saja sekarang yang ia mengalami koma. Kabar itu belum Arsela katakan pada Mama dan Papanya, dia baru mengatakan keadaan Safira pada Arselo saja.
"Aku belum tahu, Ni" jawab Arselo. Ia tidak ingin membuat Ni Eti sedih saat ini, biar dokter dari pihak rumah sakit saja yang mengatakan semua itu pada keluarganya.
"Semoga saja Safira segera bangun dari tidurnya, kasihan cicit ku" gumam Ni Eti pelan.
"Ya, semoga saja, Ni" jawab Arselo.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai di pelataran rumah sakit. Arselo segera menuntun ketiga anak itu agar tidak terlepas dari genggaman tangannya. Mereka berjalan bersama menuju ruangan tempat Safira dirawat.
Ceklek...
Arselo membuka pintu ruangan itu, di sana sudah ada Bu Resti dan Pak Bambang, begitupun Mama papanya masih menemani Safira.
"Kamu sudah datang, El?" tanya Mamanya.
"Hmmm, ia, Mam" jawab Arselo lirih.
Anak-anak segera menghampiri ranjang Safira untuk melihat keadaan Mama mereka.
"Mama, cepat sembuh. Kami sangat merindukan mu" ucap Dayyan.
"Iya, Ma, kami sudah sangat merindukan Mama. Kami berjanji tidak akan nakal lagi, tidak akan rebutan Adik bayi lagi" timpal Raiyan.
Qirani tidak mampu mengucapkan kata-katanya, ia sudah menangis saat masuk ke dalam ruangan itu.
"Qiran, tadi Kakak janji gak akan nangis, kan?" tanya Arselo pada putrinya.
"Tapi, Pa, Mama–"
"Mama pasti kuat, mungkin sekarang mama hanya ingin beristirahat dulu. Kalian yang sabar ya" ucap Arselo pada ketiga anak.
Seperti mengerti, akhirnya mereka pun mengangguk.