
"Safira Almaya, maukah kamu menikah denganku? Menghabiskan sisa umurmu denganku? Dan menua bersamaku?" tanya Arselo pada Safira seraya menggenggam kedua tangan Safira.
Sebelum memberikan jawaban, Safira menatap orang-orang yang ada di sana, seolah-olah ia meminta restu pada mereka, termasuk orang tua Abizar. Setelah ia melihat semua orang yang ada di sana mengangguk ia pun menyetujuinya.
"Iya, Aku mau, El." Safira menjawab seraya menganggukkan kepalanya. Mas Abi, meskipun sekarang aku sudah menerima cinta dari Arselo, tapi aku juga tetap mencintaimu karena kamu bukan orang yang bisa digantikan oleh siapapun, kalian adalah orang yang berbeda. Namun, kalian sama-sama tulus mencintaiku dan kalian juga sudah mempunyai tempat tertentu di hatiku. Terima kasih karena sudah mengajarkanku arti dari menghargai seseorang.
Ya, walau bagaimanapun, Abizar adalah orang pertama yang sudah mengajarkannya tentang ketulusan. Safira tahu, Arselo bukan Abizar, begitupun sebaliknya. Mereka adalah orang yang berbeda, bukan Safira tidak menghargai Abizar, atau menjadikan Arselo penggantinya. Ia benar-benar tulus untuk menjalani hidup bersamanya, dan meneruskan mimpinya yang sempat tertunda.
Arselo menarik nafasnya lega setelah ia mendengar jawaban dari Safira, "Terima kasih, Safira. Aku bahagia mendengarnya, aku tidak bisa menjanjikan sebuah kebahagiaan, tapi aku akan tetap berusaha untuk membuatmu dan anak-anak tetap bahagia," ujarnya.
"Kami sangat senang mendengarnya, Fira. Selamat, sekarang kami tidak akan lagi menghawatirkan mu dan anak-anak, ada nak El yang akan menjaga kalian nanti." Ni Eti berucap seraya memeluk Safira dia begitu senang saat Arselo mengatakan jika ia berencana untuk melamar Safira di hari ini
"Terima kasih, Ni. Apa kalian bekerjasama untuk menyiapkan semua ini?" tanya Safira pada mereka.
Arselo tersenyum, "Maaf, karena beberapa hari ini aku sudah mendiamkan mu. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya, hanya saja saat memikirkan mu aku selalu kehilangan konsentrasi," ucap Arselo.
Dengan lirih Safira bertanya, "Apa aku begitu mengganggu mu?"
Dengan cepat Arselo menampik ucapan Safira, "Tidak, Fira. Bukan seperti itu, mungkin karena aku terlalu mencintaimu, jadi aku selalu kehilangan fokus saat memikirkan mu."
Safira tersenyum mendengar penuturan Arselo, ia tidak menyangka jika Arselo akan berfikir seperti itu. Selama ini Arselo memang sudah menjadi sosok seorang ayah untuk anak-anaknya, tapi ia hanya berfikir jika itu adalah kewajibannya sebagai orang tua saja.
Setelah acara lamaran dadakan itu selesai, mereka pun melanjutkan dengan cara potong kue dan makan bersama. Suasana di sana begitu ramai, anak-anak juga tidak kalah bahagia saat mereka tahu jika kedua orang tuanya akan menikah dan akan tinggal bersama.
"Oma, benarkah yang Aunty katakan tadi? Papa dan Mama akan tinggal bersama setelah menikah?" tanya Qirani dengan antusias.
"Tentu saja, sayang. Apa Kakak senang?" Nyonya Sita bertanya seraya mengusap wajah Qirani dengan lembut.
Qirani menganggukan kepalanya, "Aku senang mendengarnya, Oma. Nanti Aku, Abang Day, Abang Rai, dan Adek Divya gak perlu jauh-jauh lagi kalau kangen sama Papa," jawabnya dengan cepat.
Nyonya Sita dan Tuan Ardan tersenyum mendengar jawaban dari cucu mereka.
"Iya, nanti Kakak, Abang, dan Adek gak akan kesepian lagi, kan ada Papa El," timpal Pak Bambang yang di setujui oleh Bu Resti.
"Nak El, terima kasih karena sudah menyayangi Divya. Meskipun kamu bukan ayah kandungnya, tapi dia bisa begitu dekat denganmu," ucap Bu Resti yang melihat Divya sedang bermanja-manja di pangkuan Arselo.
Arselo tersenyum, ia mengalihkan pandangannya dari Divya untuk menjawab ucapan Bu Resti, "Tidak, Bu. Aku yang berterima kasih karena kalian sudah mengizinkanku untuk menjadi Ayah sambung bagi Divya." Arselo kembali mengarahkan perhatian pada bayi perempuan itu karena dia mulai merengek.
Pak Bambang dan Bu Resti tersenyum mendengar ucapan Arselo, mereka sangat lega saat mengetahui jika Arselo akan melamar Safira. Ya, Arselo juga meminta izin pada mereka untuk mempersunting wanita yang menjadi ibu dari ketiga anak-anaknya, karena apapun alasannya, Safira pernah menjadi menantu mereka.
Terima kasih, Tuhan. Engkau pernah memberikan cobaan yang berat padaku, andai dulu aku memilih untuk menggugurkan kandungan pertamaku, mungkin aku tidak akan pernah merasakan hal yang sekarang kurasakan. Mungkin dulu aku tidak akan pernah bertemu dengan orang-orang baik dan menghargaiku, yang menyayangiku dan tulus padaku.
Safira terus memperhatikan keluarga itu. Semua yang ada di sana, kini sudah menjadi keluarganya sendiri, bagi Safira mereka adalah orang-orang baik yang sangat tulus menyayanginya dan juga melindunginya, ia sangat bersyukur karena sudah dipertemukan dengan orang-orang baik seperti mereka.
"Fira, kenapa kamu melamun?" tanya Arsela yang mengetahui jika Safira hanya diam dan memperhatikan orang-orang yang berada di sana.
"Saya sedang bahagia, Dok. Dulu saya tidak pernah berani bermimpi seperti ini, anda tahu sendiri bagaimana sulitnya saya dulu." Safira menerawang mengingat saat mereka sedang di desa dulu.
Arselo sekarang sudah berani menatap Safira secara terang-terangan, ia tidak lagi hanya mencuri pandang lagi.
"Ehemm, Ma, sepertinya kita perlu mempercepat tanggal pernikahan Arselo," ucap Tuan Ardan pada Nyonya Sita.
Nyonya Sita merasa heran, ia menatap sang suami, "Papa kenapa?"
"Tuh." Tuan Ardan menunjuk dengan dagunya ke arah Arselo yang sedang terus menatap wajah Safira hingga membuatnya salah tingkah.
Nyonya Sita pun mengangguk menyetujui perkataan suaminya untuk langsung menentukan tanggal pernikahan Arselo dan Safira.
"Permisi semuanya!" Nyonya Sita meminta perhatian dari orang-orang yang sedang berkumpul di sana.
"Nini, Bu Resti dan Pak Bambang, sebelumnya kami ingin minta izin pada kalian. Bagaimana jika kita langsung menentukan tanggal pernikahannya?" tanya Nyonya Sita pada semua orang yang ada di sana.
Safira cukup terkejut dengan penuturan Nyonya Sita, ia tidak menyangka jika tanggal pernikahannya pun akan ditentukan sekarang.
"Bagaimana Fira, apa kamu setuju jika kita tentukan tanggal pernikahannya sekarang?" tanya Bu Resti yang duduk di kursi sebelah Safira.
"Apa harus secepat itu, Bu?" tanya Safira.
"Kami terserah kamu saja, Nak," jawab Bu Resti.
Safira bingung sendiri, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Fira, kamu gak perlu merasa terbebani. Aku siap menunggu sampai kamu siap untuk menikah denganku," ucap Arselo yang melihat Safira gelisah.
Safira tersenyum mendengar ucapan Arselo, dia tidak menyangka jika Arselo akan berbicara seperti itu, tapi ia juga merasa kasihan dan tidak enak hati jika Arselo harus kembali menunggunya.
"Terima kasih, El. Aku sudah memutuskan untuk ikut saran Mama saja. Bagaimana menurut Mama?" Safira bertanya pada Nyonya Sita.
"Apa kamu benar-benar tidak keberatan jika kami yang menentukannya?" Nyonya Sita kembali bertanya karena khawatir Safira merasa terpaksa.
"Tidak, Ma. Aku akan mengikuti saran kalian," jawab Safira dengan yakin membuat Arselo mengembangkan senyumnya. Tentu saja ia bahagia, siapa yang tidak senang jika hari bahagianya di percepat.
"Baiklah, karena Safira sudah setuju, bagaimana jika pernikahan itu di gelar tiga minggu lagi?" tanya tuan Ardan meminta pendapat mereka.
Semua orang menatap ke arah Safira, termasuk anak-anak juga ikut menoleh ke arahnya.
Sedangkan Safira sendiri merasa malu karena di tatap banyak orang. Dengan malu-malu, ia pun menganggukkan kepalanya, "Iya. Aku bersedia," jawab Safira pelan, tapi membuat hati Arselo berbunga-bunga.
"Terima kasih, Fira." Arselo kembali berucap.
"Iya, sama-sama, El," jawab Safira sembari menunduk.
Setelah itu, semua orang pun berpamitan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Arselo juga mengantarkan Safira dan anak-anak ke rumahnya, sedangkan Ni Eti sudah pulang bersama Caca menggunakan mobil lain.