Love For My Three Twins

Love For My Three Twins
Eps 75



Malam ini Arselo duduk sendirian menikmati malam tenang di cottage-nya, semua anggota keluarganya yang lain sudah kembali ke kota tadi sore saat Arselo baru pulang dari rumah ni Eti untuk membantu Safira menjaga anak-anak mereka. Ya meskipun ketiga anak itu pintar untuk menjaga dirinya tapi tetap saja Arselo tidak sepenuhnya mempercayai mereka.


Entah kenapa pembicaraan Dayyan, Raiyan dan ni Eti tadi pagi sedikit membuatnya terganggu.


Flashback on


Arselo berniat untuk menghampiri Dayyan dan Raiyan yang sedang membantu ni Eti di dapur, tapi saat ia baru berada di depan pintu dapur, Arselo sempat mendengar pembicaraan ketiga orang itu.


"Ni, kenapa kami mempunyai dua papa?" tanya Dayyan.


"Memangnya kenapa kalau kalian mempunyai dua papa?" Tanya balik ni Eti.


"Teman-teman papanya hanya punya satu, tapi kenapa kami punya dua?" tanya Raiyan.


Ni Eti tersenyum dengan pertanyaan kedua bocah laki-laki itu.


"Itu karena kalian spesial" jawab ni Eti.


Kedua anak laki-laki itu kebingungan sampai mengerutkan kening mereka.


"Apa karena kami kembar tiga ni?" tanya Dayyan mulai menebak.


"Bukan sayang, itu karena mama kalian pernah menikah dengan papa El sebelumnya" jawab ni Eti.


"Terus kenapa mama dan papa El berpisah? Dan kenapa papa El tidak mengetahui kami sebelumnya? Bahkan dulu juga pernah bertemu, tapi kami hanya memanggilnya dengan sebutan "Om", dan papa juga tidak pernah mencari tahu tentang keberadaan kami sebelumnya" ucap Raiyan dengan ekspresi murung.


Ni Eti merasa bingung harus menjawab seperti apa pada anak-anak pintar itu, ada gurat kesedihan yang nampak pada wajah Raiyan saat mengutarakan pertanyaannya tadi.


"Ada suatu hal yang menyebabkan perpisahan mama dan papa El dulu, sekarang belum waktunya kalian untuk mengetahui masalah itu. Kalian masih ingatkan ucapan papa Abi saat itu? Yang mengatakan jika kalian harus tetap menyayangi dan menghormati papa El apapun kondisinya. Mungkin dulu papa El pernah melakukan kesalahan terhadap mama dan kalian, tapi sekarang cobalah kalian untuk memberi papa kesempatan agar bisa memperbaiki kesalahan yang pernah ia perbuat dulu" ujar ni Eti sedikit menasehati kedua bocah laki-laki itu.


"Tapi ni, aku gak tahu harus berbuat apa sama papa El. Aku terbiasa cerita sama papa Abi, tapi sekarang papa Abi udah tinggalin kita" ucap Dayyan mulai menangis lagi.


"Kalian bisa cerita apapun pada papa El, kalian juga bisa minta sesuatu sama papa El kalau ada yang kalian inginkan. Perlakukan papa El seperti kalian memperlakukan papa Abi" jawab ni Eti sambil mengelus kepala kedua anak itu.


"Tapi ni, papa El kan bukan papa Abi. Bagaimana bisa disamakan?" tanya Raiyan.


"Bukannya kamu paling dekat sama papa El ya?" tanya Dayyan pada adik laki-lakinya itu.


"Aku hanya suka dan nyaman saja dengan papa El" jawab Raiyan dengan santainya.


"Sama saja" ucap Dayyan.


"Sudah, jangan malah ribut di sini. Intinya kalian tetap harus menyayangi dan menghormati papa El, kalian harus cerita apapun padanya, seperti kalian biasa cerita pada papa Abi dulu" ujar ni Eti menengahi adu mulut dua saudara yang baru saja akan di mulai.


Arselo tidak jadi menemui ke dua anak laki-lakinya itu tadi pagi. Bukan apa-apa, hanya saja hatinya sedikit tersentil dengan percakapan anak-anaknya tadi.


Flashback off


Mengingat itu, Arselo merasa sedih kerena nyatanya anak-anaknya belum sepenuhnya menerima kehadirannya.


Saat Arselo akan kembali masuk ke kamarnya, tiba-tiba ponsel yang ada di saku celananya berbunyi, ia pun mengambil dan menerima panggilan itu tanpa melihat ID pemanggilnya.


"Halo"


"El, gue nemuin info tentang orang yang udah bikin keributan waktu itu" ucap seseorang di seberang sana.


"Serius loe? Apa ini ada hubungannya dengan Devi dan Vivi?" tanya Arselo dengan tidak sabarnya.


"Kemarin gue sempat mendatangi mereka di kantor polisi, tapi mereka berdua gak mengaku" jawab seseorang itu.


"Kira-kira siapa orangnya?" tanya Arselo lagi.


"Gue masih mendalami kasus ini, gue rasa masalah ini cukup rumit dan perlu memakan waktu. Tapi lo tenang aja, sebisa mungkin gue selesaikan secepatnya" jawab orang itu lagi.


"Oke gue tunggu kabar selanjutnya" ucap Arselo sebelum ia memutuskan panggilan itu.


Arselo menarik nafasnya dalam, sedikitnya ia merasa pusing dengan permasalahan yang ia hadapi.


"Aku harap masalah ini cepat terselesaikan. Aku ingin Safira merasa lega atas kematian suaminya itu" batin Arselo.


***


Lagi-lagi Safira malam ini tidak bisa tidur, mungkin karena efek tadi siang seharian ia terbaring, jadi saat malam hari ia tidak bisa memejamkan matanya.


"Aku harus apa? Kenapa aku tidak bisa tidur lagi?" gumam Safira kesal pada dirinya sendiri.


Krucuk... krucuk... krucuk... (anggap saja bunyi perut yang keroncongan 🤭🤭🤭)


"Uh, ternyata aku laper. Pantas saja sampai tidak bisa tidur" gumam Safira lagi, meskipun kenyataannya Safira tidak terlalu merasa lapar.


Safira melangkahkan kakinya menuju dapur, ia mencari sesuatu untuk bisa dimakan olehnya. Tapi saat ia membuka tudung saji, tak ada makanan yang diinginkannya. Saat ini Safira sangat menginginkan seporsi bakso yang tidak terlalu pedas.


"Baru jam 11 malam, tapi kayaknya tukang bakso udah gak ada jam segini" gumam Safira sambil duduk di bale-bale yang ada di dapur.


Safira kembali ke kamarnya untuk mencoba menelpon seseorang, ia berharap orang itu mau mencarikan apa yang dia mau saat ini.


"Aku mohon... Ayo angkat teleponnya" ucap Safira pelan sambil menggigiti ujung kukunya.


Hingga panggilan yang ketiga, orang itu tidak menerima telepon darinya. Safira merasa kesal dan melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur, dia pun menangis pelan di sana.


"Mas, andai aja kamu ada disini, pasti kamu akan segera menuruti permintaan ku saat ini" lagi dan lagi Safira hanya mengingat suaminya.


Hingga beberapa saat kemudian ia hampir terlelap, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah ni Eti dari luar. Safira bermaksud untuk melihatnya dari jendela, tapi tak terlihat kerena lampu luar itu mati dan belum sempat untuk menggantinya


"Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini?"