
Safira dan Arselo sudah dalam perjalanan kembali ke kota, mereka kembali tanpa Ni Eti. Ni Eti memilih untuk menghabiskan waktunya di desa sampai Safira dan Arselo menikah. Awalnya Safira tidak ingin meninggalkannya, tapi beliau kukuh ingin tinggal dan menunggu di desa. Meskipun dengan berat hati, akhirnya Safira mengalah dan membiarkan Ni Eti tinggal di sana.
"Fira, apa kamu baik-baik saja?" tanya Arselo khawatir karena sedari tadi calon istrinya itu hanya terdiam dan sesekali mengajak Divya berbicara.
"Aku sedih, El." Safira menjawab tanpa memandangnya.
"Sabar, Fira. Kau tadi ingat, kan? Ni Eti berkata, setelah pernikahan kita selesai, beliau akan tinggal bersama kita. Jadi anggap saja, saat ini beliau sedang melepas rindu dengan kampung halamannya," ucap Arselo untuk menenangkan Safira.
Safira pun memperlihatkan senyumannya pada Arselo, sebelum akhirnya ia menjawab, "Ya, mungkin kamu benar."
Setelah Safira mengutarakan isi hatinya, ia terlihat lebih baik dan tidak lagi termenung, Arselo meraih tangan Safira yang sedang menganggur dan mengecupnya.
Perlakuan Arselo itu membuat Safira terkejut, "El, apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika anak-anak melihatnya!" tegur Safira yang tidak diindahkan oleh pria yang saat ini sedang mengemudi.
"Anak-anak tidak ada yang melihatnya, Fira," elak Arselo.
Safira mendengus kesal, "Huh, siapa yang tidak melihat? Divya melihatnya, El," jawabnya sambil menunjuk ke arah Divya yang sedang tertawa padanya.
"Halo anak cantiknya Papa," ucap Arselo menggoda bayi itu.
"El, mengemudilah dengan benar!" tegur Safira mengingatkan.
Arselo menatapnya. "Iya, iya. Maaf," gumamnya.
Setelah mendapat teguran dari Safira, akhirnya Arselo pun tidak lagi menggoda Divya dan fokus dengan kemudinya sendiri.
***
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya mereka pun sampai di halaman rumah orang tua Arselo, Nyonya Sita dan Tuan Ardan. Arselo sengaja membawa Safira ke rumah orang tuanya karena khawatir terjadi sesuatu pada mereka.
"El, kenapa pulang ke rumah mama?" tanya Safira saat mobil yang ia tumpangi sudah berhenti.
"Aku khawatir pada kalian. Lebih baik, untuk sementara kalian tinggal di sini. Lagipula, mama yang menyuruhku untuk membawa kalian kemari," jawab Arselo.
"Tapi, El, aku takut merepotkan mama dan papa," lirih Safira sambil menunduk.
Arselo melepaskan seatbelt dan berbalik menatap Safira yang sedang memandangi Divya. Arselo memegang bahu Safira dan menyuruhnya untuk menghadap ke arahnya.
"Fira, tidak ada satupun orang tua yang merasa direpotkan oleh anak atau pun cucunya. Melainkan mereka akan bahagia jika kita selalu berada dekat dengan mereka," ucap Arselo.
Safira memperhatikan semua yang Arselo katakan padanya, memang ada benarnya juga, tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman karena tidak terbiasa.
"Apa kamu yakin, El?" tanya Safira sedikit ragu.
Arselo mengangguk meyakinkannya. "Kamu tidak perlu sungkan pada mama dan papa, mereka adalah orang tua terbaik yang aku miliki," ucap Arselo lagi.
Setelah Safira yakin, barulah mereka keluar dari mobil, Arselo memangku anak-anaknya di bantu pak satpam yang berjaga di depan rumah itu.
"Wa'alaikum salam," jawab Nyonya Sita seraya membukakan pintu. "Ya ampun, El, Fira. Ayo cepat masuk," ucap Nyonya Sita menyuruh mereka masuk. "Pak, tolong anak-anak tidurkan di kamar itu saja," perintah Nyonya Sita pada satpam yang membantu mengangkat Dayyan sambil menunjuk ke arah pintu kamar yang tak jauh dari mereka.
"Baik, Nyonya."
"Fira, kamu tidur di kamarku saja bersama Qirani dan Divya. Aku akan pulang ke rumahku sendiri, besok pagi akan menemui kalian lagi," ucap Arselo sambil memimpin jalan menuju kamar lamanya.
Sedangkan Tuan Ardan dan Nyonya Sita sedang sibuk mendiamkan Dayyan dan Raiyan yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Arselo dan Safira sudah sampai di kamar itu, ia segera menidurkan Qirani, begitupun dengan Safira yang menidurkan Divya.
Setelah memastikan Qirani terlelap nyenyak, barulah ia keluar kamar itu dan menuju kamar yang di tempati dua anak laki-lakinya.
"Apa mereka sudah tenang, Ma?" tanya Arselo yang melihat mamanya sedang membenarkan selimut cucunya.
"Sudah. Apa kamu akan kembali sekarang?" tanya Nyonya Sita pada Arselo.
Arselo pun mengangguk, "Iya, Ma."
Saat Arselo akan melangkah keluar rumah, tiba-tiba Safira menghentikan langkahnya. "El, tunggu!"
Arselo berbalik untuk menatap Safira. "Kenapa menyusul? Istirahatlah, kamu pasti sangat lelah juga, kan?" tanya Arselo penuh perhatian.
Safira menunduk dan memainkan jari-jarinya, ia sangat gugup dan malu. Mau berbalik, tapi sudah berada di hadapannya.
Arselo memandang Safira dengan heran, wanita itu sudah memintanya untuk menunggu, tapi dia sendiri malah menunduk dan sibuk memainkan jari-jari tangannya
Setelah menunggu beberapa menit dan Safira masih terdiam, Arselo pun melangkah dan mendekatinya.
"Cup." Arselo mengecup keningnya. "Istirahatlah, ini sudah terlalu larut," ucapnya sebelum ia benar-benar pergi dari rumah itu.
Safira mematung, ia masih sibuk dengan jantungnya yang berdetak kencang, sedangkan Nyonya Sita dan Tuan Ardan, tertawa pelan melihat tingkah laku sepasang sejoli itu.
Hingga Arselo benar-benar pergi dari sana, Safira masih mematung, Nyonya Sita pun segera menghampirinya karena khawatir. "Fira, kamu tidak apa-apa, kan?"
Safira terkejut dengan pertanyaan dari Nyonya Sita. "Akh, mmmh, Mama? Aku, aku baik-baik saja, Ma." jawabnya gugup. Safira baru ingat tadi ia menghampiri Arselo untuk menanyakan sesuatu, tapi ia kelupaan. "Ma, El mana, ya?"
Nyonya Sita menatap lekat-lekat calon menantunya itu, ia heran kenapa Safira menanyakan Arselo. "Bukankah tadi dia sudah pergi?" tanya Nyonya Sita. Safira terdiam sejenak, ia sedang mencoba mengingat sesuatu.
BLUSH
Seketika itu juga pipinya memerah, ia ingat saat Arselo mengecup keningnya. Refleks tangan Safira menyentuh keningnya, "Jadi itu bukan mimpi?" tanyanya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Nyonya Sita tersenyum simpul dan menggeleng pelan, Kukira dia tidak suka saat Arselo mengecup keningnya. Ternya dia hanya terlena saja.
"Bukan. Sekarang tidurlah, ini sudah larut malam," ucap Nyonya Sita.
Setelah itu barulah Safira pun masuk ke kamar lama Arselo untuk menyusul kedua anak perempuannya beristirahat.