
Arselo dan Safira kini sudah berada di rumah sakit tempat Arsela bekerja. Mereka terpaksa membawanya ke rumah sakit karena demam yang Qirani alami kali ini sangatlah tinggi, sehingga membuat Safira khawatir.
"Fira, sebaiknya kamu beristirahat dulu sudah dari tadi kamu berdiam diri di sana" ucap Arselo yang melihat Safira terus duduk di samping ranjang putrinya yang sedang terbaring.
"Aku gak mau jauh-jauh dari Qirani, El" jawab Safira tanpa mengalihkan pandangannya dari Qirani.
"Anak mu bukan hanya Qirani saja, Fira. Ingat dia yang masih ada dalam kandungan mu juga, jangan sampai kalian malah sakit bersama" ucap Arselo untuk mengingatkan Safira akan kehamilannya.
Mendengar ucapan Arselo, Safira pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah ranjang tambahan khusus untuk tidur orang yang menjaga pasien.
"Aku sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada Qirani, El" ucap Safira saat ia sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang tambahan itu, sedangkan Arselo bangkit dari sofa dan berjalan ke arah ranjang Qirani.
"Aku juga mengkhawatirkan keadaan kalian semua, aku tidak ingin kalian sampai sakit, dan itu akan membuat ku sedih, Fira" jawab Arselo.
Safira tidak menanggapi ucapan Arselo, dia tahu maksud dari ucapan pria yang menjadi ayah anak-anaknya itu.
"Qiran sayang, Papa harap kamu cepat sembuh, nak. Papa sangat sedih saat melihat kamu terbaring lemah seperti ini" ucap Arselo pada Qirani yang masih setia memejamkan matanya.
Suhu tubuh Qirani memang sudah tidak terlalu panas seperti saat di rumah tadi, tapi badannya begitu lesu seperti tak bertenaga.
"Mudah-mudahan besok pagi kamu sudah benar-benar sehat lagi, Qiran. Kasian Mama dan adik bayinya karena sudah khawatir pada mu" sambung Arselo lagi.
Ia pun duduk di kursi dekat ranjang yang tadi di duduki Safira sembari menggenggam tangan kecil Qirani.
***
Sepanjangan malam, Arselo terus Memegangi tangan Qirani, sehingga membuat Qirani merasa kebas dan terbangun.
"Papa" panggil Qirani
"Papa, bangun" ucap Qirani seraya mencoba untuk menarik tangannya, tapi tidak berhasil.
"Papa, bangunlah. Tangan ku mulai terasa kebas karena tertimpa tangan milikmu" keluh Qirani yang membuat Arselo terbangun seketika.
"Sayang, maafkan Papa. Papa tidak sengaja melakukannya" ucap Arselo seraya mengusap lengan Qirani dengan pelan.
"Bagaimana perasaanmu saat ini? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Arselo pada Qirani.
Qirani menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, Pa. Qiran sudah merasa lebih baik. Mama mana, Pa?" tanya Qirani saat ia tidak melihat keberadaan Safira, Mamanya.
Arselo pun bangkit dari duduknya, dan membantu Qirani agar bisa tiduran bersandar sehingga dapat membuatnya melihat keberadaan Safira.
Qirani yang melihat Mamanya masih tidur pun tidak berkata apa-apa lagi.
"Kakak butuh sesuatu?" tanya Arselo saat melihat Qirani yang terus memandangi wajah Mamanya.
"Qiran kangen Mama dan Papa" ucap Qirani tiba-tiba.
Arselo tidak mengerti dengan ucapan Qirani.
"Kenapa kakak bilang gitu? Mama dan Papa gak akan pergi kemana-mana, sayang" ujar Arselo sembari memeluk Qirani.
"Qiran tadi mimpi, Mama akan pergi ninggalin Qiran, Pa" ucap Qirani mulai menangis.
"Nggak, sayang. Gak akan ada yang ninggalin Qiran lagi. Kami akan tetap ada bersama mu" ucap Arselo memenangkan Qirani.
"Lho, kakak kenapa menangis?" tanya Safira saat ia melihat Qirani sedang berada di dalam pelukan Arselo.
"Mama" panggil Qirani dengan wajah yang sudah penuh dengan air mata.
"Apa sayang, Mama di sini" ucap Safira seraya melangkah mendekati ranjang tempat Qirani berada.
"Mama jangan pergi, Mama jangan tinggalkan kakak sama abang-abang" ucap Qirani saat ia sudah berada dalam pelukan Safira.
"Kakak kenapa bicara seperti itu? Mama tidak akan pergi kemana-mana, Mama akan tetap bersama kalian" jawab Safira.
"Benarkah? Mama janji tidak akan meninggalkanku?" tanya Qirani memastikan.
"Tentu saja, sayang. Mama janji tidak akan pernah meninggalkan kalian semua" jawab Safira dengan pasti.
setelah mendengar jawaban Safira, Qirani pun mulai terlihat tenang. Kini giliran Arselo dan Safira yang merasa heran dengan maksud dari Qirani.
"Kira-kira tadi Qirani kenapa ya, El?"
"Aku juga tidak tahu, mungkin dia hanya sedikit bermimpi buruk"
"Hmmm, ya. Mudah-mudahan saja seperti"
Setelah Qirani tenang, dokter pun datang untuk memeriksa kembali perkembangan kesehatannya. Kali ini dokter yang memeriksa Qirani bukanlah Arsela, ternyata jadwal Arsela bertugas sudah habis dan sudah digantikan oleh dokter yang lain.
"Permisi adik manis, biar om dokter periksa dulu ya" ucap dokter laki-laki itu pada Qirani.
Qirani pun menganggukkan kepalanya tanda persetujuan. Setelah Qirani memberikan izin untuknya dokter itu pun mulai menjalankan tugasnya dan memeriksa keadaan pasiennya.
"Bagaimana, dokter" tanya Safira dengan cemas. Setelah melihat dokter yang baru selesai memeriksa keadaan Qirani.
"Putri Ibu baik-baik saja, dia hanya terlalu lelah. Hal wajar jika itu terjadi, yang terpenting adalah penanganan yang tepat supaya tidak terjadi suatu hal yang buruk" ujar dokter itu.
Arselo dan Safira pun merasa sedikit lega setelah mendengar penuturan dokter itu.
"Kira-kira kapan kami bisa pulang, dok?" tanya Safira yang sebenarnya sangat tidak betah jika harus berlama-lama berada di kawasan rumah sakit.
"Untuk saat ini saya belum bisa memastikannya, kami harus terus memantau perkembangan kesehatannya secara berkala. Tapi mungkin tidak akan lama, hanya sekitar dua hari saja, Bu" jawab dokter itu.
"Oh begitu, baiklah. Kami mengerti, dok. Terimakasih banyak" ucap Arselo pada dokter itu.
"Sama-sama, pak. Kalau begitu saya pamit undur diri dulu, karena harus memeriksa pasien yang lain" ucap dokter itu sebelum dia pergi dari ruangan Qirani.
"Baik, dok. Silahkan" jawab Arselo membiarkan dokter itu pergi dari sana.
Setelah kepergian dokter dan perawat yang bertugas untuk mengecek kesehatan para pasien itu, Arselo pun izin pamit keluar untuk mencari makanan pada Safira.
"Apa ada yang kami inginkan lagi, Fira?" tanya Arselo yang sedikit heran pada Safira, karena hanya meminta satu porsi ketoprak saja untuk sarapannya.
"Iya, El. Saat ini aku hanya menginginkan itu saja" jawab Safira.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Kalian baik-baiklah saat berada di sini" pesan Arselo sebelum beliau meninggalkan Safira dan Qirani.
Setelah kepergian Arselo, Safira pun hanya diam dan sesekali menjawab pertanyaan dari Putri kecilnya.